DEMOCRAZY.ID — Realitas politik pasca-purna tugas mantan Presiden Joko Widodo kian menelanjangi betapa rapuhnya loyalitas transaksional yang dibangun selama satu dekade kekuasaannya.
Pengamat politik Adi Prayitno mengungkapkan bahwa Jokowi kini benar-benar ditinggalkan sendirian oleh para sekutu lamanya.
Jika dahulu para ketua umum partai politik saling sikut berebut sowan dan mendekat, kini tak ada satu pun pimpinan parpol yang mau menginjakkan kaki ke kediaman Solo.
Fenomena sepi pengunjung di kediaman sang mantan presiden tersebut mengonfirmasi bahwa pengaruh dan daya tawar politik klan Solo telah sirna sepenuhnya.
Adi Prayitno membeberkan bagaimana para ketua umum partai politik nasional kini secara tegas menjaga jarak dan memutus pola komunikasi politik dengan Jokowi.
Rumah Solo yang dulu menjadi pusat kendali dan tumpuan para elite, kini tak ubahnya tempat pengasingan yang dihindari.
“Per hari ini ketua umum-ketua umum partai itu memang relatif menjaga jarak memang dengan Pak Jokowi,” kata Adi Prayitno, Kamis (29/10/2026).
Adi melontarkan sindiran menohok terkait lenyapnya tradisi sowan para petinggi parpol ke kediaman mantan presiden tersebut.
“Kan nyaris kita tidak pernah menyaksikan secara terbuka ketua umum-ketua umum partai ini kan datang ke ratapan tembok Solo misalnya kan, enggak ada itu,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa kepatuhan parpol di masa lalu semata-mata terjadi karena faktor jabatan Jokowi sebagai kepala negara yang memegang instrumen kekuasaan, bukan atas dasar loyalitas ideologis atau penghormatan sejati.
Lebih jauh, Adi membedah bahwa fenomena pengasingan Jokowi ini menjadi cermin suram dari budaya politik pragmatis di Indonesia.
Begitu kekuasaan berpindah dan kursi presiden diisi oleh Prabowo Subianto, para elite politik tanpa ragu langsung angkat kaki dan berpaling mencari pengayom baru.
“Inilah hancurnya bagaimana budaya politik di negara kita. Ada kecenderungan kalau sudah tak lagi jadi pejabat publik apalagi tak lagi jadi presiden, kawan-kawan lama itu sudah hengkang dan angkat kaki dan tentu sudah punya partner yang baru yaitu adalah presiden yang saat ini sedang berkuasa,” jelas Adi.
Adi menyimpulkan bahwa kondisi yang dialami Jokowi saat ini adalah fenomena powerless atau hilangnya daya tawar politik secara drastis.
Tanpa adanya kontrol atas anggaran, regulasi, dan aparat negara, Jokowi tidak lagi memiliki magnet atau instrumen apa pun untuk mengikat para tokoh kunci parpol.
Satu per satu sekutu politik pergi meninggalkannya sendirian di Solo.
Kondisi ini kian mempercepat keruntuhan dinasti politik Solo, sekaligus memuluskan jalan bagi Senayan untuk mengeksekusi Pemakzulan Gibran dari panggung kepemimpinan nasional tanpa lagi mengkhawatirkan ancaman atau intervensi dari Istana Solo!