DEMOCRAZY.ID – Di ruang berpendingin yang dipenuhi guru, pejabat kementerian, dan ratusan siswa yang duduk rapi sambil menahan rasa ingin tahu, Presiden Prabowo Subianto membuka sambutannya dengan salam panjang yang menggema ke seluruh auditorium.
“Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat siang. Shalom. Om swastiastu, salam kebajikan,” suaranya mengalir, ringan, formal, dan hampir rutin—hingga akhirnya tidak rutin lagi.
Begitu memasuki bagian awal pidatonya, Prabowo mulai menyebut nama demi nama menteri, pejabat daerah, hingga wakil rakyat.
Tepuk tangan terdengar beberapa kali, terutama ketika ia menyapa para siswa dan guru yang mengikuti acara melalui konferensi video.
Semua berlangsung tertib—sampai tiba-tiba Presiden berhenti.
“Yang benar yang mana? Pembelajaran digitalisasi atau digitalisasi pembelajaran?” tanyanya sambil menoleh kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Muti’.
Ruangan mendadak penuh tawa kecil. Kamera-kamera televisi menyorot momen itu, menangkap ekspresi Prabowo yang setengah geli, setengah bingung.
Lalu ia menambahkan, dengan nada yang lebih spontan dan jauh dari teks yang dibacakannya:
“Nah ini… siapa yang bikin pidato saya nih?”
Tawa pun pecah, lebih lebar kali ini. Para guru menunduk sambil senyum-senyum.
Para menteri saling menatap, sebagian mengangkat alis, sebagian lainnya tertawa dalam diam.
Di baris belakang, beberapa staf terlihat menundukkan kepala—entah karena malu, takut disorot kamera, atau sekadar ingin menghindari tatapan presiden.
Setelah momen canggung sekaligus jenaka itu, Prabowo kembali ke jalur pidato resminya.
Ia berbicara tentang transformasi digital pendidikan, tentang keharusan bangsa untuk jujur melihat kekurangan, tentang pentingnya tidak alergi pada evaluasi.
Suaranya kembali stabil, seperti mesin yang menemukan ritmenya lagi.
“Pendidikan adalah kunci kebangkitan bangsa,” katanya dengan intonasi yang lebih tegas.
Ia mengaitkannya dengan sejarah perjuangan melalui pesantren, Taman Siswa, dan sekolah-sekolah awal abad 20 yang melahirkan rakyat yang melek pengetahuan sebelum kemerdekaan 1945 diproklamasikan.
Tetapi irama pidatonya tidak bisa sepenuhnya lepas dari momen “siapa yang menulis ini?”, yang sudah terlanjur menjadi bumbu.
Ruangan itu belum sepenuhnya kembali ke formalitas. Beberapa orang masih tersenyum kecil setiap kali Prabowo melirik teks pidatonya.
[VIDEO]
Sumber: Herald