Dian Sandi PSI Bela Jokowi: Whoosh Bukan Merugi, Hanya Belum Sesuai Target Saja

DEMOCRAZY.ID – Ketua Direktorat Diseminasi Informasi dan Sosial Media DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dian Sandi Utama, ikut menanggapi pernyataan rekannya, Bestari Barus, soal Kereta Cepat.

Bestari Barus sebelumnya menyebut proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung tidak seharusnya hanya dinilai dari sisi untung dan rugi.

Dikatakan Dian, pernyataan Bestari sebenarnya memiliki konteks yang lebih luas, meski banyak pihak salah memahaminya.

“Banyak juga yang bingung dengan pernyataan Bang Barus ini, maklumi aja,” ujar Dian di X @DianSandiU (20/10/2025).

Ia kemudian menjelaskan perbedaan antara kondisi rugi operasional dengan pendapatan yang belum sesuai target.

“Rugi itu kalau biaya operasional plus maintainance tidak nutup. Tapi kalau pendapatan belum sesuai dengan jumlah cicilan setiap tahun, itu belum sesuai target aja,” jelasnya.

Dian menegaskan, proyek Whoosh (Kereta Cepat Jakarta-Bandung) tidak bisa serta merta disebut merugi hanya karena belum menutup pembiayaan secara penuh.

Kata Dian, proyek transportasi publik berskala besar umumnya membutuhkan waktu panjang untuk mencapai titik balik modal.

“Transportasi publik itu bukan bisnis jangka pendek. Ada manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan yang nggak bisa diukur hanya dengan angka,” tandasnya.

Sebelumnya, Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bidang Politik, Bestari Barus, blak-blakan mengenai polemik seputar proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB).

Ia menyebut bahwa publik seharusnya tidak hanya dilihat dari sisi untung dan rugi.

Ia mengatakan proyek tersebut sebagai bentuk lompatan besar pemerintah dalam menghadirkan transportasi modern berbasis teknologi tinggi.

“Kita patut juga mengapresiasi pemerintah melakukan lompatan cepat untuk menghadirkan satu transportasi berbasis teknologi yang luar biasa,” ujar Bestari dikutip dari unggahan Instagram pribadinya (20/10/2025).

“Yang kemudian dinikmati walaupun baru oleh sebagian masyarakat pengguna,” tambahnya.

Dikatakan Bestari, narasi yang menyebut proyek kereta cepat merugi perlu dilihat secara proporsional.

“Yang kemudian berkembang cerita ini rugi. Saya kira bukan rugi kali ya, belum untung saja. Belum untung karena dari target kilometer itu belum tercapai secara maksimal,” jelasnya.

Bestari mencontohkan proyek LRT di DKI Jakarta yang pada awalnya juga dipandang tidak efisien karena jaraknya pendek.

Namun seiring waktu, pembangunan tersebut menjadi bagian penting dari sistem transportasi ibu kota.

“Kita pernah melihat kisah di DKI dulu ini. Ada bangunan LRT yang pendek sekali dari velodrom ke Kelapa Gading ya. Tapi niatnya sebetulnya sangat panjang itu ya dia akan menjadi jaring laba-laba transportasi Jakarta,” Bestari menuturkan.

Ia mengingatkan publik untuk tidak selalu menilai proyek pemerintah dari sisi keuntungan finansial semata.

“Jangan di back mind kita itu selalu berpikir bahwa ketika pemerintah bergerak ingin membangun sesuatu maka di belakangnya harus untung, itu psycho,” ucapnya.

Bestari menyebut, sikap seperti itu justru berpotensi menyakiti banyak pihak, termasuk masyarakat di daerah yang sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur.

“Kita ya kita enggak sadar bahwa dengan kita bersikap seperti itu terlalu banyak orang dikasih sakiti. Bahkan bisa jadi bang Said Didu pun tersakiti, kenapa? Bagaimana kalau dari Makassar itu tidak ada jalan ke kampungnya,” Bestari berkelakar.

Sumber: Fajar

Artikel terkait lainnya