DEMOCRAZY.ID – Kementerian Kesehatan RI melaporkan sedikitnya 23 kasus Hantavirus dan tiga kematian di sembilan provinsi dalam 2 tahun terakhir.
Kasus tersebut ditemukan di DI Yogyakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sulawesi Utara, NTT, Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, hingga Kalimantan Barat.
Munculnya kasus ini membuat sebagian masyarakat mulai khawatir dan mempertanyakan satu hal, apakah virus Hanta bisa berubah menjadi pandemi seperti Covid-19?
Dokter epidemiolog sekaligus ahli kesehatan masyarakat dan lingkungan dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengatakan masyarakat memang perlu waspada, tetapi tidak perlu panik berlebihan.
Menurutnya, hingga saat ini Hantavirus memiliki karakter penularan yang sangat berbeda dibanding virus corona penyebab Covid-19.
“Data ilmiah sampai saat ini hantavirus itu sangat kecil kemungkinan jadi pandemi seperti COVID-19,” ujar Dicky saya dihubungi Tribunnews, Jumat (8/5/2026).
Ia menjelaskan, reservoir utama virus ini adalah hewan pengerat seperti tikus liar, bukan manusia.
Karena itu, pola penyebarannya juga berbeda jauh dengan virus respirasi seperti SARS-CoV-2 atau influenza yang mudah menular antar manusia.
“Penularan manusia ke manusia sangat terbatas juga tidak punya efisiensi transmisi setinggi virus respiratori seperti SARS-CoV-2 atau influensa,” lanjutnya.
Dicky menjelaskan, Hantavirus merupakan penyakit zoonosis atau penyakit yang berasal dari hewan.
Virus ini paling sering menyebar melalui partikel kecil di udara yang berasal dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.
“Nah penularan ke manusia itu paling sering terjadi melalui manusia ini menghirup aerosol dari urin, feses atau air liur tikus yang sakit,” jelasnya.
Artinya, seseorang bisa terinfeksi tanpa menyentuh tikus secara langsung.
Kondisi lingkungan yang kotor, lembap, banyak tikus, atau area tertutup yang jarang dibersihkan menjadi tempat yang lebih berisiko.
Selain lewat udara, penularan juga bisa terjadi saat seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh wajah atau makanan.
Sementara penularan melalui gigitan tikus disebut lebih jarang terjadi.
Meski kecil kemungkinan menjadi pandemi global, Hantavirus tetap dianggap berbahaya karena tingkat fatalitasnya cukup tinggi pada kasus berat.
Menurut dr. Dicky, infeksi virus ini bisa berkembang cepat menyerang paru-paru.
Awalnya pasien biasanya hanya mengalami gejala umum seperti demam, nyeri otot, dan tubuh lemas.
Namun dalam beberapa hari kondisi dapat berubah drastis.
“Dalam beberapa hari bisa berkembang cepat jadi sesak nafas berat, paru-paru terisi cairan, penurunan oksigen drastis hingga shock,” ujarnya.
Kondisi ini secara medis menyerupai Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), yaitu gangguan paru berat yang bisa mengancam nyawa.
Dicky menyebut pada kasus berat, angka kematian bisa mencapai 40 persen, terutama jika diagnosis terlambat atau fasilitas ICU terbatas.
“Jadi yang mematikan bukan hanya virusnya tapi respon inflamasi berat dan kerusakan paru yang sangat cepat,” katanya.
Meski risiko pada populasi umum masih rendah, Indonesia dinilai memiliki sejumlah faktor yang membuat kewaspadaan tetap penting.
Mulai dari populasi tikus yang tinggi, banjir musiman, sanitasi perkotaan, hingga kepadatan pelabuhan dan pergudangan.
“Nah untuk saat ini Indonesia ya risiko populasi umum masih sangat rendah. Tapi Indonesia punya beberapa faktor yang membuat kewaspadaan tetap penting,” jelas Dicky.
Kelompok yang paling rentan antara lain petugas kebersihan, pekerja gudang, pekerja pelabuhan, petani, masyarakat di wilayah banjir, hingga orang yang sering berada di lingkungan tertutup dan kotor dengan banyak tikus.
Masalah lain, Hantavirus juga disebut bisa sulit dikenali karena gejalanya mirip penyakit lain.
“Gejalanya mirip leptospirosis, dengue atau pneumonia berat,” kata dr. Dicky.
Akibatnya, kasus bisa saja tidak terdiagnosis sejak awal.
Dr. Dicky menjelaskan, secara umum Hantavirus tidak mudah menular antar manusia.
Namun memang ada jenis tertentu yang pernah dilaporkan dapat menular dalam kontak sangat dekat.
“Kasus kapal pesiar yang sedang disorot dunia investigasi ini sedang berlangsung untuk melihat apa ada keterlibatan strain Andes virus yaitu jenis hantavirus langka yang pernah terbukti bisa menular antar manusia dalam kontak sangat dekat dan terbatas,” jelasnya.
Meski demikian, ia kembali menegaskan bahwa pola penularannya tetap berbeda jauh dibanding Covid-19.
Di tengah munculnya kekhawatiran publik terhadap wabah baru, Dicky meminta masyarakat tetap rasional.
Menurutnya, trauma sosial setelah pandemi Covid-19 membuat banyak orang menjadi sensitif setiap ada isu penyakit baru.
Namun ia menilai kewaspadaan tetap penting dilakukan melalui langkah sederhana menjaga kebersihan lingkungan.
“Paling penting ya waspada tetap rasional, pola hidup bersih sehat di segala aspek, jaga kebersihan lingkungan, usahakan di rumah tidak ada tikus,” katanya.
Ia juga menyarankan masyarakat memakai masker dan sarung tangan saat membersihkan gudang atau area kotor, terutama saat musim hujan dan banjir.
Jika mengalami demam, nyeri otot, dan sesak napas setelah terpapar lingkungan dengan sanitasi buruk, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke dokter.
Selain itu, dr. Dicky mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya informasi yang beredar di media sosial tanpa memeriksa sumbernya terlebih dahulu.
Sumber: Tribun