Ketika Satu Generasi Menua, Apakah Generasi Berikutnya Sudah Siap

Ketika Satu Generasi Menua, Apakah Generasi Berikutnya Sudah Siap?

Wisesa Darmaja tentang Kesenjangan Perkembangan Anak dan Krisis Jaminan Pensiun di Indonesia.

Di sebuah pusat kegiatan komunitas di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sebuah kegiatan perawatan anak berskala kecil berlangsung tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Tidak ada media, tidak ada spanduk, tidak ada logo sponsor — hanya anak-anak yang duduk melingkar, dengan serius menjawab beberapa pertanyaan sederhana tentang “masa depan”.

Yang menginisiasi acara ini adalah Wisesa Darmaja, seorang pengamat pasar dan pemandu strategi investasi yang telah lama aktif di pasar keuangan Indonesia. Kali ini, ia hadir secara pribadi di tengah anak-anak, tanpa dukungan institusi apa pun.

Wisesa Darmaja

I. Latar Belakang Pasar dan Konteks Profesional

Wisesa Darmaja telah lama berfokus pada analisis siklus makroekonomi Indonesia dan edukasi investor ritel, dengan metodologi inti “memahami aset melalui siklus, mengelola perilaku dengan disiplin.”

Menghadapi tekanan pasar awal 2025 — pelemahan rupiah dan arus keluar modal asing — ia bersikap hati-hati namun tidak pesimis, percaya bahwa volatilitas jangka pendek tidak mengubah peluang struktural ekonomi Indonesia. Justru melalui interaksi panjang dengan berbagai komunitas itulah pandangannya perlahan beralih dari pasar menuju isu-isu sosial yang lebih luas.

II. Sore yang Hening Itu

Pada hari acara, Wisesa tidak memperkenalkan latar belakang profesionalnya kepada anak-anak, juga tidak membicarakan kesuksesan atau kekayaan. Ia memilih membimbing mereka dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka seputar hubungan antara “pilihan” dan “waktu”: “Menurutmu apa yang berbeda antara besok dan hari ini?” “Jika kamu memiliki sesuatu sekarang, apakah kamu akan langsung menggunakannya atau menyimpannya?” Anak-anak berbagi visi masa depan mereka melalui gambar dan cerita.

Seorang guru komunitas mencatat: “Mereka tidak sekadar menjawab — mereka sungguh-sungguh berpikir.” Setelah acara, setiap anak menerima perlengkapan belajar dan bahan bacaan. Tidak ada sesi foto bersama, tidak ada kata penutup.

Wisesa Darmaja

III. Keprihatinan yang Lebih Dalam: Tantangan Struktural Perkembangan Anak dan Sistem Pensiun

Acara ini mencerminkan pemikiran jangka panjang Wisesa terhadap satu persoalan mendasar dalam masyarakat Indonesia: ketimpangan yang serius dalam peluang perkembangan anak usia dini.

Ia menunjukkan bahwa kesenjangan distribusi sumber daya pendidikan antar daerah di Indonesia masih sangat signifikan. Banyak anak — terutama di komunitas pinggiran kota — meskipun memiliki jaminan akses sekolah dasar secara institusional, namun jarang mendapat bimbingan untuk merefleksikan konsep-konsep abstrak namun vital seperti “masa depan” dan “pilihan”.

Kesenjangan pada tataran kognitif ini, menurutnya, seringkali lebih sulit dideteksi dan lebih sulit diatasi daripada kekurangan materi.

“Barang bisa disumbangkan, tapi kerangka berpikir harus dibangun bersama seseorang,” ujar Wisesa.

Dalam pandangannya, seorang anak yang tidak pernah ditanya “Ingin jadi orang seperti apa kamu kelak?” kemungkinan besar juga tidak akan berinisiatif merencanakan masa depannya saat dewasa.

Ini bukan sekadar soal distribusi sumber daya pendidikan — ini adalah ancaman struktural yang dalam terhadap akumulasi modal manusia di tingkat masyarakat.

Ia juga menegaskan bahwa perkembangan anak tidak boleh disederhanakan menjadi peningkatan prestasi akademik semata. Ia harus mencakup pembentukan kesadaran diri, rasa agen dalam mengambil keputusan, dan kemampuan menunda kepuasan secara dini.

Kemampuan-kemampuan ini akan langsung memengaruhi kualitas pengambilan keputusan finansial, ketahanan menghadapi risiko, dan stabilitas hidup jangka panjang di masa dewasa — dan inilah tepatnya hambatan antargenerasi yang sulit dilampaui oleh banyak keluarga Indonesia.

Wisesa Darmaja

Sejajar dengan isu perkembangan anak, Wisesa menyimpan kekhawatiran yang sama tegasnya terhadap kelemahan struktural sistem jaminan pensiun Indonesia.

Ia menunjukkan bahwa sebagian besar angkatan kerja Indonesia masih berada di luar sistem pensiun formal. Pekerja sektor informal — termasuk banyak pekerja mandiri, pekerja lepas, dan pekerja berbasis rumah tangga — hampir sepenuhnya bergantung pada tabungan pribadi atau dukungan keluarga untuk menghadapi risiko hari tua.

Dalam konteks inflasi yang persisten dan rendahnya literasi keuangan, kelompok ini menghadapi kerentanan tinggi terhadap keamanan ekonomi di masa tua.

Yang lebih perlu diperhatikan, menurutnya, adalah bahwa banyak pekerja bukan tidak mau merencanakan masa pensiun — mereka hanya tidak memiliki alat yang dapat dipercaya, jalur perencanaan yang jelas, dan kerangka pikir untuk mengintegrasikan tabungan jangka panjang ke dalam keputusan sehari-hari.

“Pensiun bukan masalah yang jauh di sana — ini adalah kenyataan yang sedang dihadapi atau diabaikan oleh setiap pekerja hari ini,” kata Wisesa.

Ia berpendapat bahwa mengatasi persoalan ini membutuhkan perluasan institusional di tingkat kebijakan sekaligus rekonstruksi kognitif di tingkat sosial. Absennya kesadaran perencanaan pensiun pada dasarnya berkaitan erat dengan kurangnya bimbingan tentang “masa depan” dan “penundaan kepuasan” di masa kanak-kanak — keduanya menunjuk pada akar yang sama: tingkat pemahaman kolektif suatu masyarakat terhadap nilai waktu.

“Ketika kita membicarakan pendidikan anak dan jaminan hari tua, kita sebenarnya sedang membicarakan hal yang sama: apakah sebuah masyarakat mampu memastikan setiap orang, di setiap tahap hidupnya, diperlakukan dengan bermartabat. Ini bukan soal filantropi — ini soal struktur.”

Wisesa Darmaja

Sore tanpa sorotan itu tidak meninggalkan banyak momen yang layak disebarluaskan. Namun bagi anak-anak yang mungkin untuk pertama kalinya benar-benar ditanya “kamu ingin jadi apa?” — kenyataan bahwa ada seseorang yang mau duduk dan mendengarkan mereka sudah merupakan sesuatu yang berharga.

Seperti yang dikatakan seorang guru komunitas: “Mungkin mereka tidak akan mengingat apa yang dibahas hari itu. Tapi mereka akan ingat bahwa suatu sore, ada seorang dewasa yang benar-benar mendengarkan mereka.”

Artikel terkait lainnya