DEMOCRAZY.ID – Sebuah unggahan di media sosial Instagram menyebutkan bahwa Kota Semarang menjadi salah satu kota paling aman di Indonesia jika terjadi Perang Dunia 3.
Unggahan tersebut menyatakan Semarang memiliki perlindungan topografis alami serta kekuatan militer berlapis.
Di kota ini terdapat sejumlah instalasi militer seperti Makodam IV/Diponegoro, Pusat Penerbangan TNI AD (Penerbad), Pangkalan TNI AL (Lanal), hingga berbagai batalyon tempur.
“Semarang jadi salah satu kota teraman di Indonesia jika terjadi Perang Dunia III. Ini alasannya,” tulis pengelola akun Instagram @asl********* pada Rabu (4/3/2026).
Isu mengenai Perang Dunia 3 memang belakangan kembali menjadi perbincangan setelah Amerika Serikat (AS_ dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Iran kemudian melakukan serangan balasan ke pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Konflik tersebut hingga kini belum mereda sehingga memunculkan kekhawatiran bahwa negara-negara lain bisa ikut terseret.
Dalam situasi seperti itu, sebagian orang mulai membicarakan kemungkinan mencari tempat yang dianggap aman jika perang global benar-benar terjadi.
Sebelumnya, The Economic Times menyertakan Indonesia seabagai salah satu negara yang relatif aman dari Perang Dunia 3.
Lantas, apakah benar Kota Semarang termasuk kota paling aman di Indonesia jika perang global terjadi?
Pengamat militer dan pertahanan dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, menilai klaim tersebut tidak tepat.
“Dari kacamata geostrategi dan doktrin pertahanan, klaim tersebut justru sangat keliru dan menghadirkan paradoks,” kata Fahmi saat dimintai pandangan Kompas.com, Jumat (6/3/2026).
Menurut Fahmi, keberadaan banyak instalasi militer di Semarang justru membuat kota tersebut berpotensi menjadi target prioritas serangan.
“Dalam doktrin perang konvensional, pemusatan komando dan pangkalan militer yang masif justru menjadikan kota tersebut sebagai high-value target atau sasaran bernilai tinggi,” jelasnya.
Ia menjelaskan, dalam strategi militer, pihak penyerang biasanya akan terlebih dahulu menghancurkan pusat komando pertahanan untuk melumpuhkan sistem pertahanan wilayah.
Selain itu, Semarang juga merupakan kota pesisir yang memiliki fasilitas vital seperti Pelabuhan Tanjung Emas.
Posisi tersebut membuat kota ini relatif terbuka terhadap potensi serangan dari laut maupun blokade.
Fahmi juga menilai klaim mengenai kemampuan sistem pertahanan udara di Semarang untuk menangkis serangan nuklir atau rudal jarak jauh sebagai sesuatu yang berlebihan.
“Alutsista pertahanan udara yang ada, seperti Starstreak, merupakan sistem jarak pendek atau VSHORAD yang dirancang untuk menghadapi pesawat atau helikopter. Sistem ini bukan untuk mencegat rudal balistik antarbenua atau ICBM, apalagi ancaman nuklir,” ujarnya.
Fahmi menjelaskan, dalam teori pertahanan klasik, wilayah yang dianggap lebih aman untuk berlindung biasanya adalah daerah pedalaman atau hinterland.
Wilayah tersebut umumnya berada jauh dari pesisir, dikelilingi benteng alam seperti pegunungan, serta tidak memiliki nilai strategis militer maupun ekonomi.
Contohnya adalah kota-kota kecil di dataran tinggi seperti Wonosobo, Temanggung, atau wilayah pedalaman di Kalimantan.
Namun, Fahmi menegaskan bahwa cara pandang tersebut sebenarnya sudah cukup usang.
Menurutnya, dalam konsep perang modern yang melibatkan kekuatan besar, hampir tidak ada lagi tempat di dunia yang benar-benar aman.
“Dalam konsepsi perang modern, sebenarnya tidak ada lagi area yang benar-benar aman di muka bumi, bahkan lubang semut sekalipun,” katanya.
Hal itu karena batas geografis kini bisa ditembus oleh teknologi militer modern seperti satelit pengintai, drone strategis, hingga rudal hipersonik.
Selain itu, perang modern juga tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga melalui serangan nonmiliter.
“Serangan siber yang melumpuhkan perbankan, mematikan jaringan listrik, atau mengacaukan telekomunikasi dapat menjatuhkan kota yang tersembunyi di balik gunung sekalipun,” lanjut Fahmi.
Fahmi menilai cara terbaik menghadapi potensi konflik global bukanlah dengan mencari lokasi persembunyian.
Menurutnya, keamanan negara di era modern lebih bergantung pada tiga faktor utama, yakni kohesi, resilience, dan leverage.
Kohesi mencakup kesatuan antara sipil dan militer serta solidaritas masyarakat. Sementara resilience berkaitan dengan ketahanan nasional, seperti kemandirian pangan, energi, dan industri domestik.
Adapun leverage berkaitan dengan kemampuan diplomasi dan posisi strategis suatu negara di tingkat global.
Jika ketiga aspek tersebut kuat, Fahmi menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk terhindar dari konflik secara langsung.
“Kekuatan besar mana pun akan berpikir ulang untuk menjadikan wilayah kita sebagai arena pertempuran,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa tidak ada negara yang benar-benar aman 100 persen dari dampak perang global.
Indonesia tetap berpotensi terkena spillover effect atau efek limpahan, seperti gangguan rantai pasok, krisis ekonomi global, maupun lonjakan inflasi.
Namun, jika kohesi, ketahanan nasional, dan kekuatan diplomasi dijaga dengan baik, dampak tersebut hanya akan menjadi guncangan yang masih bisa dikelola.
“Esensi keamanan di abad ke-21 adalah membangun sistem kekebalan negara yang tangguh dari dalam, bukan mencari lokasi persembunyian di peta,” jelasnya Fahmi.
Sumber: Kompas