Hampir Dua Tahun Berkuasa, Prabowo-Gibran Belum Penuhi Janji Kampanye!

DEMOCRAZY.ID – Setelah hampir dua tahun menjabat sebagai pimpinan pemerintahan, Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka belum bisa menjawab kondisi riel kebutuhan rakyat Indonesia.

Janji-janji yang diucapkan dalam Pilpres lalu, belum terlihat realisasinya dan tidak ada imbasnya untuk menjawab dan memenuhi kebutuhan sebagian besar rakyat yang sangat membutuhkan.

Pegiat politik yang juga Eksponen Angkatan Reformasi 98 Guntur Siregar menyatakan hal itu, Sabtu, 7 Maret 2026 memberikan evaluasi atas kinerja dua tahun pemeritahan Prabowo-Gibran.

Dalam pandangannya Pemerintahan ini tampak belum memberikan prestasi yang baik.

Presiden terflalu banyak omong, yang dalam bahasa Pabowo sendiri disebut omon-omon dan Wakil Presidennya nampak tidak mempunyai konsep mnyelesaikan masalah yang ada.

Program MBG yang dibanggakan Prabowo – Gibran justru banyak mengalami masalah baru bagi siswa-siswi dengan terjadinya keracunan di mana-mana dan sudah menimbulkan korban meninggal di Bengkulu akibat keracunan makanan.

Masalah keracunan dan kematian itu dianggap enteng saja oleh rezim dengan menyatakan itu hanya ekses kecil karena hanya menyangkut jumlah yang kecil.

Kematian hanya beberapa orang sedangkan keracunan hanya 30.000 orang dari 55 juta penerima bantuan MBG itu.

“Masalah keselamatan dan keselamatan para murid dan penerima makanan itu tidak diperhatikan. Padahal itu tidak bisa dibandingkan dengan banyak dan sedikitnya korban sebab menyangkut nyawa dan keselamatan manusia. Mereka yang menanggap enteng masalah itu sesungguhnya mereka bukan manusia. Tidak lebih dari orang-orang serakah yang ingin mencari keuntungan tanpa memikirkan dampak buruk bagi rakyat,” kata mantan Sekjen Pro Jokowi (Projo) yang ikut mendukung Jokowi sebagai Capres pada 2014 itu.

Program MBG itu sudah memotong anggaran pendidikan secara besar-besaran.

Besaran anggaran pendidikan di APBN yang seharus mencapai 20 persen APBN telah dipotong tanpa ampun.

Tadinya, rakyat berpikir program itu diserahkan kepada sekolah-sekolah agar program perbaikan gizi anak sekolah bisa dilakukan dan terpantau dengan ketat.

Ternyata pelaksananya adalah Badan Gizi Nasonal yang terpusat dan tidak bisa memantau langsung sampai ke sekolah.

Suasana rawan penyimpangan

Ini membuat suasana yang rawan penyimpangan. Terlihat dari pelaksaan kegiatan diserahkan kepada Satuan Pelayanan Penemuan Gizi (SPPG) yang menimbulkan kecurigaan terjadinya ketidakbenaran pelayanan.

SPPG ini ternyata dikuasai oleh oknum-oknum TNI, Polri dan partai-partai, terutama partai Gerindra.

Akhirnya program ini hanyalah bancaan serakah dari mereka yang haus kekuasaan dan dana pemerintah.

“Publik curiga program MBG ini adalah cara Prabowo dan Gibran menaikkan citra untuk elektoralnya menghadapi pilpres di tahun 2029.Belum lagi janji kampanye Prabowo-Gibran yang menyiapkan 19 juta lapangan pekerjaan harus ditagih oleh rakyat. Jangan sampai lolos janji kampanye kosong ini jika tidak ditagih oleh rakyat, karena nanti di Pilpres tahun 2029 kandidat lain bisa kena imbas akibat dari janji kampanye kosong ini,” kata mantan anggota pengurus GMNI DKI Jakarta itu.

Ini akan berakibat pada rakyat tidak percaya lagi dengan janji janji kampanye, padahal kandidat lain serius menepati janji kampanyenya.

Jangan menghukum kandindat lain akibat Prabowo Gibran tidak menepati janji kampanyenya.

Tidak tepatnya janji Prabowo-Gibran bukan hanya tentang 19 Juta Lapker tetapi juga banyak yang lain yang kesemuanya bisa dilacak di data-data janji yang mereka ucapkan lewat rekam jejak yang sampai sekarang masih ada.

Seperti antara lain, akan memberikan pendidikan gratis dari SD hingga perguruan tinggi, produksi nasional akan memenuhi pasar Indonesia sendiri, transportasi gratis untuk masyarakat kota, kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat dan lain-lain.

Semua itu bagai buih di tengah lautan yang cepat sekali hilang tertiup angin.

Belum lagi kalau kita menyaksikan pidato Presiden Prabowo yang selalu berapi api tetapi tidak sesuai dengan fakta di lapangan alias omon omon.

Apakah ini sesuai pepatah “memercik air didulang, menepuk muka sendiri”, nanti kita lihat sendiri endingnya.

Sumber: KBA

Artikel terkait lainnya