DEMOCRAZY.ID – Kisah tentang kehilangan sering kali hanya menjadi angka dalam laporan perang. Namun, di Gaza, kehilangan itu memiliki wajah, nama, dan cerita yang mengguncang nurani.
Seorang fotografer Muslimah harus membayar mahal dedikasinya, kehilangan satu kaki, akibat serangan militer penjajah Zionis, namun tetap memilih bertahan dan berkarya di tengah reruntuhan konflik.
Adalah Kifah Abd Al-Fakhouri, fotografer Palestina yang kini berjuang menghidupkan kembali mimpinya setelah tragedi yang mengubah jalan hidupnya selamanya.
Ledakan dahsyat yang terjadi saat ia bekerja tak hanya merenggut kakinya, tetapi juga merampas sahabat-sahabatnya.
Peristiwa itu masih membekas dalam ingatannya, meninggalkan luka yang tak hanya fisik, tetapi juga emosional yang mendalam.
Ledakan itu bukan hanya merenggut satu kaki, tetapi juga merobek ruang hidup dan kenangan yang tak tergantikan.
Di tengah tugasnya sebagai saksi visual tragedi, Kifah Abd Al-Fakhouri justru menjadi bagian dari luka itu sendiri, sebuah ironi pahit yang mempertegas betapa perang tak pernah memberi jarak bagi siapa pun.
“Saya mengalami luka parah dan kehilangan satu kaki. Teman-teman saya juga tewas dalam ledakan itu… Saya kehilangan lebih dari sekadar kaki; saya juga kehilangan teman-teman saya,” ungkap Kifah dilaporkan Viory, Sabtu (18/4/2026).
Kesaksian tersebut menjadi potret nyata betapa perang tidak pernah memilih korban. Bahkan mereka yang hanya berusaha merekam kebenaran pun tak luput dari ancaman maut.
Sebelum tragedi itu, Kifah dikenal sebagai sosok yang aktif, lincah, dan penuh semangat.
Ia menjalani profesinya dengan totalitas, bergerak cepat dari satu lokasi ke lokasi lain untuk mengabadikan realitas Gaza.
“Sebelum cedera, saya sangat aktif. Saya biasa bergerak cepat. Sekarang, semuanya jauh lebih sulit untuk berjalan, berpindah tempat, bahkan memegang kamera. Tidak ada lagi yang seperti dulu. Hal-hal yang dulu saya lakukan dengan mudah kini menjadi beban, dan ambisi besar saya yang dulu setinggi langit kini telah sirna,” ucap Kifah.
Kalimat “tidak ada lagi yang seperti dulu” menjadi refleksi pahit atas perubahan drastis dalam hidupnya.
Aktivitas sederhana kini menjadi tantangan berat yang harus dihadapi setiap hari.
Perubahan paling menyakitkan adalah hilangnya kemandirian. Dari seorang profesional yang terbiasa berdiri di atas kakinya sendiri, kini ia harus bergantung pada orang lain bahkan untuk aktivitas dasar.
Perang tidak hanya merenggut tubuh, tetapi juga kemandirian dan jati diri yang dibangun selama bertahun-tahun.
Dari sosok yang aktif, produktif, dan dipercaya banyak pihak, Kifah kini harus menghadapi kenyataan pahit, yaitu hidup dalam keterbatasan, bergantung pada orang lain, sambil perlahan merajut kembali makna dirinya yang nyaris runtuh.
“Sebelum cedera, saya biasa keluar dan meraih banyak hal besar… Dulu saya mandiri, tetapi sekarang saya membutuhkan bantuan dua orang untuk aktivitas sehari-hari,” tegasnya.
Transformasi itu memperlihatkan perang tidak hanya menghancurkan tubuh, tetapi juga merenggut identitas dan rasa percaya diri seseorang.
Meski dalam keterbatasan, semangat Kifah belum padam. Ia tetap menggenggam kamera, tetap berusaha memotret, dan tetap menyuarakan harapan.
Di tengah keterbatasan yang mengekang, harapan menjadi satu-satunya cahaya yang terus dijaga.
Kifah menggantungkan masa depannya pada peluang kecil mendapatkan akses pengobatan dan kesempatan untuk kembali berdiri, melanjutkan hidup yang sempat terhenti oleh perang.
“Saya telah menerima rujukan medis, dan harapan terbesar saya adalah bisa bepergian agar dapat berjalan kembali dan mendapatkan kaki palsu… bagi saya ini adalah kelanjutan hidup saya yang sempat terhenti,” pungkasnya.
Permintaan itu sederhana, tetapi sarat makna: kesempatan untuk hidup kembali dengan lebih utuh.
Konflik yang melanda Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina dan melukai ratusan ribu lainnya.
Di balik angka-angka tersebut, terdapat kisah-kisah manusiawi seperti Kifah, yang menggambarkan betapa mahal harga yang harus dibayar oleh warga sipil.
Kisah tersebut menjadi pengingat keras bagi dunia bahwa perang bukan hanya soal strategi dan kekuatan militer, tetapi tentang manusia, harapan, dan masa depan yang terenggut.
Bagi Kifah, kamera bukan sekadar alat kerja, melainkan sebagai simbol perlawanan, harapan, dan cara untuk tetap hidup di tengah keterbatasan.
Setiap foto yang diambilnya adalah pesan kepada dunia bahwa Gaza masih ada, masih bertahan, dan masih berjuang.
Dalam luka yang belum sembuh, dalam keterbatasan yang membatasi, Kifah Abd Al-Fakhouri tetap berdiri, mengabadikan dunia yang nyaris melupakannya.
Kisahnya bukan hanya tentang kehilangan, tetapi tentang keberanian untuk bangkit ketika segalanya terasa telah berakhir.
Sumber: Inilah