DEMOCRAZY.ID – Anggota DPR menyoroti masalah-masalah taruna Akademi Kepolisian (Akpol) dan curiga bahwa mereka-mereka yang bermasalah itu masuk Akpol lewat jalur culas.
“Saya lihat Akpol ini ada yang dikeluarkan satu orang ya, perilaku menyimpang,” kata anggota Komisi III DPR Fraksi PDI-Perjuangan, Irjen (Purn) Safaruddin, dalam rapat di Komisi III DPR, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Rapat ini dihadiri oleh Plt Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri Irjen Andi Rian Djajadi.
Safarudin menyoroti masih banyaknya kekerasan yang terjadi di Akpol dan SPN. Selain itu, ada juga taruni Akpol yang mengalami strok.
“Ada juga yang strok, taruni strok. Harusnya ini tidak terjadi,” kata dia.
Safaruddin curiga taruni itu sebenarnya titipan atau membayar, karena mereka yang lolos ke Akpol pasti sehat.
“Berarti rekrutmennya yang salah. Rekrutmennya yang salah. Bayar atau titipan? Bayar atau titipan? Sehingga Lemdiklat ini memproses itu tidak memenuhi standar kesehatan,” kata eks Kapolda Kalimantan Timur tersebut.
Sebelum Safarudin berbicara, Plt Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri Irjen Andi Rian Djajadi melaporkan sejumlah peserta didik bermasalah di Polri sepanjang tahun 2025.
Di Akademi Kepolisian (Akpol), ada satu taruna yang dikeluarkan atau di-drop out (DO) karena perilaku menyimpang.
“Di STIK (Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian), 57 peserta kami berikan sanksi turun nilai mental karena mengubah nilai ujian, 4 peserta terindikasi narkoba, dan 4 peserta menggunakan joki di dalam proses ujian,” ujar Andi Rian saat rapat Komisi III DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Selanjutnya, di Pusdik Brimob, Andi Rian menyebut pihaknya memberhentikan siswa yang terlibat kasus pencurian dan narkoba.
Tidak hanya yang bermasalah, Andi Rian turut mengungkapkan ada peserta didik yang meninggal saat menjalani pendidikan.
“Di Akpol, seorang taruni gugur akibat heat stroke. Terdapat dua peserta Setukpa (Sekolah Pembentukan Perwira) dan satu peserta Pusdik Sabhara yang meninggal akibat serangan jantung,” jelasnya.
“Satu personil pada Pusdik Brimob karena asam lambung, dan satu personil di SPN Papua karena radang paru-paru dan infeksi HIV,” sambung Andi Rian.
Andi Rian menyampaikan, permasalahan ini menjadi evaluasi besar bagi pengawasan kesehatan dalam proses seleksi Polri.
Sumber: Kompas