DEMOCRAZY.ID – Tiga hari setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan Israel-AS, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menuduh bahwa Khamenei pernah dua kali mencoba membunuhnya.
Trump bahkan menyatakan dirinya lebih dulu ’menghabisi’ Khamenei.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat berbicara melalui telepon dengan Jonathan Karl, Kepala Koresponden Washington di ABC News, pada Minggu malam waktu AS.
“Presiden Trump mengatakan kepada saya soal kematian Ayatollah Khamene ‘Saya mendapatkannya sebelum dia mendapatkan saya. Mereka mencoba dua kali. Tapi saya yang lebih dulu,’” tulis Karl dalam unggahannya di X dikutip dari laman NDTV, Selasa 3 Maret 2026.
Ucapan Trump tersebut merujuk pada keyakinan intelijen AS tentang adanya dugaan rencana pembunuhan terhadap Trump pada 2024.
Dalam percakapan telepon lain pada malam yang sama, Trump kembali menyombongkan diri karena berhasil lebih dulu menyingkirkan pemimpin tertinggi Iran tersebut, yang disebutnya sempat berupaya membunuhnya.
“Saya mendapatkannya sebelum dia mendapatkan saya. Mereka mencoba dua kali. Tapi saya yang lebih dulu,” kata Trump.
Pernyataan itu kembali dikaitkan dengan dugaan plot pembunuhan terhadap dirinya pada 2024 yang diyakini oleh intelijen Amerika Serikat.
Sebelum dikonfirmasi pemerintah Iran, pada Sabtu malam 28 Februari 2026, Trump sempat mengumumkan kematian pemimpin tertinggi Iran itu lewat media sosialmya, Truth.
Dalam unggahan itu Trump menyebut Khamenei sebagai salah satu orang paling jahat dalam sejarah.
“Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi seluruh warga Amerika yang hebat, serta orang-orang dari berbagai negara di dunia yang telah dibunuh atau dilukai oleh Khamenei dan kelompok preman haus darahnya,” tulis Trump.
Ia juga menambahkan bahwa Khamenei tidak mampu menghindari sistem intelijen dan pelacakan canggih milik AS.
Menurut Trump, dengan kerja sama erat bersama Israel, tidak ada yang bisa dilakukan Khamenei maupun para pemimpin lain yang tewas bersamanya untuk menyelamatkan diri.
Trump meyakini momen ini sebagai peluang terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka. Ia pun menyerukan agar rakyat Iran bangkit dan menggulingkan rezim yang berkuasa.
Pada 2024, Trump menghadapi dua dugaan percobaan pembunuhan yang terpisah.
Pada Juli, ia terkena tembakan di bagian telinga saat menghadiri rapat umum di Pennsylvania.
Kemudian pada September, seorang pria ditangkap karena mengarahkan senapan ke arah Trump saat ia sedang bermain golf di lapangannya di West Palm Beach.
Beberapa bulan kemudian, Farhad Shakeri, warga negara Afghanistan yang dideportasi dari AS pada 2008, didakwa terkait dugaan rencana Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) untuk membunuh Donald Trump.
Departemen Kehakiman AS menyebut Farhad Shakeri sebagai “aset Iran” yang ditugaskan oleh rezim Iran untuk merancang pembunuhan terhadap Trump.
Shakeri, 51 tahun, dilaporkan mengatakan kepada aparat penegak hukum bahwa ia tidak berniat mengajukan rencana pembunuhan Trump dalam tenggat waktu yang ditetapkan IRGC, menurut pernyataan resmi. Iran membantah tuduhan tersebut.
Sumber: VIVA