Sikap Tegas NasDem: Tolak Mentah-Mentah Merger ke Gerindra, Ini Pernyataan Resminya!

DEMOCRAZY.ID – Arus bawah dan jajaran elit Partai NasDem akhirnya memberikan jawaban tegas terkait rumor peleburan atau merger dengan Partai Gerindra yang memicu polemik nasional.

NasDem menegaskan bahwa partai yang telah dibangun selama 15 tahun tersebut tidak akan hilang begitu saja hanya demi sebuah wacana fusi.

Berikut adalah poin-poin sikap resmi dan pernyataan tajam dari internal Partai NasDem menanggapi isu yang pertama kali digulirkan oleh pemberitaan media tersebut:

1. NasDem Bukan Objek Akuisisi: “Ini Masalah Ideologi”

Wakil Ketua Umum DPP Partai NasDem, Saan Mustopa, memberikan klarifikasi fundamental terkait terminologi yang beredar.

Menurutnya, dalam dunia politik tidak dikenal istilah “merger” atau “akuisisi” layaknya perusahaan komersial.

“Jika pun ada pembicaraan, istilah yang tepat adalah fusi. Namun, hingga saat ini isu tersebut baru sebatas gagasan atau wacana yang muncul dalam dinamika politik, belum ada pembahasan resmi sedikit pun di internal partai,” tegas Saan.

2. Kecaman Internal: Isu Merger Dinilai Cacat Logika

Nada lebih keras datang dari Anggota Fraksi NasDem DPR RI, Arif Rahman. Ia menilai isu peleburan tersebut sangat tidak masuk akal dan terkesan dipaksakan oleh pihak-pihak tertentu.

“NasDem sudah dibangun selama 15 tahun dengan basis kader yang sangat besar di seluruh Indonesia. Sangat tidak logis jika harus dilebur begitu saja. Kami memiliki identitas, ideologi, dan cita-cita politik yang berbeda dengan partai lain,” ungkap Arif.

3. Tawaran Solusi: Pembentukan “Political Bloc”

Alih-alih melakukan peleburan fisik yang menghilangkan eksistensi partai, NasDem justru menawarkan konsep “Political Bloc” atau Blok Politik.

Konsep ini dinilai lebih realistis sebagai bentuk konsolidasi kekuatan politik nasional untuk mengawal pemerintahan tanpa harus mengorbankan jati diri masing-masing partai.

4. Protes Keras Terhadap Laporan Majalah Tempo

Sikap resmi partai juga mencakup rasa keberatan mendalam atas laporan utama Majalah Tempo yang dinilai menyesatkan.

Kader NasDem di berbagai daerah, mulai dari Jawa Timur hingga Bali, menyatakan luka hati atas narasi “PT Nasdem Indonesia Raya” yang dianggap merendahkan martabat partai.

Buntut dari kekecewaan ini, NasDem menempuh dua jalur:

  • Aksi Massa: Gelombang protes damai di berbagai daerah sebagai bentuk solidaritas.
  • Jalur Hukum Jurnalistik: Mendesak Dewan Pers untuk memberikan sanksi tegas karena pemberitaan tersebut dinilai melanggar kode etik jurnalistik.

5. Komitmen Menjaga Marwah Partai

Seluruh elemen partai, dari tingkat pusat (DPP) hingga daerah (DPD), telah membulatkan tekad untuk tetap menjaga marwah dan eksistensi Partai NasDem sebagai entitas politik yang mandiri.

Bagi mereka, kemandirian partai adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dalam negosiasi politik mana pun.

Sumber: Fajar

Artikel terkait lainnya