Darah Membanjir, Air Mata Mengalir: Ngerinya Skenario Akhir Zaman Israel Raya Besutan Netanyahu!

DEMOCRAZY.ID – Istilah “Israel Raya” selama ini sering dipahami sebatas proyek perluasan wilayah Israel melalui pendudukan dan pembangunan permukiman di tanah Palestina.

Namun menurut pakar Taurat, Mazin al-Najjar, dalam karyanya Hadzihi Hiya Israil Kubra al-Lati Yuriduha Netanyahu yang dikutip dari Aljazeera, Jumat (15/5/2026), konsep tersebut jauh lebih besar dan lebih berbahaya daripada sekadar ekspansi geografis.

Bagi Netanyahu dan kelompok kanan Israel, “Israel Raya” bukan hanya tentang menambah luas wilayah kekuasaan Israel.

Proyek ini dipandang sebagai agenda geopolitik besar untuk membentuk ulang Timur Tengah di bawah dominasi Israel, sekaligus menjadikan negara itu sebagai pusat kekuatan regional bahkan global.

Konsep tersebut, menurut al-Najjar, dibangun di atas gagasan bahwa Israel harus menjadi aktor utama yang menentukan arah politik, keamanan, energi, dan keseimbangan kekuatan di kawasan.

Karena itu, proyek “Israel Raya” tidak lagi berhenti pada pendudukan Palestina, tetapi berkembang menjadi visi hegemonik yang mencakup pengaruh luas terhadap negara-negara Arab, Iran, Turki, bahkan jalur perdagangan dan energi internasional.

Dalam tiga puluh bulan terakhir, Israel dinilai semakin memperlihatkan bentuk nyata proyek tersebut. Jalur Gaza dihancurkan secara masif hingga sebagian besar infrastrukturnya luluh lantak.

Ratusan ribu warga menjadi korban jiwa maupun luka-luka, sementara jutaan lainnya hidup dalam pengungsian dan keterbatasan ekstrem.

Penduduk Gaza dipaksa bertahan di wilayah yang sangat sempit setelah sebagian besar kawasan dihancurkan dan diduduki kembali.

Dalam perspektif para pengkritik Israel, apa yang terjadi di Gaza bukan lagi operasi militer biasa, melainkan upaya sistematis untuk mengubah realitas demografis dan politik Palestina.

Di Tepi Barat, situasinya juga semakin memburuk. Israel memperluas pembangunan permukiman Yahudi, memperketat kontrol militer, serta menjalankan operasi penghancuran rumah dan pengusiran warga Palestina dalam skala yang disebut terbesar sejak Perang 1967.

Bagi kelompok kanan Israel, fakta-fakta di lapangan harus dibangun sedemikian rupa sehingga tidak lagi memungkinkan lahirnya negara Palestina yang merdeka.

Dengan kata lain, proyek “Israel Raya” dimulai dari penghapusan solusi dua negara dan penguatan dominasi penuh Israel atas seluruh wilayah Palestina historis.

Mazin al-Najjar juga menyoroti bagaimana ambisi Israel tidak berhenti di Palestina. Setelah melemahnya pemerintahan Suriah dan jatuhnya rezim Bashar al-Assad, Israel disebut memperluas kontrolnya atas wilayah Suriah di luar Dataran Tinggi Golan yang sebelumnya telah diduduki.

Di Lebanon selatan, Israel juga terus melakukan operasi militer dan penghancuran desa-desa perbatasan.

Sejumlah tokoh dalam pemerintahan Israel bahkan secara terbuka menyerukan penerapan kedaulatan Israel dan pembangunan permukiman baru di wilayah yang kini menjadi zona konflik.

Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, misalnya, pernah menyatakan bahwa Israel harus meluas hingga Damaskus.

Pernyataan tersebut dianggap bukan sekadar retorika politik, melainkan cerminan dari keyakinan ideologis kelompok kanan Israel mengenai batas geografis dan peran regional negara mereka.

Sementara itu, Benjamin Netanyahu sendiri beberapa kali menyampaikan bahwa ia memiliki keterikatan erat dengan visi regional Israel yang lebih besar dan lebih dominan.

Dalam analisis yang dikutip al-Najjar, mantan negosiator Israel Daniel Levy menjelaskan bahwa konsep “Israel Raya” saat ini lebih tepat dipahami sebagai proyek geopolitik ketimbang sekadar proyek teritorial.

Pendudukan wilayah hanyalah bagian paling terlihat. Ambisi yang lebih besar adalah membangun sistem regional baru dengan Israel sebagai pusat kekuatan utama.

Sistem itu akan bertumpu pada aliansi politik, dominasi militer, pengaruh ekonomi, dan kontrol terhadap jalur energi kawasan.

Karena itulah, menurut Levy, Netanyahu tidak hanya berusaha memperluas wilayah Israel, tetapi juga ingin menciptakan Timur Tengah baru yang bergantung pada Israel dalam urusan keamanan dan stabilitas.

Setelah Operasi “Badai Al-Aqsa”, upaya Israel untuk menormalisasi hubungan dengan negara-negara Arab mengalami hambatan besar akibat perang di Gaza.

Netanyahu kemudian dihadapkan pada dua pilihan yaitu melanjutkan normalisasi dengan kompromi terhadap Palestina, atau mempertahankan kebijakan keras terhadap Palestina sambil membangun dominasi regional melalui kekuatan militer.

Menurut al-Najjar, Netanyahu memilih jalan kedua. Dalam kerangka itu, Iran dipandang sebagai hambatan utama karena menjadi pusat kekuatan yang menantang dominasi Israel di kawasan. Karena itu, melemahkan Iran menjadi prioritas strategis.

