DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik Rocky Gerung melontarkan kritik terhadap mantan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, yang belakangan dikenal vokal menyuarakan kritik terhadap pemerintah.
Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, Rocky mengaku tetap menghargai semangat perjuangan Tiyo.
Namun, ia menilai cara Tiyo menyampaikan kritik belum mencerminkan tradisi intelektual yang seharusnya dibangun oleh gerakan mahasiswa.
“Apa pandangan Pak Rocky tentang Tiyo? Bodoh dia saya bilang. Tapi kan dia berjuang,” ujar Rocky, Selasa (30/6/2026).
Rocky kemudian menjelaskan bahwa kritik tersebut tidak ditujukan pada keberanian Tiyo menyuarakan aspirasi, melainkan pada kualitas argumentasi yang dinilainya masih perlu diperkuat.
Menurut dia, mahasiswa seharusnya mampu membangun kritik yang berbasis analisis, gagasan, dan argumentasi yang matang, bukan sekadar mengandalkan simbol atau aksi yang bersifat sensasional.
Ia mengungkapkan pernah menyampaikan hal tersebut secara langsung kepada Tiyo saat berada di Universitas Indonesia.
“Padahal kalau konteksnya saya bilang di UI itu, Tiyo, naikkan oktafmu,” kata Rocky.
Yang dimaksud dengan “menaikkan oktaf”, lanjut Rocky, adalah meningkatkan kualitas berpikir dan memperdalam substansi kritik.
Namun, ia menilai langkah yang kemudian diambil Tiyo justru bergerak ke arah sebaliknya.
“Apa yang dibikin? Prabowo jadiin kucing. Itu bukan naikin oktaf, itu turunin oktaf. Kasih abstraksi. Orang tepuk tangan,” ujarnya.
Rocky berpendapat kritik terhadap pemerintah semestinya dibangun di atas fondasi pemikiran, gagasan, dan ideologi yang jelas.
Menurutnya, kritik yang hanya mengandalkan sindiran atau simbol tanpa argumentasi yang kuat berpotensi kehilangan substansi.
“Posisinya betul, tetapi ketiadaan pikiran, ketiadaan gagasan, ketiadaan ideologi, membuat orang jadi sarkas. Slapstick. Bukan itu bunyi pikiran intelektual. Ketololannya ada di situ,” kata Rocky.
Di akhir pernyataannya, Rocky juga mengingatkan pentingnya menjaga independensi gerakan mahasiswa.
Ia mengaku melihat adanya gejala yang patut diwaspadai terkait potensi gerakan mahasiswa dimanfaatkan oleh kepentingan politik tertentu.
“Kita mulai lihat bahwa gejala gerakan mahasiswa akan ditunggangi. Fasisme doyan orang bodoh,” ujarnya.
Sumber: Fajar