Gak Peduli HTI, Eros Djarot Sampaikan Komitmen Persatuan Aktivis Untuk Melawan Segala Bentuk ‘Kezaliman’!

Gak Peduli HTI, Eros Djarot Sampaikan Komitmen Persatuan Aktivis Untuk Melawan Segala Bentuk ‘Kezaliman’!

Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H. | Advokat & Aktivis

Ada momen yang unik, saat Budayawan, Politisi, Aktivis, Penyanyi sekaligus Sutradara Erros Djarot memberikan komentar terhadap penulis, sebelum mempersilahkan penulis untuk tampil ke panggung menyampaikan pandangan hukum.

“Ahmad Khozinudin, saya tidak peduli dia HTI”, begitu ungkapnya, saat mempersilahkan penulis naik ke panggung.

Mas Erros ini adalah satu dari sejumlah tokoh yang fokus merajut persatuan para aktivis, tanpa mempersoalkan perbedaan dan latarbelakang.

Bahkan, acara Buka Bersama yang digelar di Aula Kantor Gerakan Bhineka Nasionalis (GBN) sukses digelar pada Senin (9/3), juga atas peran Franz Aba, Sekjen GBN yang beragama Nasrani.

Tak peduli HTI, yang penting berjuang bersama melawan kezaliman.

Penulis lebih banyak berinteraksi dengan Mas Erros Djarot, saat mengadvokasi kasus PIK-2.

Klien penulis SK Budiardjo, adalah orang yang punya peran besar menjembatani interaksi dan perjuangan penulis dengan mas Erros.

SK Budiardjo, juga orang yang turut menetralisir tuduhan framing HTI terhadap perjuangan penulis.

Di kalangan Komunitas Thionghoa hingga pengusaha, SK Budiardjo membersihkan reputasi penulis dengan pernyataan retoris: “memangnya, berapa duit kamu yang dicuri HTI? Apa negara ini rusak dikorupsi HTI? Mana kejahatan HTI? Tunjukan, satu saja korupsi yang dilakukan HTI”.

Begitulah, sejak saat itu komunitas pengusaha dan Thionghoa di lingkaran SK Budiardjo tak lagi pernah mempersoalkan HTI.

Di kasus PIK-2, selain HTI, penulis dituduh rasis Anti China dan non muslim.

Alhamdulilah, pembelaan penulis pada Charlie Chandra yang non muslim sekaligus etnis Thionghoa, menampik tuduhan itu.

Menurut penuturan sejumlah sejawat, memang sulit untuk membantah argumentasi penulis saat mengajukan kritik.

Karena itulah, umumnya penulis diserang dengan pola ‘Argumentum Ad Hominem’ dengan narasi penulis HTI. Seolah-olah, HTI itu penjahat dan merusak negeri ini.

Kembali ke soal buka puasa GBN yang diadakan mas Erros Djarot.

Acaranya berlangsung unik, penuh keakraban. Sebelum acara dimulai, sejumlah lagu religi dilantunkan dengan iringan dua pemain gitar.

Disela alunan musik itulah, acara dibuka oleh Mas Erros. Sejumlah tokoh dipersilakan kedepan: ada dr Zulkifli, Prof Anthoni Budiawan, Dr Sa’id Didu, Sekjen DPR Pak Indra Iskandar, Roy Suryo Notodiprojo, hingga Sayuti Assyatiri. Nah, penulis berkesempatan menyampaikan pandangan.

Pertama, penulis menyampaikan koreksi bahwa penulis tidak pernah menjelek-jelekkan pemerintah atau Prabowo.

Karena menjelekkan itu maknanya kebijakan yang bagus, lalu disampaikan sebagai kebijakan yang jelek.

Yang penulis lakukan, adalah mengkritik dan menyampaikan kebijakan yang buruk, agar dievaluasi dan menjadi kebijakan yang baik. Jadi, pemerintah atau Prabowo Subianto tidak perlu baper.

Kedua, penulis mengajukan kritik atas bergabungnya Indonesia di forum BoP (Board Of Peace) pimpinan Trump, perjanjian dagang reprosikal dengan Amerika (RTA), hingga pengiriman TNI ke Jalur Gaza.

Semua kebijakan ini buruk, dan harus dievaluasi agar menjadi baik. Caranya? Keluar dari BoP, batalkan keterikatan RTA dan tarik pasukan TNI dari Gaza.

Karena kebijakan tersebut bertentangan dengan konstitusi dan politik bebas aktif.

Penulis juga mengaitkan hal itu, dengan potensi aktivasi pasal 7A UUD 45 tentang pemakzulan khususnya dengan alasan adanya pengkhianatan terhadap negara serta ancaman kedaulatan negara.

Sejumlah tokoh menyampaikan pandangannya. Lalu, acara ditutup dengan do’a oleh Bang Sayuti Assyatiri.

Selanjutnya, kami dipersilahkan menikmati menu hidangan berbuka puasa.

Untuk diketahui, menu buka dari Soto Kudus, Bakso hingga Tongseng (agak lupa yang ketiga), semua resepnya ditangani langsung oleh Mas Erros Djarot.

Terima kasih Mas Erros, atas undangan dan hidangannya. ***

Artikel terkait lainnya