Di Ujung Tanduk! 2 Eks PM Israel Ingin Gulingkan Netanyahu

DEMOCRAZY.ID – Naftali Bennett dan Yair Lapid resmi berkoalisi membentuk Partai Beyahad untuk meruntuhkan kekuasaan panjang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Langkah politik strategis ini bertujuan menyatukan kekuatan oposisi dalam satu wadah besar menjelang pemilu bulan Oktober.

Penyatuan ini diprediksi menjadi ancaman nyata bagi stabilitas politik Likud yang telah mendominasi pemerintahan selama belasan tahun.

“Saya senang mengumumkan bahwa malam ini, bersama teman saya Yair Lapid, saya mengambil langkah paling Zionis dan patriotik yang pernah kami lakukan untuk negara kami,” ujar Bennett dikutip dari Frace24.

“Malam ini, kita bersatu dan mendirikan partai Beyahad (Bersama) di bawah kepemimpinan saya, sebuah partai yang akan membawa kemenangan besar dan membuka era baru bagi negara kita yang indah.”

Partai baru ini membawa misi utama untuk membongkar kelalaian intelijen terkait serangan besar pada 7 Oktober 2023.

Bennett berjanji akan membentuk komisi penyelidikan nasional yang selama ini terus ditolak oleh pemerintahan kabinet Netanyahu.

Narasi pertanggungjawaban ini menjadi senjata politik utama untuk menarik simpati warga yang kecewa atas kegagalan sistem keamanan.

Lapid pun memberikan dukungannya secara terbuka terhadap integritas rekan barunya tersebut di hadapan publik.

“Bennett adalah politisi sayap kanan, tapi dia jujur, dan ada kepercayaan di antara kami,” tegas Lapid.

Lapid memandang kolaborasi ini sebagai upaya serius untuk memulihkan kondisi internal negara yang dianggap sedang krisis.

“Langkah ini menghasilkan penyatuan Blok Perbaikan, yang memungkinkan semua upaya difokuskan untuk memimpin Israel menuju perbaikan yang diperlukan,” tulis Lapid di media sosial X.

Keduanya sepakat bahwa kepemimpinan saat ini telah gagal dalam menangani konflik berkepanjangan dengan pihak luar.

Bahkan, Lapid sempat mengkritik keras kebijakan gencatan senjata dengan Iran yang disebutnya sebagai bencana politik besar.

Kini mereka juga merangkul Gadi Eisenkot dari Partai Yashar untuk memperluas basis dukungan massa di tengah.

Naftali Bennett merupakan mantan perwira komando dan pengusaha teknologi sukses yang memiliki daya tarik bagi pemilih muda.

Meskipun pernah menjadi penasihat Netanyahu, Bennett kini bertransformasi menjadi rival terkuat yang konsisten mengkritik kebijakan mantan mentornya.

Sementara itu, Yair Lapid membawa latar belakang jurnalis senior yang memiliki pengaruh kuat di parlemen melalui Yesh Atid.

Rekam jejak mereka saat memimpin koalisi pelangi pada 2021 menjadi bukti nyata kapasitas mereka menggeser dominasi sayap kanan.

Berdasarkan jajak pendapat terbaru, figur Bennett dianggap paling berpeluang besar untuk memenangkan kursi perdana menteri selanjutnya.

Persaingan ini memuncak setelah pemerintahan koalisi Bennett-Lapid runtuh pada akhir tahun 2022 dan digantikan kembali oleh Netanyahu.

Netanyahu sendiri adalah pemimpin terlama dalam sejarah Israel yang telah menjabat selama total 18 tahun di berbagai periode.

Ketegangan politik meningkat pasca serangan Hamas, di mana publik mulai mempertanyakan kompetensi kepemimpinan nasional dalam menjaga kedaulatan.

Pemilu yang dijadwalkan paling lambat akhir Oktober 2026 akan menjadi medan pertempuran antara status quo dan gerakan perubahan.

Partai Beyahad kini memposisikan diri sebagai solusi atas kebuntuan politik yang melanda Israel dalam beberapa tahun terakhir.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya