Murni Penembakan atau Siasat Trump? Republik Tuduh Partai Demokrat Sebagai ‘Biang Kerok’!

DEMOCRAZY.ID – Pasca penembakan kepada Presiden AS, Donald Trump, sejumlah media AS menyoroti perihal motif insiden tersebut.

Hal ini lantaran usai penembakan, sejumlah politisi dari partai Republik menyerang rival mereka, partai Demokrat yang dianggap selalu menyerukan kampanye anti-Trump.

Pasca-kejadian, sejumlah tokoh Demokrat menyampaikan kecaman terhadap kekerasan politik.

Namun, kubu Republik menilai pernyataan itu kontradiktif dengan retorika yang selama ini mereka lontarkan terhadap Trump.

Senator Elissa Slotkin mengatakan dirinya bersyukur presiden dan tamu acara selamat.

“Kekerasan politik tidak punya tempat di Amerika,” tulis Slotkin di media sosial.

Namun kelompok riset Partai Republik, RNC Research seperti dilansir dari NY Post, menyoroti bahwa Slotkin sebelumnya pernah menyebut Trump sebagai ancaman eksistensial bagi demokrasi, yang menurut mereka merupakan bahasa politik yang dapat memicu ekstremisme.

Sorotan serupa diarahkan kepada Tim Walz, mantan kandidat wakil presiden dari Partai Demokrat, yang sebelumnya kerap menyamakan Trump dengan figur fasis dan Nazi.

“Tidak ada yang lebih berbahaya bagi negara ini daripada Donald Trump,” kata Walz dalam kampanye 2024 yang kembali diangkat usai insiden oleh politisi Republik.

Sementara itu, Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries juga dikritik setelah hanya beberapa hari sebelum penembakan menyerukan perlawanan maksimal terhadap pemerintahan Trump.

Setelah insiden, Jeffries justru menulis bahwa kekerasan dan kekacauan di Amerika harus diakhiri.

Politisi Partai Republik menilai peristiwa ini menunjukkan retorika politik di Amerika telah semakin panas dan berbahaya.

Mereka mendesak semua pihak menurunkan tensi politik agar tragedi serupa tidak terulang.

Otoritas hukum AS menangkap seorang pria bernama Cole Tomas Allen, yang diduga sebagai pelaku penembakan dalam insiden di luar acara makan malam tahunan White House Correspondents’ Association (WHCA), Sabtu (25/4/2026) malam waktu setempat.

Menurut laporan resmi pemerintah AS, Allen diduga menerobos pos pemeriksaan keamanan sambil membawa beberapa senjata sebelum akhirnya ditembak dan dilumpuhkan petugas Secret Service.

Presiden Donald Trump menyebut peristiwa itu sebagai upaya pembunuhan terhadap dirinya.

“Seorang pria menerjang pos keamanan dengan membawa banyak senjata, dan dia dijatuhkan oleh anggota Secret Service yang sangat berani,” kata Trump dalam konferensi pers usai insiden seperti dilansir dari Aljazeera.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya