Gita Sjahrir Menggugat Sejarah: Ayahku Dicap Penjahat, Lawannya Jadi Pahlawan!

DEMOCRAZY.ID – Suasana reflektif Hari Pahlawan 10 November 2025 berubah menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Itu setelah Gita Sjahrir, putri dari ekonom dan aktivis Dr. Sjahrir, menulis unggahan yang menggugah di Instagram.

Melalui tulisannya, Gita mempertanyakan makna kepahlawanan di tengah perubahan narasi sejarah yang dianggapnya menyakitkan bagi keluarga.

Dalam unggahan itu, Gita menulis dengan nada getir kalau ayahnya, seorang aktivis peristiwa Malari 1974 yang pernah dipenjara dan diasingkan, justru dianggap “penjahat”.

Sementara tokoh yang ditentangnya semasa hidup kini ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

“Di Hari Pahlawan, 10 November 2025, aku belajar bahwa ternyata Ayahku selama ini adalah seorang ‘penjahat’,” tulis Gita.

Ia mengenang bagaimana sang ayah berjuang tanpa pamrih hingga meninggal dalam keadaan bangkrut, tetapi tetap teguh menentang kekuasaan yang menurutnya melukai bangsa.

Gita juga membuka sisi pribadi yang jarang ia ceritakan.

Ia mengisahkan masa kecil yang diwarnai kesulitan dan trauma sebagai anak aktivis yang diasingkan di Amerika Serikat.

Dalam narasinya, ia mengenang pengalaman dapat perundungan karena makanan Indonesia yang dibawanya ke sekolah, hingga merasa terasing saat kembali ke Tanah Air karena dianggap berbeda.

Puncak cerita pilu itu hadir ketika ia menulis bagaimana ayahnya sempat menghilang pada 1998, lalu kembali dalam keadaan lusuh karena disembunyikan di got oleh murid-muridnya demi menghindari kejaran aparat.

“Indonesia akan reformasi. Gita, kita sekarang bebas,” kenang Gita, mengutip kalimat sang ayah.

Melalui tulisannya, Gita menolak melupakan sejarah keluarganya dan menyindir keras mereka yang, menurutnya, mencoba menulis ulang masa lalu demi kepentingan kekuasaan.

Ia mengutip pepatah “history is written by the victors” untuk menyoroti bagaimana kekuatan ekonomi dan politik sering membentuk narasi resmi bangsa.

“Masalahnya, aku menolak melupakan kisahku atau kisah ayahku. Jika itu membuatku menjadi musuh, semoga aku bisa menjadi musuh yang baik, seperti ayahku,” tulisnya.

Unggahan itu ditutup dengan kalimat yang kuat.

“Sejarah bukan ditulis oleh kalian, tapi oleh kita semua. Jika ini membuatku dianggap musuh, biarlah. Aku lebih memilih menjadi musuh daripada pahlawan dengan warisan berdarah.”

Pesan tersebut langsung menyulut perdebatan publik tentang siapa yang layak disebut pahlawan dan bagaimana sejarah Indonesia seharusnya ditulis.

Sekadar diketahui yang merupakan anak Dr. Sjahrir berarti juga adik dari Pandu Sjahrir, yang merupakan salah satu petinggi Danantara dan keponakan Luhut Pandjaitan.

Dan, di Hari Pahlawan kemarin sang penguasan Orde Baru, yaitu Soeharto, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Sumber: Konteks

Artikel terkait lainnya