Sinyal Perang Dingin! PDIP Endus Misi Rahasia Jokowi Keliling Indonesia: ‘Ini Ancaman Nyata Bagi Prabowo’

DEMOCRAZY.ID – Rencana Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, kembali berkeliling Indonesia mulai Juni 2026 memunculkan berbagai spekulasi politik.

Langkah Jokowi itu dinilai bukan sekadar agenda menyapa masyarakat setelah lengser dari kursi presiden.

Sejumlah pihak melihat ada pesan politik yang sedang dibangun di tengah dinamika pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Isu tersebut mencuat setelah Sekretaris Jenderal Projo Freddy Alex Damanik menyebut kondisi kesehatan Jokowi telah pulih dan siap kembali melakukan perjalanan ke sejumlah daerah.

“Kesehatannya sudah pulih 99 persen, dan rencananya bulan depan beliau sudah akan keliling Indonesia kembali untuk menyapa masyarakat,” ujar Freddy.

Menurut Freddy, Jokowi akan didampingi relawannya ketika mengunjungi berbagai daerah.

Pernyataan itu langsung memancing reaksi dari elite politik, terutama dari PDI Perjuangan.

Kepentingan politik

Politikus PDIP Mohamad Guntur Romli menilai agenda tersebut sarat dengan kepentingan politik.

Ia menyebut langkah Jokowi bisa dibaca sebagai sinyal bahwa pengaruh politik mantan wali kota Solo itu belum selesai.

“Pertama, ini pesan halus sekaligus ancaman bagi Prabowo. Jokowi ingin menyatakan: saya masih diperhitungkan,” kata Guntur Romli.

Pernyataan itu menjadi menarik karena hubungan politik Jokowi dan PDIP dalam beberapa tahun terakhir memang mengalami keretakan.

Sejak Pilpres 2024, hubungan kedua pihak terlihat tidak lagi harmonis.

Jokowi dianggap lebih dekat dengan kubu Prabowo dibandingkan dengan partai yang telah membesarkan namanya.

Puncaknya terjadi ketika putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo.

Langkah tersebut memicu polemik besar di internal PDIP.

Kini, ketika Jokowi kembali aktif turun ke daerah, sebagian elite banteng melihat ada agenda konsolidasi kekuatan.

Apalagi, posisi politik keluarga Jokowi masih cukup kuat di pemerintahan.

Gibran saat ini menjabat Wakil Presiden RI.

Sementara itu, Kaesang Pangarep masih memimpin Partai Solidaritas Indonesia.

Di sisi lain, Bobby Nasution menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara.

Kondisi tersebut membuat Jokowi dinilai masih memiliki kepentingan untuk menjaga pengaruh politik keluarganya.

“Atau, ini persiapan jangka panjang menyaingi 2029, menjaga pengaruh dinasti Jokowi di tengah Prabowo yang punya basis sendiri,” ujar Guntur.

Analisis itu berkembang di tengah mulai menghangatnya pembicaraan mengenai peta politik menuju Pilpres 2029.

Meski pemerintahan Prabowo-Gibran baru berjalan, sejumlah manuver politik mulai terlihat.

Beberapa partai juga mulai memetakan ulang posisi koalisi mereka.

Situasi itu membuat setiap langkah tokoh nasional selalu dibaca dalam konteks politik jangka panjang.

Termasuk agenda keliling Indonesia yang akan dilakukan Jokowi.

Pengamat politik menilai Jokowi masih memiliki basis massa loyal yang besar di berbagai daerah.

Terutama di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian kawasan Indonesia timur.

Basis loyalis itu dinilai menjadi modal politik penting.

Di sisi lain, Prabowo juga tengah berusaha memperkuat kepemimpinannya sebagai presiden.

Karena itu, muncul spekulasi adanya tarik menarik pengaruh antara kekuatan politik Jokowi dan kubu Prabowo.

Meski demikian, hingga kini belum ada tanda-tanda terbuka mengenai keretakan hubungan keduanya.

Prabowo dan Jokowi justru beberapa kali tampil bersama dalam sejumlah agenda nasional.

Namun dalam politik, simbol dan gerak tubuh elite sering kali memiliki makna tersendiri.

Apalagi Jokowi dikenal sebagai figur yang memiliki kemampuan komunikasi politik cukup kuat.

Singgung pulang ke Solo

Guntur Romli juga menyinggung soal pernyataan Jokowi menjelang akhir masa jabatannya.

Saat itu, Jokowi sempat menyatakan ingin kembali ke Solo dan hidup sebagai warga biasa.

Namun rencana kembali turun ke berbagai daerah dinilai bertolak belakang dengan pernyataan tersebut.

“Ini malah akan terus menghimpun kekuatan politik. Itu pilihan pribadi Jokowi, tapi publik makin yakin omongan Jokowi tidak bisa dipegang,” kata Guntur.

Pernyataan keras Guntur memperlihatkan bahwa hubungan emosional antara PDIP dan Jokowi belum benar-benar pulih.

Padahal, Jokowi merupakan kader PDIP yang berhasil mengantarkannya menjadi presiden dua periode.

Kini, hubungan keduanya justru dipenuhi sindiran politik.

Sementara itu, kubu relawan Jokowi membantah jika agenda keliling Indonesia dikaitkan dengan manuver politik.

Relawan menyebut Jokowi hanya ingin kembali menyapa masyarakat setelah tidak lagi menjabat presiden.

Mereka menilai Jokowi tetap memiliki kedekatan emosional dengan rakyat.

Selain itu, Jokowi disebut masih sering menerima undangan dari berbagai kelompok masyarakat di daerah.

Fenomena mantan presiden tetap aktif dalam kegiatan politik sebenarnya bukan hal baru di Indonesia.

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono juga tetap aktif di panggung politik setelah lengser.

Megawati Soekarnoputri bahkan masih menjadi tokoh sentral dalam arah politik nasional melalui PDIP.

Karena itu, langkah Jokowi dianggap sebagai bagian dari tradisi politik elite nasional.

Namun bedanya, Jokowi memiliki jejaring relawan yang sangat besar.

Relawan inilah yang dinilai menjadi kekuatan politik alternatif di luar partai.

Dalam beberapa momentum politik, kekuatan relawan Jokowi terbukti mampu memengaruhi arah dukungan publik.

Situasi tersebut membuat banyak pihak masih memperhitungkan pengaruh Jokowi.

Apalagi tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi saat mengakhiri masa jabatannya tergolong tinggi.

Hal itu menjadi modal penting untuk tetap memainkan peran politik di belakang layar.

Di tengah kondisi ekonomi dan dinamika global yang terus berubah, stabilitas politik nasional juga menjadi sorotan.

Karena itu, relasi antara Jokowi dan Prabowo diperkirakan akan terus menjadi perhatian publik.

Jika keduanya tetap harmonis, pemerintahan dinilai akan lebih stabil.

Namun jika muncul persaingan pengaruh, situasi politik bisa berubah lebih dinamis.

Sampai saat ini, pihak Jokowi belum memberikan tanggapan langsung terkait pernyataan Guntur Romli.

Meski begitu, rencana Jokowi kembali turun ke daerah dipastikan akan terus menjadi bahan pembicaraan politik nasional dalam beberapa waktu ke depan.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya