Imam Jepang Ini Temukan Islam Usai Pencarian Panjang, Dari Pembenci Jadi Ulama

DEMOCRAZY.ID – Hidayah Allah bisa datang kepada siapa saja, melintasi batas negara, budaya, dan latar belakang kehidupan.

Kisah menginspirasi itu tergambar dari perjalanan hidup Syekh Ahmad Abu Hakeem Maeno, seorang ulama Muslim terkemuka di Jepang yang dulunya justru membenci Islam.

Ia lahir di Jepang pada tahun 1975 dan memeluk Islam pada 1994 saat berusia 18 tahun.

Perjalanannya menuju hidayah bukan proses singkat, melainkan pencarian panjang yang penuh pergolakan batin, pengorbanan, serta ujian berat dari keluarga dan lingkungan.

Pencarian Makna Hidup Sejak Remaja

Dikutip dari One Path Network, Minggu (8/3/2026),sejak remaja, Maeno telah diliputi pertanyaan mendalam tentang makna kehidupan.

Pada usia 14 tahun, ia mulai mempertanyakan hakikat keberadaan manusia.

Dia kerap menanyakan hal-hal filosofis kepada orang yang lebih dewasa.

Misal pertanyaan dari mana aku datang? ke mana akan pergi, dan untuk apa aku hidup?.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus menghantuinya karena tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Pandangan Maeno terhadap Islam saat itu masih negatif. Ia memandang Islam sebagai agama yang keras dan menakutkan akibat pengaruh media serta pendidikan di Jepang.

Namun takdir mempertemukannya dengan pengalaman yang mengubah hidupnya.

Pertemuan yang Mengubah Segalanya

Saat berusia 17 tahun, Maeno mengikuti program pertukaran pelajar di Melbourne, Australia selama satu tahun.

Di sanalah ia bertemu keluarga Muslim yang memperlakukannya dengan sangat baik, penuh kesantunan dan kehangatan.

Kebaikan akhlak keluarga tersebut perlahan meluruhkan prasangka buruk yang selama ini ia yakini tentang Islam.

Sekembalinya ke Jepang, kenangan tentang keramahan keluarga Muslim itu terus membekas dalam benaknya.

Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dan menenangkan dari pribadi-pribadi Muslim yang ia temui.

Hingga akhirnya ia memutuskan kembali ke Australia demi menemui keluarga tersebut.

Kunjungan itu menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Ia dihadiahi Alquran terjemahan bahasa Inggris sebagai bentuk penghormatan atas rasa ingin tahunya terhadap Islam.

Maeno merasa sangat dihargai karena diberi kesempatan memahami agama tanpa paksaan.

Dia lalu mempelajari Islam melalui Alquran. Dia memilih tak terpengaruh oleh pendidikan dan media yang selalu menyebarkan stigma negatif tentang Islam.

Semakin dalam mempelajari Islam, semakin ia merasakan ketenangan batin.

Ia menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang menghantuinya sejak remaja.

Pada umur 18 tahun, dia mengucapkan dua kalimat syahadat dan kini menjadi imam sekaligus cendekiawan muslim terkemuka di Jepang.

Menimba Ilmu ke Timur Tengah

Setelah memeluk Islam, Maeno mendedikasikan hidupnya untuk mendalami ilmu agama.

Ia menempuh pendidikan bahasa Arab di Osaka College of Foreign Language sebelum melanjutkan perjalanan ilmiahnya ke Damaskus, Suriah.

Di kota bersejarah tersebut, ia belajar di Institut Islam Abu Noor dan berguru kepada banyak ulama besar dunia Islam.

Ia menerima sanad keilmuan dari ulama terkemuka Syekh Muhammad al-Yaqoubi.

Selain itu, ia juga belajar dari sejumlah ulama besar lainnya seperti Syekh Muhammad Said Ramadan al-Buti, Syekh Tawfiq al-Buti, Syekh Muhammad Mujir al-Khatib, Syekh Badruddin Naji, Syekh Taha Sukkar, Syekh Adnan Darwish, dan Syekh Sadiq Habannaka.

Bidang ilmu yang dipelajarinya sangat luas, mencakup akidah, fikih, hadits, ulumul hadits, tafsir, hingga tajwid.

Kembali ke Jepang untuk Berdakwah

Pada 2006, Syekh Maeno memutuskan kembali ke Jepang untuk mengembangkan dakwah Islam di Negeri Sakura.

Ia membuka kelas-kelas privat, mengisi kajian keislaman di berbagai masjid, serta aktif membina komunitas Muslim setempat.

Kini ia dipercaya menjadi Imam di Masjid Nagoya, Jepang.

Pendekatan dakwahnya dikenal menyejukkan dan penuh kasih sayang, menekankan pentingnya moderasi serta akhlak mulia dalam menyampaikan ajaran Islam.

Ada pesan Syekh Maeno yang sangat terkenal: “Wasatiyyah Islam, cinta Allah dan utusan-Nya, damai dan berkah besertanya, dan menyerukan orang-orang kepada Allah, bukan menghakimi mereka.”

Ujian Berat dari Keluarga

Keputusan memeluk Islam tidak sepenuhnya diterima keluarganya. Ia sempat mengalami penolakan keras, bahkan hubungan dengan ayahnya merenggang.

Namun ujian tersebut justru semakin menguatkan keimanannya.

Ia belajar bahwa keimanan sejati menuntut ketulusan niat dan kesiapan menghadapi pengorbanan.

Baginya, cinta kepada Allah harus berada di atas segalanya.

Menjembatani Islam dan Budaya Jepang

Syekh Maeno melihat adanya keselarasan antara nilai Islam dan budaya Jepang, seperti kejujuran, disiplin, kerja keras, serta ketelitian dalam bekerja.

Namun menurutnya, terdapat perbedaan mendasar pada tujuan hidup.

Dalam Islam, setiap amal dilakukan demi meraih keridaan Allah, bukan semata demi nilai sosial atau pencapaian duniawi.

Saat ini ia tetap bekerja secara profesional di perusahaan Jepang sambil aktif berdakwah di waktu luangnya.

Ia juga memperkenalkan Islam melalui pendekatan budaya, termasuk nasyid berbahasa Jepang.

Harapannya tidak muluk-muluk, Islam dapat tumbuh perlahan namun mengakar kuat di tengah masyarakat Jepang.

Inspirasi bagi Pencari Kebenaran

Perjalanan hidup Syekh Ahmad Maeno menjadi bukti bahwa hidayah Allah dapat menyapa siapa saja yang tulus mencari kebenaran.

Dari masa muda yang dipenuhi prasangka, kegelisahan, dan pencarian panjang, ia menemukan ketenangan dalam Islam.

Kisahnya menjadi inspirasi lintas bangsa bahwa iman bukan sekadar warisan, melainkan hasil dari pencarian yang jujur, hati yang terbuka, serta keberanian mengikuti cahaya kebenaran.

Sumber: Inilah

Artikel terkait lainnya