DEMOCRAZY.ID – Iran mengambil langkah diplomatik dengan mengajukan proposal perdamaian berisi 14 poin untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Proposal ini mencakup sejumlah tuntutan penting, mulai dari ganti rugi hingga pengaturan baru jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Dokumen tersebut telah diserahkan kepada Pakistan pada 30 April 2026 sebagai bagian dari upaya diplomasi yang sedang berlangsung.
Tasnim News Agency juga memberitakan soal Amerika Serikat sebelumnya menawarkan gencatan senjata selama dua bulan. Namun, Teheran menolak pendekatan tersebut.
Iran justru mendorong penyelesaian seluruh isu dalam waktu 30 hari. Tujuannya jelas: mengakhiri konflik secara menyeluruh, bukan sekadar memperpanjang masa jeda pertempuran.
Dalam dokumen tersebut, Iran mengajukan sejumlah poin krusial, antara lain:
Selain itu, Iran juga menyoroti pentingnya normalisasi aktivitas di Selat Hormuz. Teheran mendesak penghentian blokade dan menawarkan “mekanisme baru” untuk mengatur lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut.
Ketegangan meningkat sejak 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 3.000 orang.
Gencatan senjata sempat diumumkan pada 8 April, tetapi belum menghasilkan kesepakatan damai permanen.
Upaya diplomasi terus berjalan di Islamabad, Pakistan. Namun hingga kini, perundingan belum mencapai titik temu.
Meski belum ada laporan serangan lanjutan dari kedua pihak, situasi tetap tegang.
Amerika Serikat disebut mulai melakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran, memperumit proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Mediator internasional pun masih berupaya membuka jalan bagi putaran baru pembicaraan, dengan harapan konflik ini bisa segera berakhir secara permanen.
Sumber: Kompas