Saudara kita pedagang (etnis Tionghoa) sejak dulu kala memiliki kultur/budaya sebagai pedagang ulet, ramah, ceria, tampil sangat santun ketika melayani siapapun untuk kekuasaan ekonominya dan hidup dengan kekayaannya.
Bahkan untuk skala ekonomi besar, dengan rayuan maut, begitu mudah menaklukkan pengambil kebijakan politik dan ekonomi negara.
Oligarki memberikan pelayanan super mutahir memenuhi semua kebutuhan / fasilitas dari urusan perut sampai kebutuhan nafsu birahinya.
Tetapi semua pejabat negara dari pusat sampai daerah harus menjadi pelayan Oligarki sebagai majikannya.
Sadar atau tidak betapa kejamnya serangan Oligarki bisnis macam – macam berdalih Program Strategis Nasional ( PSN ), dengan merampas tanah rakyat dan negara tidak bisa berkutik selain menyerah.
Penderitaan, kesedihan, rasa pilu masyarakat pribumi harus menyerah di negeri sendiri dampak fatsun praktek dan logika kapitalisme. Semua dalam kendali Angpao Oligarki.
Relasi kemanusiaan sebagai manusia yang manusiawi lenyap. Tersisa pejabat penyelenggara negara seperti manusia mati sebelum mati, yang dimatikan oleh kaum pemilik modal kapitalis.
Ditelan sistem kapitalis yang manis di permukaan, tapi keras dan kejam di dalamnya.
Kapitalis wataknya memang begitu memiliki wajah ganda, wajah depan yang memikat, wajah belakang yang menindas.
Seperti topeng, ia menutupi watak kejamnya sebagai kapitalis tapi justru karena itu kita semakin mudah limbung.
Dan pejabat yang limbung itulah yang membuat mesin kapitalisme terus berputar tanpa henti.
Apakah mungkin menyingkap topeng itu, melihat langsung wajah asli sistem yang kita jalani.
Atau justru kita sudah terlalu terbiasa dengan senyuman palsu Oligarki, hingga kejamnya tak lagi tampak.
Nikmati dulu saja ketika rambu rambu Pancasila dan UUD 45 ( asli ) sudah dicabut negara pasti akan berantakan menjadi adi negara kapitalis dan individu.
Apa kita harus tetap bersabar karena ketololan berjamaah, sembari menunggu negara hancur.
Anehnya saat ini muncul – pressure halus jangan salahkan apalagi akan melengserkan Prabowo Subianto yang tidak berdaya dari kepungan Kabinet Oligarki.
Prabowo Subianto sebagai Presiden harus bertanggungjawab dan siap menerima resiko dari peran, fungsi dan tanggungjawabnya yang tidak berfungsi sebagai kepala negara.
Seenaknya menyandarkan kelelahannya dengan kekuatan di luar dirinya sebagaimana Presiden. ***