Ahli Militer China Telaah ‘Titik Lemah’ Militer AS Perang Melawan Iran

DEMOCRAZY.ID – Menurut pengamat militer China Tiongkok menipisnya persediaan amunisi militer Amerika Serikat (AS) akibat perang melawan Iran.

Dan terutama karena terbatasnya kapasitas produksi amunisi akan menjadi kelemahan AS jika menghadapi musuh yang lebih kuat dalam perang.

Selama 39 hari perang sebelum gencatan senjata dengan Iran, AS diperkirakan telah menggunakan sekitar setengah dari rudal pertahanan udara Patriot dan pencegat Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) jarak jauhnya .

Persediaan rudal pencegat Standard Missile 3 (SM-3) dan Standard Missile 6 (SM-6) yang diluncurkan dari kapal juga telah menurun secara signifikan, menurut laporan yang diterbitkan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada Rabu (22/4/2026) kemarin.

Sementara itu, militer AS telah menggunakan antara 40 hingga 70 dari 90 Rudal Serangan Presisi (PrSM), amunisi tercanggih yang dikembangkan untuk peluncur roket ganda Himar.

Laporan lembaga kajian tersebut juga mengungkapkan bahwa lebih dari seperempat dari 3.100 rudal jelajah Tomahawk dan hampir seperempat dari 4.400 rudal siluman Joint Air-to-Surface Standoff Missiles (JASSM) telah ditembakkan.

CSIS memperingatkan bahwa penipisan tersebut akan semakin membatasi pasukan AS jika terjadi konflik dalam waktu dekat, mengingat persediaan pra-perang yang tidak mencukupi.

“Perang melawan pesaing setara yang mumpuni seperti China akan menghabiskan amunisi dengan laju yang lebih besar.”

Meskipun Pentagon telah menandatangani serangkaian kontrak yang akan membantu memperluas produksi rudal tahun ini, jangka waktu pengiriman untuk mengganti ketujuh sistem ini akan memakan waktu tiga hingga lima tahun, bahkan dengan peningkatan kapasitas, menurut laporan tersebut.

Ahli Militer China: Persiapan AS Buruk

Para analis China Tiongkok mengatakan kekurangan amunisi militer AS disebabkan oleh kurangnya pandangan ke depan di Washington dan persiapan yang buruk untuk konflik tersebut, serta basis industri Amerika yang lemah.

“Basis industri pertahanan AS masih menghadapi masalah kapasitas produksi yang tidak mencukupi. Kecepatan produksi mereka tidak akan pernah bisa mengimbangi tingkat konsumsi militer AS,” kata Pakar Militer China, Wei Dongxu, kepada stasiun televisi pemerintah CCTV, Kamis (23/4/3036).

Wei mengatakan bahwa AS akan menghadapi kekurangan teknis yang signifikan ketika berhadapan dengan perang intensitas tinggi melawan musuh yang lebih mumpuni.

Seraya mencatat bahwa investasi yang beragam dan sumber daya yang tersebar di industri pertahanan AS telah menghambat kapasitas produksinya.

AS boros pakai amunisi

Peneliti Militer, Liu Yi mencatat bahwa asumsi militer AS tentang perang yang singkat dan menentukan, persiapan dan pengadaan amunisi ofensif jauh melampaui persiapan dan pengadaan amunisi defensif.

Dalam analisis yang diterbitkan oleh majalah militer Modern Ships, Liu menggemakan laporan CSIS, yang mengungkapkan tingkat konsumsi amunisi defensif yang lebih tinggi, seperti THAAD, Patriot, dan SM-3, dibandingkan dengan amunisi ofensif.

“Hal ini menyebabkan seluruh perangkat militer AS menghadapi biaya yang sangat tinggi untuk pertahanan udara dan intersepsi ketika menghadapi serangan balasan Iran – sebuah hasil yang sangat tidak ekonomis dalam konflik asimetris,” kata Liu.

Liu menambahkan bahwa kurang dari tiga minggu setelah perang dimulai, militer AS telah menggunakan lebih banyak rudal pencegat daripada pengadaan yang dijadwalkan untuk sepanjang tahun 2026.

“Seperti yang dikatakan Stalin, kuantitas memiliki kualitas tersendiri.”

Sebagai bagian dari anggaran tahun 2027, Pentagon ingin menghabiskan lebih dari US$30 miliar untuk amunisi penting, termasuk pencegat rudal, yang persediaannya telah menipis secara kritis selama perang Iran, demikian dilaporkan Associated Press pada hari Selasa.

Jules Hurst, penjabat wakil menteri pertahanan dan pengawas keuangan Pentagon, mengatakan pada hari Selasa bahwa anggaran tersebut dirumuskan sebelum perang melawan Iran, menurut laporan tersebut.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya