DEMOCRAZY.ID – Surat kabar Iran, Javan, memuat karikatur yang mengejek Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai Pinokio, karena kerap berbohong kepada publik.
Terbaru, Trump mengklaim adanya kemajuan dalam jalur diplomasi untuk mengakhiri perang.
Sementara Iran menegaskan tidak ada negosiasi, dan balik menduga Trump tengah melakukan manipulasi informasi demi kepentingan ekonomi global.
Karikatur Trump sebagai Pinokio itu tercetak pada halaman depan Javan edisi Rabu (25/3/2026).
Trump digambarkan dengan hidung yang memanjang hingga menjangkau peta strategis Selat Hormuz.
Berita utama edisi itu juga tak kalah tajam, melabeli sang presiden sebagai “Pembohong paling menyedihkan dan tidak terhormat di dunia”.
Reaksi keras ini muncul setelah Trump secara mendadak mengumumkan adanya pembicaraan dengan Teheran, hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu ultimatum serangan militer ke pembangkit listrik Iran berakhir pada Senin lalu.
Pihak otoritas Iran dengan cepat mengeluarkan bantahan resmi. Mereka menegaskan tidak ada negosiasi yang terjadi, baik secara langsung maupun melalui perantara.
Analisis yang berkembang di media lokal menyebutkan, klaim Trump hanyalah taktik untuk menenangkan pasar global dan menekan harga minyak yang melonjak tajam sejak pecahnya permusuhan antara Israel-AS dengan Iran pada 28 Februari.
Sikap skeptis ini juga disuarakan oleh para petinggi militer Iran. Juru bicara komando terpadu angkatan bersenjata Iran, Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaqari, melontarkan ejekan tajam melalui siaran televisi pemerintah.
Zolfaqari, yang kini dikenal sebagai sosok fenomenal dalam perang informasi ini, mempertanyakan kewarasan diplomasi sepihak yang didengungkan Washington.
🚨🇮🇷 BREAKING — Iran:
“Donald Trump, You’re Fired!”
“Thank You for Your Attention to this Matter.” pic.twitter.com/P8hSG6QsQf
— ✦✦✦ 𝙿𝚊𝚖𝚙𝚑𝚕𝚎𝚝𝚜 ✦✦✦ (@PamphletsY) March 22, 2026
Dalam sebuah pernyataan video yang viral, Zolfaqari menyindir keras ambisi Trump.
“Apakah tingkat pergulatan batin Anda telah mencapai tahap di mana Anda bernegosiasi dengan diri sendiri?” ujarnya melalui kantor berita Fars.
Ia menambahkan, upaya AS untuk menciptakan narasi perdamaian hanyalah kedok untuk menutupi kegagalan militer mereka di lapangan.
“Jangan sebut kegagalan Anda sebagai sebuah kesepakatan,” tegasnya.
Zolfaqari bahkan mempelesetkan slogan populer Trump saat menjadi bintang reality show untuk menyerang balik sang presiden dengan kalimat, “Trump, Anda dipecat!”.
Menurutnya, tidak akan ada stabilitas atau kembalinya harga minyak ke level normal di kawasan tersebut “Sampai kehendak kami terlaksana”.
Di sisi lain, Donald Trump tetap percaya diri dengan klaimnya saat berbicara di hadapan wartawan di Gedung Putih.
Ia bersikeras Washington sedang menjalin kontak dengan pihak-pihak yang tepat di Iran. Trump bahkan menyebut bahwa Teheran sangat putus asa untuk mencapai kesepakatan baru.
“Mereka berbicara dengan kami, dan mereka masuk akal,” klaim Trump.
Pernyataan ini menandai pergeseran drastis dari nada bicaranya beberapa hari sebelumnya, di mana ia mengancam akan meluluhlantakkan infrastruktur energi Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya bagi kapal-kapal negara musuh.
Ketidaksinkronan informasi ini menciptakan kebingungan total di Teheran. Mohamed Vall dari Al Jazeera melaporkan bahwa terjadi anomali informasi antara apa yang dibicarakan Trump dengan realitas politik di Iran.
Menurutnya, ada kegelapan total dalam status negosiasi tersebut di mata publik Iran, yang justru menunjukkan situasi yang sangat aneh dan penuh tanda tanya.
Meskipun Teheran membantah adanya dialog langsung, laporan dari The Wall Street Journal menyebutkan adanya proposal perdamaian 15 poin yang dikirim AS melalui perantara.
Rencana tersebut kabarnya menuntut Iran untuk membongkar tiga situs nuklir utama, menghentikan pengayaan uranium, serta mengakhiri dukungan terhadap sekutu regional. Sebagai imbalannya, sanksi nuklir akan dicabut dan AS akan membantu program nuklir sipil Iran.
Pakistan dan Turki muncul sebagai kandidat kuat mediator. Duta Besar Iran untuk Pakistan, Reza Amiri Moghadam, memberikan klarifikasi mengenai posisi diplomatik saat ini.
“Berdasarkan informasi saya, bertentangan dengan klaim Trump, tidak ada negosiasi langsung atau tidak langsung yang terjadi antara kedua negara sejauh ini,” jelasnya.
Namun, ia mengakui adanya upaya dari negara sahabat untuk meletakkan dasar bagi dialog di masa depan.
Partai AK yang berkuasa di Turki juga mengonfirmasi bahwa Ankara telah memainkan peran dalam menyampaikan pesan antara kedua ibu kota tersebut demi meredakan ketegangan yang kian memanas di kawasan tersebut.
Ironisnya, saat retorika perdamaian dilemparkan, pertempuran fisik di lapangan justru semakin intensif.
Israel dilaporkan terus meluncurkan serangan udara ke infrastruktur di Teheran. Salah satu serangan di wilayah pemukiman Varamin, Teheran Selatan, dikabarkan menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai puluhan lainnya.
Iran membalas dengan menghujani wilayah Israel dengan rudal, menargetkan pangkalan militer di Safad serta kota-kota besar seperti Tel Aviv, Kiryat Shmona, dan Bnei Brak.
Saat yang sama, Pentagon dilaporkan bersiap mengirimkan 1.000 tentara tambahan dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke Timur Tengah untuk memperkuat sekitar 50.000 personel yang sudah ada di sana.
Sumber: Suara