DEMOCRAZY.ID – Di tengah kecamuk perang yang meluluhlantakkan Jalur Gaza, sebuah operasi senyap terendus ke permukaan.
Bukan soal pengiriman bantuan logistik, melainkan evakuasi ratusan warga Palestina ke berbagai negara, termasuk Indonesia dan Afrika Selatan.
Namun, jangan terkecoh dengan label ‘kemanusiaan’ –investigasi terbaru mengungkap adanya tangan dingin intelijen Israel di balik layar.
Laporan mendalam dari Associated Press membongkar fakta yang membikin dahi berkerut.
Sejak Mei 2025, setidaknya tiga penerbangan rahasia telah mengangkut penduduk Gaza keluar dari tanah air mereka.
Ironisnya, otak di balik eksodus ini adalah Ad Kan, sebuah kelompok asal Israel yang didirikan oleh barisan mantan tentara dan perwira intelijen kawakan.
Operasi ini dirancang dengan sangat rapi. Agar tak tercium publik, Ad Kan menggunakan entitas samaran bernama Al-Majd Europe yang berkantor pusat di Jerman dan Yerusalem.
Di jagat maya, mereka memoles diri sebagai lembaga nirlaba yang tulus membantu masyarakat Muslim di zona konflik.
Namun, di balik seragam filantropi itu, ada agenda politik yang kental. Pendiri Ad Kan, Gilad Ach, bukanlah sosok asing.
Ia adalah pendukung setia usulan “migrasi sukarela” yang sempat dilontarkan Presiden AS Donald Trump. Bagi Ach dan kelompoknya, memindahkan warga Gaza adalah bagian dari strategi kemenangan.
“Kemenangan = Migrasi Sukarela… Dengarkan Trump, biarkan mereka keluar!” Demikian bunyi iklan provokatif yang sempat mereka pasang di bus-bus Israel.
Bagi warga Gaza yang sudah kehilangan segalanya, tawaran keluar dari ‘neraka’ adalah kesempatan emas, meski harus ditebus dengan harga selangit.
Loay Abu Saif, salah satu warga yang ikut dalam penerbangan ke Afrika Selatan, mengaku harus merogoh kocek hingga US$2.000 (sekitar Rp31 juta) per orang. Mirisnya, tarif yang sama juga berlaku untuk anak-anak dan bayi.
Prosesnya pun penuh misteri. Para penumpang diangkut dengan bus menuju bandara di Israel dengan barang bawaan yang sangat terbatas.
Abu Saif bahkan mengaku baru tahu pesawatnya menuju Johannesburg setelah transit di Nairobi, Kenya.
Kejadian janggal pecah pada November 2025 lalu. Sebanyak 153 warga Palestina mendarat di Afrika Selatan tanpa dokumen perjalanan yang jelas –bahkan tanpa cap keberangkatan dari Israel di paspor mereka.
Hal ini memaksa polisi perbatasan menahan mereka di dalam pesawat selama 12 jam.
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menerima mereka atas dasar kemanusiaan, namun ia tak bisa menutupi kecurigaannya.
Ia menduga kuat bahwa ini bukan sekadar evakuasi, melainkan upaya pengusiran sistematis dari Jalur Gaza.
Senada dengan itu, Menteri Luar Negeri Afsel Ronald Lamola menyebutnya sebagai agenda ethnic cleansing alias pembersihan etnis.
Pertanyaan besarnya kini menggantung: apakah mereka yang pergi akan diizinkan kembali?
Sejarah panjang Israel yang kerap menutup pintu bagi pengungsi Palestina menimbulkan kekhawatiran bahwa penerbangan ini adalah tiket satu arah menuju pengasingan permanen.
Di tengah reruntuhan Gaza, garis antara ‘menyelamatkan nyawa’ dan ‘mengosongkan wilayah’ kini menjadi semakin tipis dan kabur.
Sumber: Inilah