Soroti Manuver Politik Elite: Jokowi dan Gibran Harus Tetap Jadi Sorotan Publik, Kasus Ijazah Sengaja Dimainkan ‘Geng Solo’?

DEMOCRAZY.ID — Pusaran polemik keabsahan berkas pendidikan mantan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terus memantik perdebatan panas di ruang publik.

Di tengah derasnya sorotan, politisi Teddy Gusnaidi melempar tantangan terbuka kepada eks politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ade Armando, untuk menguji kemungkinan bahwa isu ijazah fiktif ini justru sengaja diciptakan dan dikendalikan oleh kubu Jokowi sendiri demi menjaga panggung politik mereka.

Tantangan tersebut disampaikan Teddy dalam perbincangan di kanal YouTube Cumicumi, mempertanyakan apakah drama berkepanjangan ini merupakan strategi sadar agar nama klan Solo tetap menjadi pusat perhatian publik.

Teddy Gusnaidi Tantang Ade Armando: Apakah Isu Ijazah Sengaja Dimainkan Kubu Jokowi?

Teddy menyoroti bagaimana perbincangan mengenai keabsahan ijazah tersebut seolah dipelihara tanpa kejelasan hukum yang tuntas, sehingga memicu spekulasi liar di tengah masyarakat.

“Bang, saya mau challenge abang nih, karena abang bilang kasus ini harus hidup terus. Apakah tidak ada kemungkinan bahwa memang hal ini memang diciptakan oleh Pak Jokowi?” cecar Teddy Gusnaidi, Kamis (29/10/2026).

Menanggapi tantangan tersebut, Ade Armando mengakui bahwa dalam panggung politik Indonesia yang penuh intrik, segala kemungkinan teori konspirasi tidak bisa langsung disingkirkan begitu saja.

Namun, ia menilai publik harus melihat dan mempelajari persoalan ini secara utuh sebelum menarik kesimpulan.

Ade Armando: Mustahil Isu Ijazah Dirancang Sendiri oleh Jokowi

Kendati membuka ruang spekulasi, Ade Armando menyatakan dirinya tidak sependapat jika kasus ijazah ini disebut sebagai rekayasa atau kendali langsung dari Jokowi.

Menurutnya, serangan dan tuduhan miring terhadap Jokowi bukanlah hal baru, melainkan sudah makanan sehari-hari sejak awal kepemimpinannya sebagai kepala negara.

“Sejak awal dia menjabat jadi presiden dia telah menerima tuduhan-tuduhan misalnya dia seorang anak PKI, Tionghoa atau Kristen lah ya, kira-kira begitu. Itu kan sesuatu yang sudah dari dulu diutarakan, bahwa dia korupsi sudah berulang kali. Yang menyerang Pak Jokowi tidak satu kelompok ada banyak,” jelas Ade.

Mengingat banyaknya variasi serangan dari berbagai kelompok oposisi yang menghantam keluarga Solo selama bertahun-tahun, Ade menilai tidak mungkin kasus sebesar hilangnya bukti pendidikan formal ini dirancang sendiri sebagai strategi publikasi.

“Menurut saya, tidak mungkin itu semua dimulai atau dirancang, atau mastermind di belakang gerakan ini semua adalah Pak Jokowi sendiri,” pungkas Ade Armando.

Terlepas dari perdebatan apakah skandal ini merupakan rekayasa strategi atau hantaman murni dari oposisi, fakta hukum yang kini bergulir di Mahkamah Konstitusi membuktikan bahwa polemik ijazah Gibran telah menjadi palu godam konstitusional yang meruntuhkan legitimasi dinasti politik Solo secara permanen!

Artikel terkait lainnya