Namun tujuan tersebut, menurut sejumlah analis Israel, tidak berhenti pada Iran saja. Negara-negara Teluk juga harus dibuat bergantung pada Israel dalam bidang keamanan dan jalur energi.

Dengan demikian, Israel dapat memosisikan dirinya sebagai pengatur utama keseimbangan regional.

Ketika konflik meningkat dan jalur perdagangan melalui Selat Hormuz terganggu, Netanyahu bahkan menyerukan pencarian jalur energi alternatif menuju Laut Mediterania melalui Israel.

Dalam visi tersebut, minyak dan gas dari kawasan Teluk akan dialirkan melalui jaringan pipa menuju pelabuhan Israel, menjadikan negara itu pusat transit energi internasional.

Aliansi

Salah satu bagian paling penting dalam proyek ini adalah pembentukan aliansi regional besar yang dipimpin Israel.

Dalam salah satu pertemuannya dengan Perdana Menteri India Narendra Modi, Netanyahu mengungkap visinya mengenai aliansi heksagonal atau aliansi enam poros yang melibatkan India, negara-negara Arab, negara-negara Afrika, Yunani, Siprus, dan beberapa negara Asia lainnya.

Israel ditempatkan sebagai pusat dari aliansi tersebut.

Melalui konsep ini, Israel ingin membangun tatanan regional baru yang mampu bertahan bahkan ketika pengaruh Amerika Serikat di Timur Tengah mulai menurun.

Netanyahu juga mulai menggambarkan Israel bukan sekadar sebagai kekuatan regional, tetapi sebagai kekuatan global.

Dalam sejumlah tulisan para strategis Israel, kawasan Timur Tengah digambarkan sebagai hutan, sedangkan Israel harus menjadi “raja hutan” yang menentukan arah permainan politik dan keamanan kawasan.

Meski proyek ini digerakkan Israel, keberhasilannya sangat bergantung pada dukungan Amerika Serikat.

Peneliti dari Cato Institute, John Hoffman, menilai bahwa Washington telah menghabiskan biaya politik, ekonomi, dan strategis yang sangat besar demi mendukung agenda regional Israel.

Amerika tidak hanya memberikan perlindungan diplomatik kepada Israel di forum internasional, tetapi juga membiayai perang-perangnya dan bahkan ikut terlibat secara militer dalam beberapa konflik.

Menurut Hoffman, kebijakan tersebut justru memperpanjang konflik tanpa akhir dan merugikan kepentingan Amerika sendiri.

Dia mengingatkan bahwa selama puluhan tahun Washington mencoba membentuk ulang Timur Tengah dengan kekuatan militer, namun hasilnya justru instabilitas berkepanjangan, meningkatnya sentimen anti-Amerika, dan konflik yang terus meluas.

Karena itu, Hoffman menilai bahwa proyek “Israel Raya” bukan hanya berbahaya bagi Timur Tengah, tetapi juga dapat menyeret Amerika ke dalam perang regional tanpa ujung yang menguras sumber daya dan legitimasi globalnya.

Konflik tanpa akhir?

Sejarawan dan jurnalis Inggris Andy Worthington memandang proyek Israel pasca 7 Oktober sebagai bentuk agresi tanpa batas yang dapat menyeret kawasan menuju kehancuran permanen.

Menurutnya, perang di Gaza telah menjadi model baru perang modern: penghancuran total wilayah sipil, pengawasan masif, kontrol ketat terhadap populasi, dan penggunaan teknologi militer secara ekstrem.

Worthington memperingatkan bahwa jika praktik semacam itu dibiarkan, maka Gaza bisa menjadi cetakan bagi konflik-konflik masa depan di berbagai belahan dunia.

Dia juga menilai dukungan negara-negara Barat terhadap Israel memperlihatkan bagaimana isu membela diri digunakan untuk membenarkan operasi militer yang sangat destruktif, sekaligus membatasi kebebasan berekspresi dan gerakan solidaritas terhadap Palestina di negara-negara Barat.

Penulis dan dokter asal Amerika, Josh Bazell, bahkan memperingatkan bahwa proyek “Israel Raya” dapat memicu bencana kemanusiaan terbesar di kawasan.

Menurutnya, ekspansi konflik ke Palestina, Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir, hingga Irak akan menyebabkan jutaan orang terusir dari tanah mereka dan ratusan ribu warga sipil menjadi korban.

Yang paling mengkhawatirkan, kata Bazell, adalah kemungkinan dunia Barat tetap memberikan dukungan politik dan militer kepada Israel meskipun konflik terus meluas.

Melalui kajiannya, Mazin al-Najjar menegaskan bahwa “Israel Raya” bukan lagi sekadar slogan ideologis atau teori politik. Ia telah berkembang menjadi proyek nyata yang terlihat dalam berbagai kebijakan militer, politik, dan geopolitik Israel dalam beberapa tahun terakhir.

Proyek tersebut tidak hanya berkaitan dengan pendudukan Palestina, tetapi juga menyangkut upaya membangun dominasi regional Israel atas Timur Tengah melalui kekuatan militer, aliansi politik, kontrol energi, dan perubahan keseimbangan kekuatan kawasan.

Para pengkritik proyek ini memperingatkan bahwa jika dibiarkan tanpa kendali, “Israel Raya” dapat menyeret Timur Tengah ke dalam konflik berkepanjangan dengan dampak global yang sangat besar—mulai dari krisis energi, gelombang pengungsi, keruntuhan stabilitas kawasan, hingga meningkatnya ketegangan internasional yang sulit dihentikan.

Sumber: Republika

Artikel terkait lainnya