DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik, Tony Rosyid, mengungkapkan pandangannya mengenai dinamika politik menjelang Pemilu 2029.
Tony blak-blakan mengenai peluang Presiden Prabowo Subianto menghadapi kontestasi berikutnya, termasuk munculnya nama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang memiliki tren elektabilitas positif.
Ceritakan Diskusi Bersama Tokoh PolitikIa mengawali pandangannya dengan menceritakan sebuah forum diskusi yang dihadirinya di rumah seorang pejabat sekitar sepekan lalu.
Dikatakan Tony, diskusi tersebut diikuti sekitar 50 peserta yang berasal dari berbagai kalangan.
Mulai dari tokoh politik, akademisi, hingga figur yang berada di lingkaran Istana.
Ia menegaskan, pembahasan awal berfokus pada implementasi Pasal 33 UUD 1945 terkait kesejahteraan rakyat dan keadilan ekonomi.
Dalam forum itu, isu oligarki juga ikut mengemuka.Tony menyebut sebagian peserta memberikan apresiasi terhadap langkah Presiden Prabowo dalam menghadapi kelompok yang dianggap merugikan negara.
Namun, sebagian lainnya menyampaikan pandangan berbeda dengan menyoroti kinerja sejumlah pejabat.
Tony kemudian mengungkapkan bahwa diskusi berlanjut pada pembahasan mengenai kondisi politik Prabowo menjelang Pemilu 2029.
Menurutnya, seorang peserta yang berasal dari lembaga survei menyampaikan hasil survei yang disebut menunjukkan tren elektabilitas Prabowo mengalami penurunan.
“Jangan bicara Prabowo 2029. Prabowo bisa sampai 2029 saja, itu sudah luar biasa,” ujar Tony kepada fajar.co.id, Minggu (28/6/2026).
Ia juga mengutip penjelasan peserta itu mengenai angka elektabilitas Prabowo.
“Hasil survei, kepuasan publik ke Prabowo terus turun. Begitu juga elektabilitasnya,” tukasnya.
Tony menekankan, saat dikonfirmasi kembali setelah diskusi, narasumber tersebut menyebut elektabilitas Prabowo berada di kisaran 22-23 persen.
Masih berdasarkan cerita Tony, peserta diskusi tersebut juga menyebut ada tokoh yang tren elektabilitasnya justru meningkat.
“Ada seseorang yang trend surveinya terus naik, bahkan jauh melampaui Prabowo,” imbuhnya.
Menurut Tony, sosok yang dimaksud adalah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
“Kampanye Dedi via medsos ternyata sangat efektif. Meski banyak gimmicknya, tetapi itulah yang menjadi selera masyarakat Indonesia,” terangnya.
Ia berpandangan bahwa strategi komunikasi Dedi melalui media sosial menjadi salah satu faktor yang membuat popularitasnya meningkat.
“Masyarakat yang mayoritas berpendidikan dan berpenghasilan rendah. Gak mau yang rumit-rumit. Karena hidup mereka sudah rumit. Mereka butuh kampanye yang simple dan mengena. Medsos menjadi media pilihan yang paling cocok. Dedi Mulyadi paham betul soal ini,” jelas dia.
Tony juga membandingkan pendekatan komunikasi politik Dedi Mulyadi dengan Presiden ke-7 RI, Jokowi.
Menurutnya, Jokowi berhasil membangun kedekatan dengan masyarakat melalui pola kampanye yang sederhana.
“Sebelum Dedi Mulyadi, ada sosok Jokowi. Jokowi sukses mengambil hati rakyat dengan kampanye yang sangat sederhana, bahkan didominasi oleh gimmicks,” tukasnya.
Ia kemudian membandingkannya dengan gaya komunikasi Prabowo maupun Anies Baswedan.
“Beda dengan Prabowo yang cenderung serius, formal bahkan tegas. Beda juga dengan Anies Baswedan. Orang pintar yang berkempanye dengan ide, gagasan dan program,” timpalnya.
Lebih jauh, Tony menyampaikan prediksi bahwa Dedi Mulyadi berpeluang menjadi pesaing kuat Prabowo apabila maju pada Pilpres 2029.
“Kampanye model Dedi Mulyadi dan Jokowi lebih kena bagi masyarakat model Indonesia. Dengan kampanye model gimmicks, dua kali Jokowi berhasil menumbangkan Prabowo,” Tony menuturkan.
“Pemilu 2014 dan 2019. Pertanyaannya, apakah pemilu berikutnya Prabowo akan ditumbangkan oleh Dedi Mulyadi? Sangat mungkin,” tambahnya.
Kata Tony, Jika Dedi Mulyadi nyapres 2029 dan berhasil kalahkan Prabowo, maka sejarah akan mencatat nasib Prabowo yang ditumbangkan oleh dua sosok yang pernah dibesarkannya, yaitu Jokowi dan Dedi Mulyadi.
“Keduanya menjadi seperti anak-anak macan yang sukses menerkam nasib tuan yang membesarkannya,” kuncinya.
Sumber: Fajar