Begini Cara Israel Lacak dan Bunuh Pemimpin De Facto Iran Ali Larijani, Operasi Rahasia 1.600 Km

DEMOCRAZY.ID – Militer Israel (IDF) mengeklaim telah berhasil melenyapkan atau menewaskan Ali Larijani, sosok yang disebut sebagai ‘pemimpin de facto’ Iran saat ini, setelah tewasnya Ali Khamenei.

Operasi militer Israel untuk memburu pejabat tinggi Iran tersebut berlangsung intens dan penuh kerahasiaan sebelum klaim pembunuhannya mencuat pada Selasa (17/3/2026).

Larijani dipastikan militer Israel menjadi target utama setelah tewasnya Ali Khamenei dalam gelombang awal serangan beberapa pekan sebelumnya.

Serangan udara yang menargetkan lokasi rahasia di Iran tersebut mengakhiri pelarian dua minggu Ali Larijani yang kini menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dari incaran intelijen Israel.

Berdasarkan laporan The Jerusalem Post, Larijani menjadi target utama nomor satu setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari lalu.

Sumber senior pertahanan mengungkapkan bahwa Larijani adalah sosok yang sangat berpengalaman dalam taktik penghindaran.

Sehingga Ali Larijani diketahui berpindah lokasi selama 2 minggu terakhir.

Kecanggihan teknologi pelacakan IDF akhirnya berhasil mengunci posisi Ali Larijani.

Pelarian di Lokasi Rahasia

Selama 14 hari terakhir, Larijani dilaporkan terus berpindah-pindah tempat persembunyian untuk mengelabui deteksi.

Namun, “kemampuan khusus” intelijen Israel yang dikombinasikan dengan keputusan kilat Kepala Staf IDF, Letnan Jenderal Eyal Zamir, memungkinkan jet tempur angkatan udara untuk mengeksekusi misi sejauh 1.600 kilometer tersebut dengan akurasi tinggi.

“Ini adalah operasi yang jauh lebih menantang daripada serangan di Gaza atau Lebanon. Kami beroperasi di jantung Iran yang sangat jauh,” ujar seorang sumber pertahanan.

Di saat yang hampir bersamaan, IDF juga melenyapkan komandan paramiliter Basij, Gholamreza Soleimani, di lokasi yang berbeda.

Diplomat Pragmatis di Pusaran Perang

Kematian Larijani, jika dikonfirmasi secara resmi oleh Teheran, merupakan kerugian yang sulit tergantikan bagi rezim Iran.

Jeremy Bowen, editor internasional terkemuka, mengenang Larijani sebagai sosok diplomat cerdas dan pragmatis yang ia temui sejak era 1980-an di PBB.

Meskipun dalam beberapa minggu terakhir Larijani mengeluarkan retorika perang yang keras, ia dikenal sebagai sosok fleksibel yang mampu bernegosiasi.

“Warga Iran kini ‘lebih aman’ tanpa mekanisme penindasan yang dipimpin oleh Larijani dan Soleimani,” ujar Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar.

Hingga saat ini, Teheran masih belum memberikan konfirmasi resmi mengenai gugurnya Larijani.

Sebaliknya, media pemerintah Iran merilis foto catatan tulisan tangan yang diklaim berasal dari Larijani untuk memperingati pemakaman pelaut Iran.

Pesan terakhirnya yang diposting beberapa jam sebelum klaim Israel muncul pun bernada emosional, di mana ia menyesalkan kurangnya dukungan dari negara-negara Muslim terhadap perjuangan Iran.

“Di sisi mana Anda berdiri dalam pertempuran ini?” tulisnya, sebuah kalimat yang kini menjadi warisan terakhir dari sang arsitek keamanan Iran.

IDF mengatakan Ali Larijani adalah salah satu tokoh paling veteran dan senior dalam kepemimpinan rezim Iran.

Setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei terbunuh, IDF mengatakan, Larijani berfungsi sebagai pemimpin rezim Iran dan memimpin pertempuran melawan Israel dan negara-negara tetangga.

Militer Israel juga mengaitkan Larijani dengan penindakan terhadap demonstran anti-pemerintah di Iran.

Di mana menunjukkan bahwa Larijani mendorong tindakan penegakan hukum yang keras dan operasi penindasan.

Iran belum mengkonfirmasi kematian Larijani, dan media pemerintah telah menerbitkan foto pesan tulisan tangan yang dikatakan dikeluarkan olehnya, yang juga diposting di akun media sosialnya.

Sebelumnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei diumumkan tewas pada 28 Februari, setelah hari pertama serangan AS-Israel terhadap Iran.

Yang juga tewas dalam gelombang serangan pertama Israel dan Amerika Serikat itu adalah penasihat keamanan Ali Shamkhani, menteri pertahanan Amir Nasirzadeh, komandan Garda Revolusi Jenderal Mohammad Pakpour, dan kepala staf angkatan bersenjata Abdolrahim Mousavi.

Ini berarti dari tujuh tokoh kepemimpinan dan pertahanan senior Iran, enam diantaranya sudah berhasil dilenyapkan dan tersisa Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Namun kini, pemimpin tertinggi baru Iran sudah berada di tangan Mojtaba Khamenei, anak dari Ali Khamenei.

Mojtaba juga menjadi incaran dan target Israel dan AS untuk dilenyapkan.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya