DEMOCRAZY.ID – Di balik ketegangan diplomatik yang kini menyelimuti hubungan Indonesia dan Republik Islam Iran, ternyata tersimpan rekam jejak kedekatan historis dan batin yang sangat kuat.
Hubungan personal itu salah satunya terpotret lewat sebuah surat yang dikirimkan oleh Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, kepada mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Direktur The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi, mengungkapkan bahwa surat tersebut menjadi bukti bagaimana nama Indonesia, khususnya sosok Proklamator Bung Karno, memiliki tempat istimewa di hati para pemimpin Iran.
Menurut Siswanto, ikatan ini bermula dari sebuah kisah masa lalu yang cukup dikenal di kalangan elite Iran.
Saat Ayatollah Ali Khamenei masih berjuang dan sempat dipenjara bersama seorang tokoh komunis Iran, ia kerap bercerita tentang tokoh-tokoh dunia yang menginspirasi perjuangannya.
“Di saat itu dia (Ali Khamenei) menyebut nama Bung Karno sebagai salah satu tokoh yang dia kagumi, yang menjadi energi perjuangan dia,” ungkap siswanto dalam kanal Forum Keadilan TV, Senin (9/3/2026).
Kisah historis inilah yang kemudian menginspirasi Megawati untuk menjalin komunikasi personal dengan sang Pemimpin Tertinggi.
“Yang menginspirasi Megawati mengirim surat untuk mengingatkan kepada Imam Khamenei. ‘Tuanku, saya anaknya Bung Karno yang tuanku kagumi.’ Begitulah kira-kira bahasa yang lebih personal antara Imam Ali Khamenei dan Ibu Megawati,” tambahnya.
Sayangnya, Siswanto menilai “suasana kebatinan” dan kedekatan historis yang telah terbangun puluhan tahun itu kini hancur di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Kekecewaan Iran terhadap Indonesia saat ini berujung pada tindakan tegas.
Siswanto membeberkan, saat ini terdapat empat kapal tanker pembawa minyak milik Indonesia yang tertahan oleh otoritas Iran di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Meskipun Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebelumnya mengklaim bahwa pemerintah Indonesia tengah melakukan negosiasi dengan Iran agar kapal-kapal tersebut bisa keluar, Siswanto membantah keras klaim tersebut.
Berdasarkan komunikasi langsungnya dengan Atase Pertahanan Iran dua hari lalu, pintu negosiasi untuk pemerintah Indonesia saat ini tertutup rapat.
“Menteri ESDM kita mengklaim sedang bernegosiasi dengan Iran untuk mengizinkan kapal itu keluar. 2 hari yang lalu lagi-lagi saya WhatsApp atase pertahanan tidak ada dispensasi untuk Indonesia. Yang hanya bisa lewat itu kapal Cina, tanker Cina,” ungkapnya.
Lebih jauh, Siswanto menyoroti bagaimana Iran saat ini secara tegas membedakan antara sikap rakyat Indonesia dengan pemerintahnya.
Kekecewaan Iran murni ditujukan kepada elit pemerintahan, bukan kepada warga negara Indonesia.
Hal ini terbukti dari sikap Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang secara terbuka mengucapkan terima kasih atas simpati dan belasungkawa yang mengalir deras dari masyarakat Indonesia.
“Presiden Masoud Pezeshkian itu mengucapkan terima kasih karena banyak warga Indonesia menyampaikan rasa simpati, rasa duka cita, tetapi tidak untuk pemimpin kita. Tidak untuk pemimpin pemimpin kita,” ujarnya.
Sumber: Suara