Jujur Janggal! Secret Service Biarkan Trump ‘Duduk Manis’ Saat Tembakan Pertama Meletus

DEMOCRAZY.ID – Kronologi lengkap insiden penembakan di acara White House Correspondents’ Dinner mulai terungkap.

Seorang pria bernama Cole Tomas Allen bersenjata diduga menerobos pos pemeriksaan Secret Service sebelum akhirnya memicu kepanikan massal di ballroom, tempat Presiden AS Donald Trump dan sekitar 2.600 tamu menghadiri gala makan malam tahunan.

Menurut rekonstruksi awal petugas kepolisian dan saksi mata, insiden bermula pada pukul 20.34 waktu setempat ketika pelaku menerjang metal detector di titik pemeriksaan keamanan menuju ballroom.

Cole Tomas Allen tersebut diduga membawa dua senjata api serta beberapa pisau.

Beberapa detik setelah pelanggaran keamanan terjadi, rentetan tembakan terdengar di area ballroom.

Para tamu yang berada di bagian belakang ruangan langsung tiarap dan berlindung di bawah meja saat aroma mesiu mulai tercium.

Saat itu, Trump tengah duduk di meja utama bersama Melania Trump ketika penghibur acara sedang tampil di atas panggung.

Dilansir dari CBS News, Secret Service baru mengevakuasi presiden lebih dari 20 detik setelah suara tembakan pertama terdengar.

Wakil Presiden JD Vance menjadi pejabat pertama yang ditarik dari panggung.

Trump sempat tetap berada di kursinya sebelum agen keamanan memerintahkannya untuk tiarap.

Beberapa agen kemudian menutupi tubuh Trump sebelum membawanya keluar dari panggung.

Dalam waktu kurang dari setengah menit, seluruh pejabat tinggi pemerintahan mulai dievakuasi dari lokasi.

Sementara itu, Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller disebut menggunakan tubuhnya untuk melindungi istrinya yang sedang hamil saat petugas bersenjata menyisir ballroom.

Sementara itu, pengamanan terhadap Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. juga diperketat dengan agen federal menutupi tubuhnya sebelum membawanya keluar.

Sekitar 40 menit setelah insiden, Trump mengonfirmasi melalui media sosial bahwa pelaku telah ditangkap.

Trump sempat meminta acara tetap dilanjutkan, namun keputusan akhir diserahkan kepada aparat penegak hukum.

Pasca penembakan kepada Presiden AS, Donald Trump, sejumlah media AS menyoroti perihal motif insiden tersebut.

Hal ini lantaran usai penembakan, sejumlah politisi dari partai Republik menyerang rival mereka, partai Demokrat yang dianggap selalu menyerukan kampanye anti-Trump.

Pasca-kejadian, sejumlah tokoh Demokrat menyampaikan kecaman terhadap kekerasan politik.

Namun, kubu Republik menilai pernyataan itu kontradiktif dengan retorika yang selama ini mereka lontarkan terhadap Trump.

Senator Demokrat Elissa Slotkin mengatakan dirinya bersyukur presiden dan tamu acara selamat.

“Kekerasan politik tidak punya tempat di Amerika,” tulis Slotkin di media sosial.

Namun kelompok riset Partai Republik, RNC Research seperti dilansir dari NY Post, menyoroti bahwa Slotkin sebelumnya pernah menyebut Trump sebagai ancaman eksistensial bagi demokrasi, yang menurut mereka merupakan bahasa politik yang dapat memicu ekstremisme.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya