Selat Lombok Geger! Kapal Tanker Raksasa Iran Tiba-Tiba Muncul, Alarm Bahaya Berbunyi?

DEMOCRAZY.ID – Kapal tanker raksasa atau supertanker milik Iran dikabarkan memasuki perairan Selat Lombok di antara Pulau Bali dan Pulau Lombok, Senin, (4/5/2026).

Informasi ini disampaikan oleh Tanker Trackers, sebuah perusahaan maritim yang melacak pengiriman minyak mentah.

“24 jam telah berlalu sejak supertanker NITC VLCC yang mengangkut minyak mentah Iran memasuki Selat Lombok di Indonesia. Sekarang, tanker kedua yang bernama DERYA (9569700) melakukan hal yang sama,” kata Tanker Trackers lewat akun X miliknya, Senin.

“DERYA berupaya mengirimkan 1,88 juta barel minyak ke India pada pertengahan April saat periode keringanan sanksi, tetapi hal itu tidak bisa terjadi. Kami melihat kapal itu terus menuju ke selatan setelah kapal serupa di area itu diarahkan kembali Iran oleh Angkatan Laut Amerika Serikat.”

Menurut perusahaan itu, DERYA sedang berlayar menuju titik tujuannya di Kepulauan Riau.

👇👇

Kapal kedua yang masuki Selat Lombok

Sebelum DERYA, ada kapal tanker besar Iran yang sudah memasuki Selat Hormuz, yakni National Iranian Tanker Company (NITC) VLCC.

Tanker Trackers menyebut kapal itu membawa lebih dari 1,9 juta barel minyak mentah seharga hampir Rp3,8 triliun.

Kapal itu berhasil menembus blokade AS di Selat Hormuz.

Kapal tersebut teridentifikasi sebagai “HUGE” (9357183) dan terakhir kali terlihat di lepas pantai Sri Lankan lebih dari sepekan yang lalu.

Tanker itu dikabarkan tidak mentransmisikan sinyal sistem identifikasi otomatis sejak 20 Maret 2026 ketika bertolak dari Selat Malaka untuk menuju ke Iran.

AS: Iran rugi Rp80 triliun karena blokade

Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) atau yang biasa disebut Pentagon memperkirakan Iran telah kehilangan hampir 5 miliar dolar AS (sekitar Rp 80 triliun) pendapatan minyak karena blokade AS di Teluk Oman (termasuk Selat Hormuz).

Blokade tersebut menyebabkan kapal-kapal Iran terutama kapal pengangkut minyak tak bisa meninggalkan Iran.

Dikutip dari Axios, Senin (4/5/2026), blokade menggunakan kapal perang AS tersebut adalah alat tawar-menawar paling signifikan Presiden AS Donald Trump untuk menegosiasikan pengakhiran perang dengan Iran.

Pentagon ingin menekankan dampaknya karena perundingan perdamaian terhenti dan dimulai kembali.

“Sejak blokade dimulai pada 13 April, militer AS telah mengalihkan lebih dari 40 kapal yang mencoba melewati blokade dengan membawa minyak dan barang selundupan lainnya, ” kata para pejabat Pentagon.

  • Secara total, 31 kapal tanker yang bermuatan 53 juta barel minyak Iran “terjebak di Teluk” dan memiliki nilai setidaknya $4,8 miliar.
  • Dua kapal diantaranya telah disita oleh AS.
  • Karena tidak mampu mengisi kapal tanker baru seiring dengan kapasitas penyimpanan di darat yang sudah penuh, Iran mulai menggunakan kapal tanker yang lebih tua sebagai penyimpanan terapung.
  • Beberapa kapal tanker mengambil “rute yang lebih mahal dan lebih panjang untuk mengirimkan minyak ke China karena takut akan pencegahan maritim AS,” kata para pejabat.
  • Kapal tanker Iran dikabarkan berhasil menghindari blokade militer Amerika Serikat (AS), menurut laporan TankerTrackers, Minggu (3/5/2026) meski mengambil rute yang jauh untuk menghindari blokade AS.
  • Kapal tanker super milik Iran tersebut membawa 1,9 juta barel minyak mentah senilai hampir 220 juta dollar AS (sekitar Rp 3,8 triliun).

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya