UNTUK ke sekian kalinya Luhut Binsar Pandjaitan bicara ceplas-ceplos dan kasar, mirip manusia dengan SDM rendah.
Jika yang ngomong orang setengah gila atau orang tak berpendidikan, masyarakat bisa mafhum. Tetapi ini yang bicara adalah Ketua Dewan Ekonomi Nasional.
Pada rezim Jokowi, Luhut mengatur seluruh investasi asing, di samping memegang puluhan jabatan strategis hadiah dari Jokowi.
Bahkan saking kagum dan gemesnya, Luhut dijuluki Lord oleh masyarakat menandakan ia termasuk orang yang sangat berpengaruh tiada lawan.
Kini Luhut ngoceh menyoal orang yang menanyakan bangkrutnya proyek kereta cepat Jakarta Bandung.
Entah mau buang badan atau ngeles, Luhut bilang menerima penugasan proyek kereta cepat tersebut sudah busuk sebelumnya.
Pertanyaannya mengapa dia bersedia menerima barang busuk. Bukankah dia adalah menteri investasi yang sejak awal tahu sejarah pembangunan kereta cepat itu? Bahkan ketika itu Luhut bilang,”Bisa apa kita di depan Cina”, sebuah sikap rendah diri kronis.
Luhut juga geram Kereta Whoosh dituduh dibiayai APBN. Menurutnya proyek ambisius ini tidak dibiayai APBN.
Haha, Luhut lupa bahwa awalnya memang tidak pakai APBN, terapi di tengah jalan, Jokowi ingkar dengan janji sendiri.
Jokowi mengalokasikan anggaran sebesar Rp4,1 triliun melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada PT Kereta Api Indonesia (Persero) pada 2022 lalu untuk menggarap Whoosh.
Keterlibatan Luhut dalam proyek ini terjadi sejak 2021 ditandai dengan Jokowi membentuk Komite Kereta Cepat antara Jakarta dan Bandung.
Pembentukan komite tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2021 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Kereta Cepat antara Jakarta dan Bandung.
Luhut memiliki tugas mengkoordinasikan prasarana dan sarana kereta cepat Jakarta-Bandung.
Selain itu, pimpinan konsorsium yang semula adalah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk digantikan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI.
Jika sekarang Luhut bilang proyek sudah busuk sejak lama, siapa yang dituduh? Lalu sejak 2021 sampai sekarang, apakah sudah tidak busuk lagi?
Pembangunan proyek Whoosh dikerjakan secara serampangan. Buktinya dapat dilihat pada pembangunan pilar LRT yang dikerjakan oleh PT KCIC di KM 3 +800.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengatakan pembangunan pilar dilakukan tanpa izin.
Bahkan, aksi serampangan ini bisa membahayakan keselamatan pengguna jalan.
PUPR juga menilai pengelolaan sistem drainase proyek tersebut buruk karena tidak dibangun sesuai kapasitas.
Pada akhirnya timbul genangan air di Tol Jakarta-Cikampek serta kemacetan pada ruas jalan.
Proyek pun sempat dihentikan selama dua minggu sejak 2 Maret 2020. Ini dilakukan usai surat bernomor BK.03.03-Komite k2/25 terbit pada 27 Februari 2020.
Kereta Cepat Jakarta-Bandung dibangun sejak 2016 dan ditargetkan rampung pada 2019. Namun, rencana ini molor karena pandemi covid-19.
Pada 2020 lalu, pemerintah menghentikan seluruh pembangunan proyek. Sebab, kala itu pemerintah memilih fokus pada penanganan covid-19.
Pembangunan Whoosh baru dilanjut pada pertengahan 2021 dan ditunjuklah Luhut sebagai Ketua Komite Kereta Cepat antara Jakarta dan Bandung bentukan Jokowi.
KCJB akhirnya baru resmi beroperasi secara komersial pada 17 Oktober 2023.
Sejak beroperasi hingga saat ini Kereta Whoosh terus mengalami kerugian. Defisit tiap tahun mencapai Rp 2 triliun.
Kondisi makin parah saat kereta ini mengurangi jadwal perjalanan. Belum lagi dugaan mark up yang dilakukan para pemangku kepentingan dalam proyek paksaan ini.
Berdasarkan perhitungan Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies biaya pembangunan Kereta Whoosh yang mencapai US$7,27 miliar atau setara Rp118,37 triliun (kurs Rp16.283/US$), termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar US$1,2 miliar, terlalu mahal.
Anthony membandingkan biaya pembangunan kereta cepat di China berada di kisaran US$17 juta hingga US$30 juta per kilometer (km). Sedangkan biaya pembangunan Kereta Whoosh sekitar US$52 juta per km.
Asumsikan nilai tengah untuk biaya kereta cepat di China, misalnya US$25 juta per km, biaya pembangunan Kereta Whoosh yang rutenya 142,3 km itu, lebih mahal US$27 juta per km.
Poyek Kereta Whoosh kemahalannya luar biasa, sekitar 40-50 persen dibanding biaya pembangunan kereta cepat di China. Untuk membuktikannya, harus diaudit.
Karena mahal dan dibiayai 75 persen dari utang China Development Bank (CDB), maka pemerintah saat ini menjadi kelabakan.
Luhut sebagai pihak yang bertanggungjawab atas proyek ini sangat reaktif merespons kritikan publik. Luhut cenderung defensif dan menolak kritik terhadap proyek-proyek yang dia tangani.
Gaya komunikasi Luhut sangat arogan dan meremehkan orang lain.
Publik memang senang dengan ucapan Luhut yang lugas dan vulgar. Bukan untuk diapresiasi, tetapi untuk dicibir. Sebelumnya Luhut menyebut toxic terhadap orang-orang tak disukainya.
Sebelumnya lagi Luhut mengusir rakyat yang mengkritik kebijakan pemerintah dengan kalimat “silahkan pindah keluar negeri” atau antiNKRI.
Luhut kelihatannya menderita penyakit Narcissistic Personality Disorder atau gangguan kepribadian yang ditandai dengan kebutuhan akan pengaguman dan pujian yang berlebihan, rasa percaya diri yang berlebihan, tidak realistis dan menganggap diri lebih baik daripada orang lain, kesulitan untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain, memiliki fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, dan kecerdasan yang tidak realistis serta berperilaku arogan dan menghina orang lain. ***