Raja Juli, Raja Ngeles dan Raja Bohong!
TABIAT pejabat dari dulu sama saja, jika ada masalah bukan hadir paling depan bertanggung jawab, melainkan malah ngeles, cari kambing hitam dan lari dari kenyataan. Pola ini terjadi pada Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam menghadapi bencana banjir dan longsor di ujung Sumatera.
Korban bencana banjir bandang di Pulau Sumatera terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendata pada Minggu (7/12/2025) per pukul 20.00 WIB mencatat 940 orang meninggal dunia dan 276 orang hilang dan 4,2Rb jiwa terluka.
Sementara kerusakan infrastruktur mencapai 1.300 fasilitas umum rusak, 420 rumah ibadah, 199 fasilitas kesehatan, 234 gedung.
Kemudian, 697 fasilitas pendidikan, dan 405 jembatan terdampak. Sementara itu, sebanyak 105.900 rumah mengalami kerusakan.
Penderitaan masyarakat di 3 provinsi belum berakhir. Para pejabat bergerak seperlunya. Ada yang sigap, ada lelet lalu dipecat, bahkan ada yang malah bikin puisi. Ada pula yang sibuk ngeles dan bikin alibi. Padahal ada ribuan orang meninggal dunia dan jutaan lainnya hidup nestapa.
Bencana kemanusiaan ini jelas dipicu oleh penggundulan hutan yang dilakukan oleh tangan-tangan setan. Mereka membabi buta menebang hutan demi menumpuk kekayaan. Tak merasa berdosa meski sebelumnya mereka tak pernah menanamnya. Gelondongan kayu berusia ratusan tahun hanyut, seakan ingin menunjukkan kepada para penjarah hutan tentang kelakuan mereka yang serakah.
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni malah bikin ulah, bukannya segera menangkap para penjarah hutan, tetapi justru sibuk ngeles dan bikin bantahan. Raja Juli menuduh banjir terjadi karena cuaca dan rusaknya aliran sungai.
Raja Juli berteori bahwa adanya siklus tropis senyar yang membuat cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi serta ada juga bentuk geomorfologi DAS (Daerah Aliran Sungai), serta karena ada kerusakan pada daerah tangkapan air atau DTA.
Khotbah Raja Juli di depan anggota Komisi IV DPR RI inilah yang membuat anggota dewan murka hingga sang menteri diminta mundur.
Raja Juli tak hanya ngeles soal penyebab banjir. Ia juga berbohong soal angka deforestasi hutan. Menurut ceramahnya, angka penggundulan hutan berkurang pada tahun ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
“Kondisi deforestasi hutan kita pada hingga September, 2025, saya tegaskan sampai bulan September menurun sebesar 49.700 hektare jika dibandingkan tahun 2024. Atau menurun 23,01%,” kata politisi PSI itu.
“Di Aceh menurun sebesar 10,04%. Di Sumut menurun sampai 13,98%, dan di Sumbar turun 14% jika dibandingkan dengan 2024,” ujarnya.
Padahal faktanya menurut Kajian Politik Merah Putih disebutkan deforestasi di Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh luasnya meningkat hingga 5 kali lipat dari tahun 2024.
Di Provinsi Sumatera Barat tahun 2024 deforestasi ada 6.360 hektar dan pada tahun 2025 naik menjadi 28.000 hektar.
Di Provinsi Sumatera Utara tahun 2024, deforestasi ada 7.300 hektar dan pada tahun 2025 meningkat menjadi 27.854 hektar.
Di provinsi Aceh tahun 2024, deforestasi 8.962 hektar tahun 2025. meningkat menjadi 27.854 hektar
Apa yang disampaikan Raja Juli adalah upaya untuk menutupi kejahatan deforestasi brutal dan liar.
Raja Juli jelas tidak mampu menuntaskan masalah pembalakan liar yang terjadi selama ini.
Raja Juli telah mengeluarkan izin pelepasan kawasan hutan di Tapanuli Selatan, yang tidak sejalan dengan pernyataannys yang menyatakan tidak akan mengeluarkan izin baru.
Raja Juli tidak fokus pada penanganan bencana di tiga provinsi terdampak dan tidak memiliki rencana konkret untuk mengatasi kerusakan hutan.
Penurunan deforestasi pada 2025, tidak sesuai dengan kondisi lapangan.
Raja Juli tidak memiliki pemahaman yang memadai mengenai persoalan kehutanan.
Begitulah Raja Juli anak muda yang mendapat jabatan secara instan, hari ini mendapat ujian, apakah kompeten atau gagap.
Begitulah Raja Juli, anak yang cuma pintar ngomong, mendapat jabatan bukan karena keahlian, tetapi karena kedekatan dengan penguasa.
Begitulah Raja Juli, menteri titipan Jokowi yang diminta mundur oleh anggota parlemen dan masyarakat, tetapi sama sekali bergeming seakan tak terjadi apa-apa.
Prabowo harus segera merespons keinginan DPR memecat Raja Juli karena dia memang tidak bisa bekerja.
Dan yang paling penting, Raja Juli bukan pendukung Anda, wahai Presiden. Ia pendukung anak Jokowi. Bersihkan gedibal kabinet secepatnya.