Ketar-Ketir! Rismon Mulai Panik dan Ketakutan Setengah Mati Jika Duet Roy-Tifa Menang

DEMOCRAZY.ID – Ketegangan antara para pengamat yang menyoroti polemik keaslian ijazah mantan Presiden Joko Widodo kian memanas.

Belakangan, pernyataan Rismon yang menyerang konsistensi mantan Menpora Roy Suryo dan Dokter Tifa menuai sorotan tajam publik.

Rismon menuding bahwa gerakan yang dibangun oleh Roy Suryo dan Dokter Tifa tidak murni, melainkan didorong oleh motif eksternal dan keuntungan materi.

Namun, rangkaian tuduhan yang dilontarkan Rismon dinilai sejumlah pihak bertolak belakang, kontradiktif, dan disinyalir dipicu oleh sentimen pribadi seperti rasa iri atau sakit hati atas panggung konsistensi yang dimiliki kedua tokoh tersebut.

Tudingan Aliran Dana hingga Rincian Honor Podcast

Dalam berbagai pernyataannya, Rismon mencoba mendelegitimasi gerakan Roy Suryo dan Dokter Tifa dengan dua narasi yang berbeda:

  • Isu Pendanaan Pihak Ketiga: Rismon sebelumnya sempat mengeklaim adanya aktor intelektual atau penyandang dana di balik pergerakan Roy Suryo dan Dokter Tifa. Ia bahkan sempat menyeret nama mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), yang berujung pada pelaporan hukum terhadap dirinya oleh pihak JK.
  • Tudingan Mengincar Honor Media: Berbeda dengan narasi pertama, Rismon kini justru menuduh Roy Suryo memanfaatkan isu ijazah ini sebagai mata pencaharian utama dengan mengharapkan honorarium dari penampilan di televisi dan podcast.

Secara spesifik, Rismon bahkan membeberkan estimasi angka tarif tampil Roy Suryo di sejumlah media:

“Forum Keadilan katanya 500 ribu, ILC 1 juta, Rakyat Bersuara 1,25 juta, head to head 750 ribu. Sehari itu Roy Suryo bisa dapat 2 juta. Dan Roy Suryo cari makan dari situ. Makanya, Roy Suryo dan Dokter Tifa getol betul mempertahankan kasus ijazah Jokowi ini, karena kalau tidak, ia tidak bisa makan,” tegas Rismon dalam pernyataannya.

Menyoroti Kontradiksi dan Logika Serangan

Pernyataan Rismon tersebut langsung memicu kritik balik karena dinilai tidak konsisten dan memperlihatkan cacat logika.

Di satu sisi, ia membangun narasi bahwa Roy Suryo dan Dokter Tifa adalah “gerakan pesanan” yang disokong dana besar oleh oligarki atau tokoh politik.

Namun di sisi lain, ia justru mendegradasi level Roy Suryo dengan menyebutnya mengemis honorarium ratusan ribu rupiah dari satu podcast ke podcast lain demi menyambung hidup.

Ketidakselarasan argumen ini membuat publik menilai bahwa serangan Rismon terkesan dipaksakan dan kehilangan substansi ilmiah.

Dugaan Ketakutan di Balik Vonis Hukum

Selain faktor sentimen personal, pengamat menilai ada indikasi kecemasan di kubu Rismon terkait perkembangan proses hukum yang sedang berjalan.

Saat ini, Roy Suryo tengah menghadapi proses hukum terkait dugaan pencemaran nama baik dan fitnah.

Muncul spekulasi bahwa Rismon khawatir jika pada akhirnya hakim menjatuhkan vonis bebas kepada Roy Suryo dan Dokter Tifa.

Jika kedua tokoh tersebut dinyatakan tidak bersalah dan gugatan mengenai keaslian ijazah Jokowi justru terus bergulir di ranah publik, maka posisi tawar serta kredibilitas argumen Rismon dipastikan akan runtuh di mata masyarakat.

Artikel terkait lainnya