DEMOCRAZY.ID – Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Presiden Indonesia meminta maaf kepada negara tetangga akibat asap kebakaran hutan di Indonesia yang menyebar hingga Singapura dan Malaysia.
Demikianlah yang dilakukan Soeharto pada 1997 ketika Sumatra dan Kalimantan dilanda kebakaran hutan berskala besar.
Menurut majalah Time, kebakaran hutan saat itu disebabkan oleh praktik pertanian tebas-bakar yang sengaja dilakukan sekelompok petani untuk membuka lahan, sehingga memicu kebakaran yang sulit dikendalikan.
Tindakan tersebut kemudian semakin parah ketika fenomena El Nino berkepanjangan menghantam Indonesia dan menyebabkan cuaca panas serta kering berkepanjangan.
Akibatnya, jutaan hektare lahan hangus.
“Hampir 20 juta hektar lahan hangus terbakar, sebagian besar di wilayah Indonesia, yang menurut berbagai perkiraan menjadikannya kebakaran hutan terbesar dalam sejarah yang pernah tercatat,” tulis Time.
Dampaknya tidak hanya dirasakan Indonesia.
Asap kebakaran turut menyebar ke Malaysia, Brunei, Thailand, Vietnam, dan Filipina.
Pencemaran udara ini mengganggu aktivitas masyarakat dan transportasi, hingga mendorong Soeharto menyampaikan permohonan maaf kepada negara-negara tetangga.
Dalam pemberitaan Berita Yudha (17 September 1997), Soeharto untuk pertama kalinya dalam sejarah menyampaikan permohonan maaf atas dampak kebakaran tersebut.
“Indonesia minta maaf yang sebesar-besarnya. Kami menyadari, kebakaran lahan dan hutan itu telah mengganggu arus lalu-lintas perhubungan dan menimbulkan berbagai akibat yang tidak menguntungkan kita semua,” ungkap Presiden Soeharto, dikutip dari Berita Yudha (17 September 1997).
Soeharto juga menyatakan, pemerintah Indonesia telah berusaha sekuat tenaga memadamkan api secepat mungkin.
Namun, luasnya wilayah yang terbakar dan musim kering berkepanjangan membuat upaya pemadaman sulit dilakukan.
Akibatnya, kehidupan sosial-ekonomi Indonesia dan negara tetangga terganggu.
Di Malaysia, misalnya, Produk Domestik Bruto (PDB) menurun 0,3% karena kebakaran hutan di Indonesia.
Menurut riset Indonesia’s Fires and Haze: The Cost of Catastrophe (1999), hal ini bisa terjadi karena kabut asap membuat aktivitas penduduk menjadi terbatas.
Sektor penunjang ekonomi, seperti pariwisata, mengalami penurunan drastis.
Hotel-hotel sepi pengunjung, sehingga kondisi tersebut turut menekan perekonomian Malaysia.
Agar tak mengalami tekanan ekonomi lebih lama, pemerintah Malaysia pun ikut membantu upaya pemadaman kebakaran di Indonesia.
Selain itu, mereka juga membagikan puluhan ribu masker dan membuat kebijakan subsidi kesehatan.
Untungnya, kebakaran hutan berakhir seiring Indonesia memasuki musim penghujan pada awal 1998.
Tercatat, 16 tahun kemudian, permohonan maaf kepada negara tetangga kembali disampaikan.
Kali ini oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika kebakaran hutan dan lahan kembali menimbulkan kabut asap pada 2013.
Saat itu, kebakaran di Sumatra, khususnya Riau, menyebabkan asap menyebar ke Singapura dan Malaysia.
Dampaknya, sejumlah sekolah ditutup dan aktivitas masyarakat terganggu.
SBY mengakui, asap yang mencemari udara negara tetangga tersebut berasal dari Indonesia.
“Asap ini faktanya yang mengalir ke udara Singapura dan Malaysia berasal dari Indonesia, dari Riau,” terang SBY.
Atas dasar inilah, SBY menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada Singapura dan Malaysia dalam jumpa pers di Kantor Presiden, Jalan Veteran, Jakarta, Senin (24/6/2013).
“Atas apa yang tejadi ini, selaku presiden saya meminta maaf dan pengertian saudara-saudara kami di Singapura dan Malaysia,” ujar Presiden SBY.