Laporan Intelijen AS Sebut Mojtaba Khamenei Kemungkinan Penyuka Sesama Jenis, Apa Dasarnya?

DEMOCRAZY.ID – Presiden Donald Trump disebut terkejut setelah mengetahui laporan dari Intelijen AS yang menyebut bahwa Pimpinan Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei kemungkinan adalah penyuka sesama jenis.

Dalam laporan intelijen itu juga disebutkan bahwa, Ayatollah Ali Khamenei khawatir tentang kemampuan putra keduanya itu memimpin Republik Islam karena alasan tersebut.

Trump tidak bisa menahan keterkejutannya dan tertawa keras ketika diberi pengarahan tentang informasi itu, menurut sumber.

Orang-orang lain di ruangan juga menganggapnya ‘sangat lucu’ dan ikut bereaksi, sementara seorang pejabat intelijen senior tidak berhenti tertawa selama beberapa hari, kata seorang yang mengetahui pengarahan tersebut.

Klaim mengejutkan ini dijelaskan kepada The Post oleh dua pejabat dari komunitas intelijen dan satu orang lain yang dekat dengan Gedung Putih.

Ketiga sumber menyatakan bahwa dugaan yang terdengar tidak masuk akal ini dianggap kredibel oleh badan intelijen AS, bukan sebagai informasi palsu untuk menjatuhkan Mojtaba Khamenei yang terpilih menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi Iran pada 8 Maret lalu.

Dua sumber mengatakan bahwa informasi intelijen menunjukkan bahwa Mojtaba yang dikenal sebagai sosok berpengaruh di balik kepemimpinan ayahnya disebut telah menjalin hubungan seksual jangka panjang dengan guru lesnya semasa kecil.

Mojtaba, dilaporkan membuat pendekatan seksual agresif terhadap pria yang merawatnya, kemungkinan saat berada di bawah pengaruh obat-obatan kuat, menurut salah satu sumber The Post.

Badan intelijen AS tidak memiliki bukti foto terkait ketertarikan seksual Mojtaba terhadap pria, tetapi para sumber menekankan bahwa informasi itu solid, dengan satu sumber mengatakan hal itu berasal dari salah satu sumber paling terlindungi yang dimiliki pemerintah Iran.

“Fakta bahwa informasi ini sampai ke level tertinggi menunjukkan adanya keyakinan terhadapnya,” tambah sumber kedua.

Orientasi seksual Mojtaba ini disebut-sebut sudah menjadi perbincangan di Iran sejak kecelakaan helikopter Mei 2024 yang menewaskan Presiden saat itu, Ebrahim Raisi yang diyakini menjadi favorit Ali Khamenei untuk menjadi pemimpin tertinggi berikutnya, menurut sumber.

Beberapa elemen kehidupan seksual Mojtaba sebelumnya pernah dilaporkan dan bisa menambah kredibilitas dugaan ini.

Sebuah kabel diplomatik rahasia AS dari 2008, yang dipublikasikan WikiLeaks, menyebut Mojtaba pernah dirawat di Inggris karena masalah impotensi, meski laporan itu tidak menjelaskan penyebabnya.

File Departemen Luar Negeri AS menyebut bahwa Mojtaba menikah ‘cukup terlambat’ yakni di sekitar usia 30, karena diduga karena masalah impotensi yang diobati dan akhirnya berhasil setelah tiga kunjungan panjang ke Inggris, di Wellington dan Cromwell Hospitals, London.”

“Mojtaba diharapkan keluarga segera memiliki anak, tetapi membutuhkan kunjungan keempat ke Inggris untuk pengobatan, setelah dua bulan, istrinya akhirnya hamil,” kata file bocoran itu.

Dugaan orientasi homoseksual ini sempat disinggung dalam laporan CBS News pada hari Minggu, yang menyebut bahwa Ali Khamenei, yang memimpin Iran sejak 1989, lebih memilih penerus lain sebagian karena “masalah” dalam kehidupan pribadi Mojtaba yang tidak dijelaskan.

“Ayahnya dan orang lain menduga dia gay, dan itu menjadi hal yang disebarkan orang untuk mencoba menghentikan kenaikannya,” jelas salah satu sumber The Post.

Sebagai informasi, perilaku homoseksual ilegal di Iran, meski pemerintah memperbolehkan operasi pergantian kelamin bagi individu transgender.

Beberapa pria gay konon terpaksa menjalani operasi ini untuk menghindari hukuman pidana.

Hubungan sesama jenis dapat dihukum berat, termasuk hukuman cambuk atau bahkan hukuman mati.

Beberapa kasus bahkan menunjukkan eksekusi publik sebagai peringatan bagi orang lain.

“Di Iran, kami tidak punya homoseksual,” klaim mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, yang diyakini dekat dengan Mojtaba Khamenei, pada 2007.

Salah satu sumber The Post menyebut bahwa meski umumnya dianggap tidak pantas untuk membuka orientasi seksual seseorang tanpa izin, ada kasus yang dianggap jelas membenarkan hal itu terhadap Mojtaba.

“Kalau ada waktu yang tepat untuk mengungkap orientasi seseorang, itu adalah saat orang itu adalah pemimpin teokrasi Islam yang menindas dan menggantung gay di crane,” kata sumber itu.

Sumber: VIVA

Artikel terkait lainnya