DEMOCRAZY.ID – Hampir di seluruh dunia pasti pernah terjadi kecelakaan kereta api, termasuk di Indonesia.
Jenis kecelakaannya sangat beragam, mulai dari infrastruktur hingga kesalahan manusia.
Terbaru, kecelakaan antara commuter line dan kereta api jarak jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek di Bekasi, Jawa Barat.
Kecelakaan yang mengakibatkan 15 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka, meninggalkan duka yang begitu dalam.
Peristiwa yang sama juga pernah dialami di berbagai belahan dunia dan mengakibatkan puluhan orang kehilangan orang yang dicinta:
Pada 31 Oktober 2019, sebuah kereta yang membawa ratusan para jemaah haji menuju pertemuan keagamaan mengalami kecelakaan maut di dekat Lahore.
Kecelakaan tragis yang mengakibatkan sedikitnya 74 orang tewas itu disebabkan oleh ledakan tabung gas yang digunakan salah satu penumpang kereta untuk memasak sarapan di dalam gerbong.
Ledakan yang begitu kuat dan membuat kobaran api menyebar ke tiga gerbong lainnya.
Rata-rata korban yang meninggal dunia merupakan penumpang yang panik dan nekat melompat keluar dari kereta yang sedang terbakar.
Ribuan warga India datang untuk menyaksikan perayaan Dusshera, sebuah festival Hindu yang memperingati kemenangan dewa kebaikan atas roh jahat.
Sayang, festival yang digelar secara meriah itu berakhir tragis setelah sebuah kereta api yang melaju kencang, terpaksa menabrak ratusan pengunjung festival yang berdiri di sepanjang rel.
Menurut informasi, saat kejadian, ratusan penonton festival sedang fokus melihat proses pembakaran patung dan tidak mendengar suara sinyal kereta api yang akan melaju.
Panitia acara sebenarnya sudah mengimbau para penonton untuk menjauh dari area perlintasan kereta, tetapi karena antusiasme warga yang begitu besar, imbauan tersebut diabaikan secara massal.
Dengan jarak yang begitu dekat, membuat kereta tidak bisa menghentikan laju dan terpaksa menghantam ratusan warga yang sedang menikmati acara.
Lebih dari 60 orang dilaporkan tewas dan sekitar 100 orang lainnya luka-luka.
Kecelakaan kereta yang terjadi di Taiwan pada 2 April 2021, dinobatkan sebagai kecelakaan kereta terburuk dalam 3 dekade terakhir.
Kereta 408 yang mengangkut ratusan orang dari ibu kota Taipei ke Taitung, mengalami kecelakaan besar yang disebabkan oleh sebuah truk yang terparkir secara tidak benar hingga masuk ke jalur rel kereta api.
Menurut informasi, kereta 408 tersebut merupakan salah satu kereta tercepat yang dapat melaju hingga kecepatan 130 km/jam.
Dengan kecepatan tersebut, ditambah dengan suasana terowongan yang gelap, membuat masinis tidak bisa berbuat banyak saat melihat ada sebuah truk yang menutupi area jalannya.
Hasilnya, lebih dari 50 orang, termasuk masinis kereta meninggal dunia dan ratusan orang mengalami luka-luka ringan hingga berat.
Pada 2 Maret 2023, terjadi sebuah insiden tabrakan maut antara kereta penumpang yang mengangkut lebih dari 350 penumpang dengan kereta barang di luar kota Larissa, Yunani bagian tengah.
Kecelakaan itu membuat satu gerbong hancur total dan mengakibatkan 32 penumpang meninggal dunia dan lebih dari 80 penumpang luka-luka.
Kepala Stasiun yang bertugas di stasiun terdekat dengan lokasi akhirnya ditangkap oleh pihak berwenang Yunani.
Peristiwa gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 silam, tidak hanya meninggalkan duka yang dalam bagi warga Indonesia, tetapi juga sejumlah negara terdampak lainnya, termasuk Sri Lanka.
Queen of the Sea, nama kereta yang melaju di jalur kereta dekat pantai barat Sri Lanka, kala itu tengah membawa sekitar 1.700 penumpang yang berdesakan dan bergantungan ke Kota Galle.
Lonjakan jumlah penumpang itu disebabkan oleh momen hari libur akhir pekan dan hari Bulan Purnama yang merupakan hari spesial bagi umat Budha.
Dua jam setelah meninggalkan Stasiun Benteng Kolombo, kereta tersebut diterjang oleh gelombang raksasa yang melemparkan gerbong-gerbong kereta keluar dari rel.
Menurut laporan yang beredar, sedikitnya ada 802 orang yang tewas dan ratusan penumpang lainnya belum ditemukan dalam peristiwa tersebut.
Menurut petugas medis yang bertugas di sana, hanya sedikit penumpang yang lolos hidup, antara 10 hingga 20 orang saja.
Pada 10 Maret 2022, kereta api di Republik Demokratik Kongo tergelincir dan membuat tujuh dari 15 gerbong jatuh ke jurang yang berada di dekat lokasi kejadian.
Peristiwa ini mengakibatkan 61 orang meninggal dunia dan puluhan penumpang lainnya luka-luka.
Ironisnya, kereta yang mengalami kecelakaan tersebut itu mengangkut ratusan “penumpang gelap”. Karena keterbatasan jumlah armada, banyak warga setempat rela naik dan menjadi penumpang gelap untuk bisa bepergian jarak jauh.
Tragedi Bintaro 1987 menjadi kecelakaan kereta api terdahsyat dalam sejarah Indonesia.
Peristiwa ini terjadi pada Senin pagi, 19 Oktober 1987, yang melibatkan tabrakan “adu banteng” antara dua kereta api penumpang.
Ada tiga jalur yang aktif dan dilalui oleh tiga kereta berbeda, KA 225 di Jalur 1, KA Indocement di Jalur 2, dan Gerbong barang tanpa lokomotif di Jalur 3.
Berdasarkan jadwal, seharusnya KA 225 melaju secara bersilangan (tukar posisi jalur) dengan KA 220 Patas.
Pemimpin Perjalanan Kereta Api (PPKA) Stasiun Sudimara, Djamhari, telah memerintahkan masinis KA 225 untuk memindahkan kereta ke Jalur 1, tetapi ia salah tangkap dan mengartikannya sebagai tanda untuk melanjutkan perjalanan.
Lima menit setelah KA 225 berangkat, petugas dari Stasiun Kebayoran Lama mendapat kabar bahwa KA 220 juga berangkat di jalur yang sama menuju Sudimara.
Petugas sempat mencoba mengejar KA 225 sambil mengibarkan bendera merah, tetapi tidak bisa karena kereta sudah melaju dengan kecepatan 50 km/jam.
Kecelakaan akhirnya tidak dapat dihindari. Sebanyak 139 orang tewas dan 254 lainnya luka-luka.
Petugas yang bertugas mendapat sanksi hukum, Slamet Suradio (Masinis KA 225) divonis 5 tahun penjara, Adung Syafei (Kondektur KA 225) divonis 2 tahun 6 bulan penjara, dan Umrihadi (Petugas Stasiun Kebayoran) divonis 10 bulan penjara.
Sumber: Inilah