DEMOCRAZY.ID – Dunia maya baru-baru ini dihebohkan oleh rekaman video yang menunjukkan ribuan burung gagak terbang dalam kelompok padat di atas langit Tel Aviv, Israel.
Fenomena ini menjadi viral di tengah situasi geopolitik yang memanas antara Israel dan Iran, sehingga memancing perhatian luas dari masyarakat internasional.
Pemandangan burung-burung hitam yang menutupi cakrawala kota menciptakan suasana mencekam bagi siapa pun yang menyaksikannya.
Banyak pengguna media sosial dengan cepat mengaitkan kejadian ini dengan pesan-pesan apokaliptik atau pertanda hari kiamat di wilayah tersebut.
Spekulasi ini muncul karena burung gagak sering kali diidentikkan dengan simbol kematian atau malapetaka dalam berbagai budaya.
“Di tengah dentuman konflik yang masih berlangsung di wilayah tersebut, pemandangan ini dianggap oleh sebagian orang sebagai firasat buruk bagi masa depan kawasan tersebut,” tulis News24Online, Rabu (25/3/2026).
Secara spesifik, beberapa netizen menghubungkan kemunculan burung-burung ini dengan teks-teks keagamaan, termasuk kitab Wahyu dalam Alkitab.
Dalam narasi tersebut, disebutkan bahwa burung pemakan bangkai sering kali muncul sebagai tanda setelah terjadinya perang besar atau kehancuran.
Interpretasi simbolis inilah yang membuat video-video tersebut tersebar sangat cepat dan memicu diskusi hangat mengenai kaitan antara fenomena alam dan nubuat agama.
Meskipun narasi mistis berkembang pesat, para ahli lingkungan dan pakar ornitologi memberikan pandangan yang jauh lebih rasional.
Menurut para ahli, perilaku berkumpulnya burung dalam jumlah besar, atau yang sering disebut dengan murmuration, adalah hal yang bisa dijelaskan secara ilmiah.
Mereka menekankan bahwa masyarakat tidak perlu terburu-buru mengambil kesimpulan yang bersifat supranatural tanpa bukti yang kuat.
Pakar menjelaskan bahwa fenomena ini kemungkinan besar dipicu oleh faktor alamiah seperti migrasi musiman.
Wilayah Timur Tengah memang dikenal sebagai jalur utama migrasi bagi berbagai jenis burung yang berpindah tempat untuk menghindari perubahan cuaca ekstrem.
Selain itu, ketersediaan sumber makanan di area perkotaan atau perubahan suhu lingkungan juga dapat menyebabkan burung-burung tersebut berkumpul di titik tertentu.
Faktor lingkungan lainnya, seperti gangguan pada habitat asli mereka atau perubahan pola cuaca lokal, juga bisa menjadi penyebab utama.
Gagak adalah hewan yang cerdas dan sangat sosial; mereka sering terbang bersama untuk perlindungan dari predator atau untuk saling berbagi informasi mengenai lokasi makanan.
Jadi, apa yang tampak seperti “serbuan” sebenarnya adalah pola bertahan hidup yang biasa bagi spesies ini.
Ketegangan psikologis akibat perang yang sedang terjadi di Israel dan Iran tampaknya menjadi faktor utama mengapa fenomena ini dianggap begitu menyeramkan.
Dalam kondisi stres kolektif, manusia cenderung mencari pola atau makna di balik kejadian alam yang tidak biasa.
Hal ini menjelaskan mengapa sebuah fenomena migrasi burung yang rutin bisa berubah menjadi narasi besar mengenai akhir zaman di mata publik.
Sumber: BeritaSatu