Pernyataan Terakhir Sony Sebelum Terseret Kasus: “Demi Allah, Saya Tidak Pernah Menjual Titik SPPG!”

DEMOCRAZY.ID – Hanya sekitar satu jam sebelum pemerintah mengumumkan pergantian jajaran pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN), Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya, masih sempat menyampaikan penjelasan terbuka kepada publik melalui wawancara eksklusif bersama Tribunnews.

Dalam wawancara tersebut, Sony menjawab berbagai isu yang belakangan mengemuka terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai dari tudingan adanya praktik jual beli titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga mekanisme pengelolaan ribuan dapur MBG di seluruh Indonesia, hingga proses pembangunan sistem operasional program yang menurutnya dilakukan dari nol.

Di tengah sorotan publik terhadap pengelolaan program strategis nasional tersebut, Sony secara tegas membantah tuduhan bahwa dirinya terlibat dalam praktik jual beli titik SPPG.

“Demi Allah, saya tidak pernah menjual titik SPPG,” kata Sony dalam wawancara itu.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas berbagai tudingan yang beredar di ruang publik mengenai dugaan transaksi atau praktik percaloan dalam penentuan lokasi dapur MBG.

Menurut Sony, seluruh proses penetapan dan operasional SPPG dilakukan melalui mekanisme yang telah ditetapkan lembaga dan berada dalam pengawasan berlapis.

Ia menegaskan bahwa program MBG yang kini telah menjangkau ribuan titik layanan di berbagai daerah tidak dibangun secara instan.

Menurutnya, penyusunan sistem operasional, pengawasan, hingga koordinasi pelaksanaan di lapangan membutuhkan proses panjang dan melibatkan banyak pihak.

Sony juga mengungkapkan bahwa pada fase awal pengembangan sistem program, terdapat berbagai keterbatasan yang harus dihadapi.

Ia bahkan mengaku pernah menggunakan dana pribadi untuk mendukung proses pembangunan sistem ketika program masih berada dalam tahap perintisan.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam pelaksanaan MBG bukan hanya menyediakan makanan bergizi bagi penerima manfaat, tetapi juga memastikan tata kelola ribuan dapur berjalan sesuai standar, mulai dari kualitas bahan pangan, keamanan makanan, distribusi, hingga pelaporan administrasi.

Dalam penjelasannya, Sony menyebut pengelolaan lebih dari 28.000 dapur MBG di seluruh Indonesia memerlukan sistem pengawasan yang ketat dan terintegrasi.

Karena itu, ia menolak anggapan bahwa pengelolaan program sebesar itu dapat dikendalikan hanya oleh segelintir orang atau bergantung pada keputusan individu tertentu.

Ia menilai berbagai tudingan yang diarahkan kepadanya perlu dilihat secara proporsional dengan mempertimbangkan kompleksitas program yang dijalankan.

Sony menegaskan bahwa seluruh kebijakan operasional selama dirinya menjabat selalu mengacu pada aturan dan mekanisme yang berlaku.

Wawancara tersebut menjadi momen yang kemudian menarik perhatian publik.

Pasalnya, tidak lama setelah sesi wawancara berakhir, pemerintah mengumumkan perubahan kepemimpinan di lingkungan BGN.

Dalam perombakan tersebut, Sony termasuk salah satu pejabat yang tidak lagi menduduki jabatan sebelumnya.

Pergantian pimpinan itu sekaligus mengakhiri masa tugas Sony sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi.

Karena berlangsung hanya sekitar satu jam setelah wawancara direkam, percakapan tersebut kini menjadi rekaman terakhir Sony berbicara kepada publik dalam kapasitasnya sebagai pejabat BGN.

Di tengah berbagai dinamika yang mengiringi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, pernyataan Sony menjadi catatan penting mengenai bagaimana salah satu tokoh yang berada di balik operasional program nasional itu memandang tudingan yang dialamatkan kepadanya, sekaligus memberikan gambaran tentang tantangan pengelolaan jaringan layanan gizi yang menjangkau puluhan ribu titik di seluruh Indonesia.

Dengan nada tegas, Sony menutup penjelasannya dengan penyangkalan atas tuduhan yang selama ini beredar.

“Demi Allah, saya tidak pernah menjual titik SPPG,” ujarnya.

Kalimat itu kini menjadi salah satu pernyataan terakhir yang terekam dari Sony Sonjaya sebelum resmi meninggalkan kursi pimpinan BGN.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya