DEMOCRAZY.ID – Kabar mengenai tewasnya adik Perdana Menteri Israel memicu perhatian luas di tengah situasi keamanan yang masih memanas di kawasan Timur Tengah.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa Iddo Netanyahu, adik kandung Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dilaporkan meninggal dunia setelah rumah keluarganya menjadi sasaran serangan rudal Iran.
Laporan tersebut pertama kali dikutip oleh sejumlah akun dan kanal informasi internasional, termasuk BRICS News, yang menyebutkan bahwa serangan terjadi pada Senin (9/3/2026).
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa rudal Iran menghantam kediaman keluarga Netanyahu, menyebabkan Iddo Netanyahu kehilangan nyawa di lokasi kejadian.
Serangan yang sama juga dikabarkan menewaskan anggota Knesset Israel, Itamar Ben-Gvir.
Ia disebut berada di lokasi saat serangan terjadi dan dilaporkan mengalami luka bakar parah akibat ledakan yang ditimbulkan oleh rudal tersebut.
Hingga kini, informasi mengenai peristiwa tersebut masih menjadi perbincangan luas di berbagai platform media sosial dan sejumlah kanal berita internasional.
Namun demikian, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Israel maupun konfirmasi independen dari otoritas militer setempat mengenai kebenaran kabar tersebut.
Situasi ini menambah ketegangan yang sudah berlangsung di kawasan Timur Tengah, terutama setelah serangkaian serangan dan saling balas antara Israel dan Iran dalam beberapa waktu terakhir.
Kedua negara diketahui telah lama berada dalam hubungan yang penuh konflik, dengan berbagai eskalasi militer yang kerap memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik regional.
Iddo Netanyahu sendiri dikenal sebagai seorang dokter sekaligus penulis yang berasal dari keluarga Netanyahu.
Ia merupakan salah satu dari tiga bersaudara, bersama Benjamin Netanyahu dan mendiang Yonatan Netanyahu, perwira militer Israel yang tewas dalam operasi pembebasan sandera di Entebbe, Uganda, pada 1976.
Sementara itu, Itamar Ben-Gvir merupakan figur politik sayap kanan di Israel yang selama ini dikenal memiliki pandangan keras terkait kebijakan keamanan negara tersebut.
Sebagai anggota parlemen Israel atau Knesset, ia kerap menjadi tokoh yang vokal dalam berbagai isu keamanan dan konflik regional.
Di tengah simpang siurnya informasi yang beredar, sejumlah pengamat menilai bahwa kabar tersebut perlu diverifikasi lebih lanjut oleh sumber resmi.
Kabar mengejutkan datang dari Tel Aviv mengenai ketidakpastian kondisi fisik pemimpin tertinggi pemerintahan Israel saat ini. Ada kemungkinan Benjamin Netanyahu meninggal dunia.
Situs Ibrani dari Kantor Berita Tasnim melaporkan adanya desas-desus yang berkembang terkait kemungkinan Benjamin Netanyahu mengalami cedera serius.
Bahkan muncul dugaan liar di tengah masyarakat dan media lokal mengenai potensi kematian sang Perdana Menteri tersebut.
Hingga saat ini belum ada pernyataan resmi yang secara tegas membantah atau mengonfirmasi kebenaran kabar burung tersebut.
Ketegangan meningkat seiring dengan munculnya beberapa indikator janggal yang tertangkap oleh pengamat politik dan keamanan setempat.
“Situs web berbahasa Ibrani dari Kantor Berita Tasnim memperkirakan bahwa spekulasi semakin meningkat di sumber-sumber berbahasa Ibrani mengenai kemungkinan kematian atau cedera Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu,” tulis Kantor Berita Tasnim.
Publik mulai menaruh kecurigaan karena sudah hampir tiga hari akun pribadi Netanyahu tidak mengunggah video terbaru.
Biasanya saluran komunikasi tersebut sangat aktif membagikan aktivitas harian sang pemimpin dalam bentuk visual maupun suara.
Foto-foto terbaru yang menunjukkan keberadaan fisiknya pun sudah tidak terlihat dalam kurun waktu empat hari terakhir ini.
Kekosongan konten visual ini dianggap tidak lazim bagi seorang tokoh politik yang biasanya sangat rajin mendokumentasikan kegiatannya.
Akibatnya segala pernyataan yang keluar atas nama Netanyahu belakangan ini hanya berupa rilis naskah atau berbasis teks.
“Sudah hampir tiga hari sejak video terakhir Netanyahu diunggah di saluran pribadinya, dan hampir empat hari sejak gambar terakhirnya dipublikasikan. Setelah itu, beberapa pernyataan yang dikaitkan dengan Netanyahu hanya berupa teks,” tulis media itu lagi.
Sebelum periode hilangnya jejak visual ini, Netanyahu setidaknya merilis satu hingga tiga video pendek setiap harinya.
Konsistensi publikasi video tersebut telah menjadi standar komunikasi politiknya selama masa konflik yang terus berlangsung.
Ketiadaan rekaman video satu pun selama 72 jam terakhir justru memperkeruh suasana dan memperkuat dugaan adanya masalah.
Masyarakat mulai mempertanyakan mengapa tidak ada pesan video singkat untuk menenangkan spekulasi yang kian liar di internet.
Situasi ini sangat kontras dengan kebiasaan lama yang selalu menonjolkan kehadiran fisik di depan kamera publik.
Data lain yang memperkuat kecurigaan adalah laporan dari sejumlah sumber Ibrani pada tanggal 8 Maret yang lalu.
Laporan tersebut menyebutkan adanya peningkatan drastis pada perimeter keamanan di sekitar kediaman pribadi milik Benjamin Netanyahu.
Langkah pengamanan ekstra ini dikabarkan sengaja dilakukan untuk mengantisipasi potensi serangan menggunakan drone bunuh diri yang mematikan.
Penjagaan ketat yang tidak biasa ini memicu pertanyaan apakah ada ancaman spesifik atau kondisi darurat di dalam.
Kenaikan status kewaspadaan di rumah dinasnya menjadi potongan teka-teki yang coba dirangkai oleh banyak pihak saat ini.
Dampak dari situasi misterius ini diduga merembet pada agenda diplomatik penting yang melibatkan tokoh-tokoh besar asal Amerika.
Kunjungan Jared Kushner yang merupakan menantu Donald Trump dikabarkan batal secara mendadak dari jadwal semula yang direncanakan.
Tidak hanya Kushner, Steve Witkoff yang menjabat sebagai perwakilan khusus Trump juga dilaporkan membatalkan perjalanannya ke Israel.
Pembatalan agenda yang seharusnya berlangsung hari ini disebut-sebut memiliki kaitan erat dengan situasi internal yang dialami Netanyahu.
Alasan resmi pembatalan tersebut belum diungkap secara transparan kepada publik sehingga memperlebar ruang spekulasi bagi media internasional.
Ketidakpastian ini semakin diperparah dengan rilis berita dari pihak Istana Élysée mengenai komunikasi diplomatik tingkat tinggi baru-baru ini.
Pihak Prancis melaporkan adanya pembicaraan telepon antara Presiden Emmanuel Macron dengan Netanyahu namun tanpa mencantumkan tanggal pastinya.
Sama seperti laporan lainnya, detail mengenai pembicaraan telepon tersebut hanya dirilis dalam bentuk teks naratif tanpa bukti audio.
Hal ini memicu keraguan apakah komunikasi tersebut benar-benar terjadi secara langsung atau hanya protokol administratif rutin semata.
Hingga kini dunia masih menunggu bukti otentik mengenai kondisi kesehatan yang sebenarnya dari Perdana Menteri Israel tersebut.
“Istana Élysée juga tidak menyebutkan tanggal percakapan telepon antara Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Netanyahu dalam laporan berita tentang panggilan tersebut, dan hanya teks dari percakapan yang diduga tersebut yang dirilis.”
Sumber: Tribun