DEMOCRAZY.ID – Pernyataan lama Donald Trump soal Iran kembali menjadi sorotan.
Saat itu, Trump mengaku telah memberi instruksi agar Iran ‘dimusnahkan’ jika ia sampai terbunuh.
Ucapan tersebut kembali ramai dibahas setelah serangan gabungan AS-Israel ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Trump juga menegaskan akan ada konsekuensi sangat besar jika dirinya menjadi target Iran dan tewas dalam serangan tersebut.
“Itu akan jadi hal yang sangat buruk bagi mereka, bukan karena saya. Kalau mereka melakukannya, mereka akan dimusnahkan. Tamat sudah. Saya sudah meninggalkan instruksi,” ujar Trump dari Ruang Oval pada Februari 2025 saat menandatangani perintah eksekutif untuk mengaktifkan kembali kebijakan tekanan maksimum terhadap Teheran dikutip dari laman AOL, Rabu 4 Maret 2026.
Di platform X, potongan video komentar Trump itu sudah ditonton lebih dari 7 juta kali sejak diunggah ulang pada Minggu.
Banyak warganet langsung menyoroti bahwa presiden tidak bisa meninggalkan instruksi militer yang berlaku setelah dirinya meninggal dunia.
Sejumlah pakar juga menjelaskan bahwa keputusan semacam itu harus diambil oleh penerus Trump yang secara otomatis menjadi panglima tertinggi militer.
“Presiden yang sudah meninggal tidak bisa memberi perintah,” tulis seorang pengguna.
“nstruksinya tidak ada artinya. Respons apa pun sepenuhnya ada di tangan Vance,” kata lainnya.
“Itu bukan cara kerjanya. Kalau dia sudah tidak menjabat, akan ada pemimpin baru dengan gagasan sendiri. Mereka tidak otomatis menjalankan rencana pemimpin sebelumnya,” sentil lainnya.
Trump sebelumnya juga sempat mengatakan bahwa negara mana pun akan menyerukan pemusnahan total terhadap negara yang bertanggung jawab atas kematian pemimpinnya.
“Kalau itu terjadi pada seorang pemimpin, atau orang yang sangat dekat dengannya, apalagi kalau ada pihak lain terlibat, tentu Anda akan menyerukan pemusnahan total terhadap negara yang melakukannya, termasuk Iran,” ujarnya.
Media pemerintah Iran pada Minggu dini hari mengonfirmasi bahwa Khamenei tewas dalam serangan besar oleh Israel dan AS.
Kabar ini menimbulkan ketidakpastian besar terhadap masa depan Republik Islam Iran sekaligus meningkatkan risiko ketegangan kawasan.
Trump bahkan mengumumkan kabar kematian itu beberapa jam lebih awal dan menyebutnya sebagai kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negaranya.
Media pemerintah melaporkan bahwa pemimpin berusia 86 tahun itu tewas akibat serangan udara yang menargetkan kompleksnya di pusat kota Teheran.
Foto satelit dari Airbus memperlihatkan area tersebut mengalami pengeboman hebat.
Kabinet Iran pada Minggu dini hari memperingatkan bahwa kejahatan besar ini tidak akan pernah dibiarkan tanpa balasan.
Garda Revolusi Iran juga mengancam akan melancarkan operasi ofensif paling dahsyat dalam sejarah mereka setelah kematian Pemimpin Tertinggi.
“Operasi ofensif paling dahsyat dalam sejarah angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera dimulai, menargetkan (Israel) dan pangkalan teroris Amerika,” demikian pernyataan mereka.
Situasi ini juga muncul di tengah beredarnya peta yang mengklaim wilayah-wilayah di Amerika Serikat di mana 75 persen penduduknya diperkirakan akan tewas jika terjadi serangan nuklir Iran diluncurkan.
Sumber: VIVA