Menohok! Anies Baswedan Kritik Keras ‘Mindset’ Pendidikan Indonesia

DEMOCRAZY.ID – Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan melancarkan kritik tajam terhadap pendekatan pendidikan Indonesia yang bermental “instan” dan berorientasi politik jangka pendek.

Dalam kuliah umum di Universitas Pamulang, Jumat (24/10/2025), Anies menyebut Indonesia terjebak dalam ekspektasi tidak realistis terhadap hasil pendidikan.

“Saya ini gemes kalau ada yang bicara pendidikan itu pengin hasilnya besok. Kurikulum diganti hari ini laksanakan besok. Saya bisa, Teman-teman. Saya bisa. It doesn’t work that way,” ujar Anies dengan nada frustasi.

Kontras dengan Forum Global

Anies mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa World Education Forum hanya diselenggarakan setiap 15-16 tahun sekali, sangat kontras dengan World Economic Forum yang diadakan setiap tahun.

“Mindset kita itu pendek maunya. Apalagi yang berada di wilayah politik. Penginnya pendidikan itu menghasilkan dukungan suara besok,” kritiknya.

Politikus yang juga memiliki latar belakang akademis ini menyindir kecenderungan politisi yang hanya tertarik pada program pendidikan yang “bisa difoto” untuk kepentingan elektoral, bukan investasi jangka panjang yang berdampak nyata.

Guru: Terlantar dan Diabaikan

Kritik paling keras Anies tertuju pada nasib guru yang menurutnya terabaikan.

“Bagaimana guru bisa bekerja dengan serius kalau kebutuhan sebulan enggak terpenuhi dari gaji bulanan?” tantangnya.

Ia menekankan bahwa Indonesia, sebagai ekonomi terbesar ke-16 dunia, seharusnya mampu menjamin kesejahteraan guru.

“Republik ini harus serius soal guru. Tanda keseriusannya apa? Gurunya tidak terlantar. Itu tanda keseriusan itu gurunya dipikirin hidupnya,” tegasnya.

Anies membandingkan dengan Jepang yang sejak 1860-an telah menempatkan guru sebagai profesi paling dihormati, menjadi kunci transformasi negara tersebut dalam empat dekade.

Paradoks Tiga Zaman

Mantan Menteri Pendidikan ini menggambarkan paradoks sistem pendidikan Indonesia: “Anaknya abad 21, gurunya abad 20, sekolahnya abad 19.”

Ia mencontohkan ruang kelas yang masih menerapkan format klasikal konvensional, tidak mendukung kolaborasi yang menjadi kunci keterampilan abad 21.

Anies juga mengkritik sekolah yang melarang penggunaan AI.

“AI itu bukan untuk dilarang. AI itu diajarkan bagaimana penggunaan yang benar. Tapi bukan dilarang,” katanya, menyoroti resistensi dunia pendidikan terhadap teknologi.

Soal Karakter: Bukan Hanya Moral

Dalam pandangannya, pendidikan karakter di Indonesia terlalu fokus pada aspek moral seperti jujur dan sopan, mengabaikan karakter kinerja seperti rajin, disiplin, dan tuntas.

“Kita tidak ingin jujur tapi malas, tapi kita juga tidak ingin rajin kerja keras tapi culas,” jelasnya.

Anies menekankan bahwa guru harus menjadi “pembelajar” (learners), bukan sekadar pengajar. “Kalau guru enggak merasa pembelajar, selesailah sudah,” tegasnya.

Investasi, Bukan Proyek

Menutup paparannya, Anies menegaskan bahwa pendidikan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan proyek politik.

Ia mengingatkan bahwa hasil pendidikan membutuhkan waktu generasi untuk terlihat, tidak bisa dipaksakan dalam satu periode pemerintahan.

“Investnya hari ini, banyak hasilnya nanti. Yang paling berat ngadepin ini siapa? Bappenas,” ujarnya, menyindir ketegangan antara perencanaan jangka panjang dengan keinginan politik jangka pendek.

Kritik Anies ini muncul di tengah berbagai diskusi tentang peran pendidik dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), mengingatkan bahwa tanpa perbaikan fundamental pada kesejahteraan dan kualitas guru, target-target ambisius tersebut akan sulit tercapai.

Anies Baswedan adalah mantan Gubernur DKI Jakarta (2017-2022) dan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (2014-2016) dengan latar belakang pendidikan PhD Political Economy and Development.

[FULL VIDEO]

Sumber: JakartaSatu

Artikel terkait lainnya