DEMOCRAZY.ID – Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel mengguncang fondasi kekuasaan Republik Islam Iran.
Untuk pertama kalinya sejak 1989, Teheran menghadapi transisi kepemimpinan di tengah situasi perang aktif, krisis keamanan, dan ketidakpastian politik.
Jika pada 1989 proses suksesi berlangsung kurang dari sehari setelah wafatnya Ruhollah Khomeini, kali ini situasinya jauh lebih kompleks.
Ali Khamenei tidak meninggalkan pewaris resmi.
Serangan militer yang masih berlangsung membuat proses pemilihan pemimpin tertinggi baru berpotensi berjalan lebih lama dan penuh ketegangan.
Berikut gambaran lengkap siapa yang kini memegang kendali Iran, siapa yang berpeluang menggantikan Khamenei, dan bagaimana arah politik negara tersebut ke depan.
Berdasarkan konstitusi Iran, kekuasaan sementara dipegang oleh dewan kepemimpinan tiga orang sampai pemimpin tertinggi baru pengganti Khamenein ditunjuk.
Dewan tersebut terdiri dari:
Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa rezim telah “mempersiapkan diri untuk momen seperti ini” dan “merencanakan semua skenario.”
Namun, situasi di lapangan jauh dari stabil.
Israel mengklaim mayoritas pimpinan militer senior Iran tewas dalam serangan terbaru, termasuk Kepala Staf Angkatan Bersenjata Abdolrahim Mousavi, Komandan Garda Revolusi Mohammad Pakpour, serta Sekretaris Dewan Pertahanan Ali Shamkhani.
Hilangnya tokoh-tokoh kunci ini memperberat proses konsolidasi kekuasaan.
Pengganti Khamenei akan dipilih oleh Assembly of Experts (Majelis Ahli), badan beranggotakan 88 ulama senior.
Majelis ini dipilih rakyat setiap delapan tahun, tetapi seluruh anggotanya harus lolos verifikasi dari Guardian Council (Dewan Penjaga), lembaga beranggotakan 12 ahli hukum yang memiliki kewenangan luas dalam menyaring kandidat politik dan menilai kesesuaian hukum dengan syariah.
Dalam praktiknya, Dewan Penjaga dikenal sering mendiskualifikasi kandidat, termasuk ratusan pendaftar dalam pemilu 2021.
Para analis memperkirakan Majelis Ahli kemungkinan menunda sidang resmi sampai operasi militer AS–Israel mereda demi menghindari risiko keamanan tambahan.
Beberapa nama langsung mengemuka:
Putra kedua Khamenei ini memiliki jaringan kuat di Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dan Basij. Namun, suksesi ayah-ke-anak berisiko memunculkan kesan dinasti, sesuatu yang bertentangan dengan semangat revolusi 1979.
Anggota dewan transisi dan wakil ketua Majelis Ahli ini dinilai sebagai kandidat kuat. Ia juga duduk di Dewan Penjaga dan memimpin sistem seminari Iran.
Figur dari sayap ulama paling konservatif, juga anggota Majelis Ahli.
Cucu Khomeini yang dikenal lebih moderat dibanding sebagian tokoh garis keras.
Meski demikian, kejutan tetap mungkin terjadi.
Iran bisa saja menunjuk figur yang lebih muda dan relatif tak dikenal, atau bahkan membentuk kepemimpinan kolektif alih-alih satu pemimpin tunggal.
Presiden AS Donald Trump menyerukan rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintah mereka.
Namun sejauh ini belum terlihat gelombang demonstrasi nasional yang mampu mengguncang fondasi rezim.
Tokoh oposisi di pengasingan seperti Reza Pahlavi disebut-sebut sebagai figur alternatif.
Namun para analis menilai tidak ada kekuatan politik atau militer yang terorganisir dan siap langsung mengambil alih.
Tidak ada tanda pembelotan besar di tubuh militer atau elite keamanan.
Dalam praktiknya, banyak pengamat menilai kekuasaan saat ini kemungkinan besar dijalankan di balik layar oleh IRGC.
Sebagai institusi yang hanya bertanggung jawab kepada pemimpin tertinggi, IRGC memiliki kekuatan militer, intelijen, serta pengaruh ekonomi luas di Iran.
Mereka mengawasi Basij, pasukan relawan yang bertugas menjaga stabilitas domestik dan moral publik.
Dengan personel mencapai 190.000 orang dan kendali atas ekonomi serta intelijen, IRGC adalah tulang punggung yang menjaga agar rezim tidak runtuh dari dalam.
Di tengah krisis terbesar dalam sejarah modern Republik Islam, rezim Iran bergerak cepat untuk mencegah fragmentasi internal dan menampilkan kesan kesinambungan.
Namun, apakah struktur itu cukup kuat menghadapi tekanan eksternal dan potensi gejolak internal, masih menjadi pertanyaan terbuka.
Sumber: Tribun