DEMOCRAZY.ID – Barisan Relawan Jalan Perubahan (Bara JP) melakukan langkah mengejutkan dengan mendatangi kediaman Presiden RI ke-7, Joko Widodo, di Solo, Jawa Tengah.
Pertemuan tertutup tersebut membahas situasi politik terkini, khususnya posisi Gibran Rakabuming Raka yang mulai digoyang oleh manuver partai politik dalam koalisi pemerintahan.
Para relawan menengarai adanya upaya dari sejumlah partai untuk memisahkan pasangan Prabowo-Gibran pada kontestasi politik 2029 mendatang.
Ketua Umum Bara JP, Willem Frans Ansanay, mengungkapkan bahwa pertemuan dengan Jokowi adalah rutinitas organisasi sebagai dewan pembina.
Namun, ia tidak menampik bahwa isu mengenai keberlanjutan kepemimpinan Prabowo dan Gibran Rakabuming Raka menjadi salah satu materi diskusi.
Bara JP menyayangkan sikap partai politik koalisi yang mulai memunculkan nama-nama calon wakil presiden baru tanpa menyebut kembali nama Gibran sebagai pendamping Prabowo untuk periode kedua.
Willem menegaskan bahwa Indonesia hanya bisa maju apabila pemerintahan saat ini berjalan berkelanjutan.
Ia menilai manuver partai-partai yang mulai menyodorkan figur internal sebagai cawapres adalah bentuk perebutan kekuasaan semata.
Baginya, posisi Gibran Rakabuming Raka di masyarakat masih sangat kuat, dan terlalu dini bagi anggota Koalisi Indonesia Maju (KIM) untuk membicarakan suksesi wakil presiden ketika kabinet Merah Putih baru saja mulai bekerja.
Baca Juga: Koruptor Makin Leluasa? Urgensi RUU Perampasan Aset Jadi Kunci Miskinkan Pelaku Korupsi dan Kembalikan Triliunan Rupiah Uang Rakyat!
Kegelisahan relawan ini bukan tanpa alasan. Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Edi Suparno, telah terang-terangan mengusulkan ketua umumnya, Zulkifli Hasan (Zulhas), untuk mendampingi Prabowo Subianto pada 2029.
PAN berdalih bahwa pengusulan kader internal diperlukan untuk menggerakkan mesin partai, apalagi ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) kini telah ditiadakan, memberikan ruang luas bagi setiap partai peserta pemilu.
Di sisi lain, Partai Golkar melalui Sekjen Muhammad Sarmuji menyatakan masih menunggu isyarat dari Presiden Prabowo terkait sosok pendampingnya di masa depan.
Meski Golkar mengaku tetap menghargai keberhasilan duet Prabowo-Gibran saat ini, mereka belum memberikan jaminan tetap akan mengusung pasangan yang sama.
Pernyataan-pernyataan normatif dari parpol koalisi inilah yang kemudian dibaca publik sebagai sinyal bahwa pintu bagi Gibran Rakabuming Raka mulai perlahan tertutup.
Baca Juga: Waspada Bencana Tanah Bergerak Meluas! Pemerintah Siapkan Rencana Relokasi Warga dan Larang Korban Kembali ke Rumah Lama demi Keselamatan
Analis politik Adi Prayitno menilai wajar jika relawan mulai merasa resah.
Menurutnya, pertemuan di Solo menunjukkan adanya upaya koordinasi politik karena melihat tren partai-partai koalisi yang seolah sengaja tidak menyebut nama Gibran.
“Wajar jika muncul tafsir bahwa di lingkungan Pak Jokowi, baik relawan maupun pendukungnya, sudah mulai gelisah karena tidak ada nama Gibran dalam nominasi yang disodorkan partai untuk 2029,” ujar Adi.
Adi juga menyoroti perubahan preferensi politik pasca-Pilpres 2024. Saat ini, Prabowo Subianto memiliki approval rating yang sangat tinggi, mencapai hampir 80%.
Dengan posisi yang sangat kuat sebagai presiden aktif, Prabowo kini memiliki otoritas penuh untuk menentukan sendiri siapa pendampingnya tanpa harus selalu berkonsultasi dengan Jokowi.
“Mungkin dulu Pak Jokowi sangat powerful sebagai presiden, tapi per hari ini kekuatan itu berpindah ke Pak Prabowo,” tambahnya.
Meski demikian, Adi mengingatkan para pendukung Gibran untuk tidak terlalu risau.
Dengan aturan presidential threshold yang kini nol persen, peluang Gibran Rakabuming Raka untuk maju kembali tetap terbuka lebar, baik berpasangan dengan Prabowo maupun maju melalui poros lain.
Kekuatan elektoral Gibran secara mandiri akan menjadi faktor penentu apakah ia tetap akan dipinang kembali oleh Prabowo atau justru menjadi rival politik di masa depan.
Sumber: JawaPos