DEMOCRAZY.ID – Koordinator Kajian Politik Merah Putih, Sutoyo Abadi, melontarkan kritik keras terhadap arah politik dan kedaulatan nasional Indonesia.
Ia menilai Indonesia hingga kini masih berada dalam kondisi “kegelapan” akibat kuatnya pengaruh asing, khususnya Republik Rakyat China (RRC), yang menurutnya masuk secara sistematis dan terstruktur.
Dalam pernyataannya, Sutoyo mengawali dengan ungkapan keprihatinan mendalam.
Ia menyebut kata “astaga” sebagai ekspresi keheranan sekaligus kepedihan melihat kondisi bangsa.
“Astaga, kekuatan gendam apa yang menutup kedunguan penguasa bangsa ini sehingga Indonesia tetap dalam kegelapan,” ujar Sutoyo kepada wartawan, Jumat (30/1/2026).
Menurutnya, