DEMOCRAZY.ID – Pernyataan tokoh agama asal Jawa Tengah (Jateng), Kiai Ahmad Nuryanto, soal bencana yang melanda Aceh, viral di media sosial.
Dalam potongan video yang diunggah akun Instagram @lambeturah, ia mengaitkan bencana alam banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, dengan isu permintaan kemerdekaan.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena menyentuh tiga isu sensitif sekaligus, bencana alam, keimanan, dan identitas daerah.
Sebelum menyinggung hal tersebut Nuryanto lebih dulu menegaskan bahwa terdapat sejumlah sejara yang dirubah atau dibelokkan.
Menurutnya, para pejuang yang merebut kemerdekaan untuk RI adalah para habaib.
Julukan untuk kelompok yang mengaku memiliki hubungan darah dengan Nabi Muhammad SAW.
“Kau biarkan kesesatan, kau biarkan pembelokan sejarah, pejuang-pejuang yang memerdekakan Indonesia adalah para habaib, kau biarkan kesesatan bangsamu, sama halnya kau biarkan kehancuran,” ucapnya.
“Kata gusti Allah sama. Aceh, Kota Serambi Mekah, kurang hebat apa (Aceh) tapi Allah paling laknat hancur itu, kenapa, Ingin merdeka aja. Paling enak emang di Indonesia,” sambung Nuryanto.
Reaksi keras pun bermunculan. Pada kolom komentar banyak warganet menilai bencana merupakan fenomena alam yang tidak pantas dijadikan alat untuk menyudutkan kelompok atau wilayah tertentu.
Sebagian warganet juga menyoroti potensi dampak sosial dari pernyataan semacam itu.
Generalisasi yang mengaitkan bencana dengan sikap politik suatu daerah dinilai berisiko melemahkan rasa kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk.
“Aneh banget ya sesama Islam saling menyindir hal-hal yg seharusnya ga dilakukan,” komentar salah seorang warganet.
“Padahal pada saat Indonesia di jajah dan di masa perjuangan kemerdekaan, sultan aceh sangat berjasa bahkan menghibahkan harta kekayaan aceh untuk Indonesia,” tulis warganet.
“Ceramah kok ga ada empati sama sekali, Astagfirullah,” kata warganet.
[VIDEO]
Baca JugaLihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh OFFICIAL LAMBE TURAH ENTRNT (@lambe_turah)
Sumber: VIVA