Prediksi Rocky Gerung tentang Kereta Cepat Terbukti: Itu Bukan Milik Kita, Tapi Utang 170 Tahun!

DEMOCRAZY.ID – Dalam sebuah pernyataan bernada satire tajam, pengamat politik Rocky Gerung pernah mengkritik keras proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung yang digagas di era Presiden Joko Widodo.

Menurutnya, kebanggaan sebagian pendukung terhadap keberadaan kereta cepat itu sesungguhnya hanya kebanggaan semu atas sesuatu yang dibiayai dengan utang luar negeri.

“Pendukung Jokowi bangga kita sekarang punya kereta cepat. Itu punya Cina. Kita cuma beli… pakai utang. Dan kapan dibayar? 170 tahun lagi,” ujar Rocky dalam pernyataannya yang pernah viral di media sosial.

Rocky menilai, proyek ini hanyalah “pameran” teknologi asing yang dibungkus narasi nasionalisme.

Ia membandingkan klaim teknologi tinggi kereta cepat dengan capaian masa Orde Baru melalui proyek pesawat N-250 karya BJ Habibie—sebuah teknologi “di atas awan” yang benar-benar lahir dari otak dan tangan bangsa sendiri.

“Sekarang kita banggakan teknologi yang merayap di tanah. Habibie sudah bikin pesawat fly-by-wire yang diakui dunia,” sindirnya.

Sementara itu, salah satu pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio menceritakan pertemuannya dengan Presiden Jokowi di Istana sebelum proyek ini berjalan.

Saat itu, Agus dan Ignasius Jonan telah memperingatkan, bahwa biaya kereta cepat “mahal sekali dan tidak bisa dibayar”.

Jonan akhirnya dicopot, sementara proyek terus dilanjutkan.

“Saya tanya, ini ide siapa sih Pak? Ide saya, kata Pak Jokowi. Ya sudah,” kenang Agus.

Menurutnya, sejak awal kajian ekonomi menunjukkan proyek ini tidak layak.

Jepang pernah menawarkan pinjaman dengan bunga 0,01%, namun akhirnya Jokowi memilih Cina.

Perubahan itu menggeser seluruh kalkulasi pembiayaan.

Konsultan internasional, Boston Consulting Group, bahkan memberi nilai minus terhadap kelayakan proyek tersebut.

“Artinya, jangan diteruskan. Tapi dipaksakan. Bahkan lewat APBN,” tegas Agus.

Agus juga mengingatkan skenario berbahaya jika Indonesia gagal bayar, seperti kasus Sri Lanka yang harus menyerahkan pelabuhan strategisnya ke Cina.

“Kalau nanti kita tidak bisa bayar, apa Cina akan ambil pelabuhan kita? Ini hal-hal yang saya sudah ingatkan sejak awal,” ujarnya.

Sementara itu, Rocky menuding ada dua motif utama di balik kelanjutan proyek ini: arogansi dan ambisi politik Presiden, atau keyakinan irasional yang “dibisiki dukun-dukun”.

Ia juga menyoroti peran Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menurutnya “kena sihir” karena menyetujui pembiayaan APBN untuk proyek yang jelas-jelas tidak efisien secara ekonomi.

“Setiap kali Anda naik kereta cepat Jokowi, Anda ikut bantu Jokowi bayar utang,” ujar Rocky dengan nada sarkastik.

Ia menyebut cara berpikir publik telah disulap oleh kamera, statistik, dan propaganda, sehingga kehilangan kemampuan rasional untuk mengkritisi kebijakan.

Rocky menutup kritiknya dengan membandingkan proyek ini dengan Concorde, pesawat supersonik hasil kerja sama Inggris–Prancis yang akhirnya dihentikan karena tidak ekonomis.

Bedanya, kata Rocky, Concorde berhenti karena kesalahan kalkulasi.

Sementara proyek kereta cepat Indonesia, sejak awal “sudah tahu tidak layak tapi tetap dijalankan.”

Sumber: Herald

Artikel terkait lainnya