DEMOCRAZY.ID – Nama Raffi Ahmad kembali menjadi sorotan setelah disebut dalam acara stand up comedy “Mens Rea” yang tayang di Netflix.
Penyebutan tersebut muncul dalam interaksi antara Pandji Pragiwaksono dan seorang penonton, sebagai bagian dari kritik sosial yang sedang dibangun di atas panggung.
Dalam materi tersebut, Pandji mengangkat isu pencucian uang (money laundering) yang dikaitkan dengan sosok jenderal berpangkat tinggi.
Pada satu momen, penonton menyebut nama Raffi Ahmad sebagai ilustrasi figur publik dengan kapasitas bisnis besar.
Penyebutan ini disampaikan dalam konteks komedi, bukan sebagai tuduhan langsung.
Meski demikian, potongan adegan itu cepat menyebar di media sosial dan memicu perhatian publik.
Fokus pembahasan pun bergeser ke skala dan struktur bisnis Raffi Ahmad.
Tak lama berselang, beredar sebuah infografis berisi daftar 35 perusahaan milik Raffi Ahmad yang dirilis oleh Project Multatuli pada tahun 2024.
Project Multatuli adalah sebuah inisiatif jurnalisme untuk melayani yang dipinggirkan demi mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan.
Project Multatuli melayani publik dengan mengangkat suara-suara yang dipinggirkan, komunitas-komunitas yang diabaikan, dan isu-isu mendasar yang disisihkan.
Dalam laporannya, Project Multatuli merangkum perusahaan yang dikaitkan dengan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina melalui brand RANS, yang digunakan sebagai identitas bisnis di berbagai sektor.
Data tersebut bersumber dari Direktorat Jenderal AHU Kemenkumham dan menunjukkan bahwa 35 perusahaan tersebut didirikan secara bertahap sepanjang 2020-2024.
Berdasarkan penelusuran Project Multatuli, berikut adalah daftar 35 perusahaan milik Raffi Ahmad, disusun sesuai tahun pendiriannya:
Di antara puluhan perusahaan yang terafiliasi dengan Raffi Ahmad, Rans Entertainment menjadi entitas yang paling dikenal publik.
Perusahaan ini berperan sebagai poros utama yang menghubungkan berbagai lini bisnis Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, sekaligus menjadi wajah korporasi yang paling sering ditampilkan ke ruang publik.
Dalam berbagai kesempatan, mulai dari peresmian kantor, konferensi pers, hingga wawancara media, Raffi dan Nagita hampir selalu merujuk aktivitas bisnisnya pada Rans Entertainment.
Pola komunikasi ini membuat publik mengenal RANS sebagai satu kesatuan besar, meskipun di belakangnya terdapat banyak perusahaan dengan fungsi dan peran berbeda.
Secara historis, nama Rans Entertainment sudah digunakan sejak 2015, beriringan dengan dibangunnya kanal YouTube yang menjadi fondasi awal bisnis konten mereka.
Namun, secara hukum, merek ini baru tercatat di Pangkalan Data Kekayaan Intelektual (PDKI) pada 2019 atas nama PT Rans Entertainmen Indonesia.
Bisnis utama Rans Entertainment bergerak di produksi dan distribusi konten hiburan, baik melalui media sosial maupun televisi.
Dari konten tersebut, RANS kemudian mengembangkan berbagai format turunan, seperti event dan kompetisi.
Program seperti The Next Influencer, Koplo Superstar, Superstar Knockout, hingga festival dan turnamen selebriti menunjukkan bagaimana konten dijadikan pintu masuk menuju ekosistem bisnis yang lebih luas.
Pada Juni 2024, Raffi Ahmad mengumumkan rencana membawa Rans Entertainment ke Bursa Efek Indonesia.
Dalam pernyataan tersebut, ia menyebut valuasi perusahaan telah mencapai Rp2,7 triliun, yang menandai posisi RANS sebagai salah satu pemain besar di industri hiburan digital.
erdasarkan akta perusahaan yang diakses Project Multatuli pada Juli 2024, PT Rans Entertainmen Indonesia memiliki modal dasar Rp161,348 miliar dengan modal disetor Rp40,337 miliar.
Dari sisi kepemilikan, Raffi Ahmad menjadi pemegang saham pengendali dengan 78,6% saham dan menjabat sebagai komisaris utama.
Nagita Slavina menjabat direktur utama dengan kepemilikan 1,2% saham, sementara Roofi Ardianto, pengacara sekaligus sahabat Raffi, memiliki 0,01% saham dan menjabat direktur.
Nama lain yang menonjol adalah Dony Oskaria, pemilik 6,8% saham, yang kerap disebut Raffi sebagai figur penting dalam membangun Rans Entertainment, khususnya dari sisi tata kelola dan jaringan bisnis.
Dony memiliki latar belakang panjang di dunia korporasi, mulai dari CT Corp, Bank Mega, hingga Trans Studio Mall, serta pernah menjadi anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) pada 2016–2020.
Dony Oskaria saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) sejak Oktober 2025 dan juga menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Keterkaitan antara RANS dan InJourney terlihat dalam program The Dudas-1, produksi Rans Entertainment, yang mengunjungi sejumlah aset negara, seperti Candi Borobudur, Bandara Internasional Yogyakarta, dan Sirkuit Mandalika.
Selain Dony, Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Jokowi dan Ketua Umum PSI, tercatat memiliki 1,1% saham.
Ada pula Sutanto Hartono, Wakil Direktur EMTK sekaligus Direktur Utama SCMA, dengan kepemilikan 1,4% saham, serta Hikmat Janika, birokrat RSUD Pasar Minggu, yang memiliki 0,8% saham.
Kepemilikan Rans Entertainment juga melibatkan dua entitas korporasi, yakni PT Indonesia Entertainmen Grup dengan 9% saham dan PT Ekonomi Baru Investasi Teknologi (EBIT) sebesar 0,77% saham.
PT Indonesia Entertainmen Grup merupakan anak usaha SCMA di bawah EMTK, sementara PT EBIT adalah anak perusahaan PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA), pemilik klub Bali United.
Meski porsi saham EBIT relatif kecil secara nominal, laporan keuangan menunjukkan penyertaan modal sebesar Rp16 miliar.
Melalui PT Rans Entertainmen Indonesia, Raffi Ahmad kemudian membangun berbagai anak perusahaan dan usaha patungan di sektor media, hiburan, kuliner, olahraga, hingga jaringan digital.
Penjelasan ini memberikan gambaran besar mengenai struktur dan skala bisnis RANS, sementara penelusuran detail atas masing-masing perusahaan telah diurai secara mendalam oleh Project Multatuli.
Sumber: Inilah