AS ‘Rekayasa’ Perang Iran untuk Hapus Utang Lewat Kripto Ramai di Medsos

DEMOCRAZY.ID – Beredar luas di media sosial narasi yang mengaitkan perang Iran dengan dugaan skenario Amerika Serikat (AS) untuk menghapus utang nasionalnya melalui devaluasi dolar dan mekanisme kripto.

Klaim ini merujuk pada pernyataan penasihat Presiden Rusia, Anton Kobyakov, dalam Forum Ekonomi Timur 2025, pada 6 September 2025.

Dalam unggahan akun @SMO_VZ di media sosial X memicu perbincangan publik setelah menyebut AS tengah merancang perang dengan Iran sebagai bagian dari strategi menghapus utang nasionalnya yang kini disebut mencapai USD39,2 triliun.

Narasi tersebut mengaitkan konflik geopolitik dengan dugaan rekayasa ekonomi global berbasis mata uang kripto dan emas.

“AS sekarang mencoba untuk menulis ulang aturan pasar emas dan mata uang kripto. Ingat ukuran utang mereka, USD35 triliun dolar,” ujar Kobyakov dalam narasinya, dikutip Kamis (26/3/2026).

Mengorbankan Dunia

Kobyakov juga menyebut sektor emas dan kripto sebagai alternatif terhadap sistem keuangan global tradisional.

“Seperti pada tahun 1930-an dan 1970-an, AS berencana untuk menyelesaikan masalah keuangannya dengan mengorbankan dunia,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengklaim Washington berpotensi memanfaatkan stablecoin untuk mengelola utang.

Sebab, mereka memiliki utang mata uang sebesar 35 triliun dolar dan akan memindahkannya ke cloud kripto untuk mendevaluasinya dan mulai dari awal.

Perang Iran

Unggahan tersebut juga mengaitkan ketegangan terbaru dengan Iran sebagai bagian dari skenario percepatan krisis ekonomi global.

Pasalnya, gangguan terhadap pasokan minyak, gas, dan pupuk dunia akibat konflik akan memicu keruntuhan pasar energi dan perbankan global.

“Perang dengan Iran ini + runtuhnya pasar minyak → runtuhnya perbankan → depresi dunia semuanya dirancang untuk mempercepat ini,” tulis dalam narasi tersebut.

Tak hanya itu, lebih dari 23 persen pasokan minyak dan gas dunia serta 30 persen pupuk global terdampak, yang diklaim akan mempercepat krisis ekonomi.

Penipuan Utang

Dengan demikian, dalam unggahan tersebut menyoroti tuduhan AS melakukan penipuan utang melalui mata uang kripto dengan memanfaatkan pasar emas dan kripto untuk melemahkan sistem keuangan global. Tujuannya AS untuk menipu kreditur global dan menghindari beban utang melalui mekanisme devaluasi.

Sebagai informasi, mantan Menteri Pertahanan AS sekaligus eks Direktur CIA, Leon Panetta, melempar kritik pedas terhadap Donald Trump.

Setelah tiga minggu perang berkecamuk di Iran, Panetta menilai Trump terjebak tanpa strategi keluar yang jelas dan malah menunjukkan kelemahan Amerika di mata dunia.

Kritik ini muncul karena konflik yang dimulai sejak serangan mendadak Israel pada 28 Februari lalu itu tak kunjung usai.

Meski pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dan digantikan putranya, Mojtaba Khamenei, kendali perang justru tampak makin lepas dari tangan AS.

Panetta mengingatkan pejabat keamanan nasional sejak dulu sudah paham risiko Iran memblokir Selat Hormuz.

Skenario horor itu kini terjadi dan memicu krisis energi global yang memukul balik ekonomi AS serta menjatuhkan elektabilitas Trump.

“Bukan hal yang sulit dipahami bahwa jika Anda akan berperang dengan Iran, salah satu kerentanan terbesar adalah Selat Hormuz, dan (itu) dapat menciptakan krisis minyak besar yang dapat mendorong harga bahan bakar melambung tinggi,” tutur Panetta dilansir The Guardian, Selasa (24/3/2026).

Sumber: Inilah

Artikel terkait lainnya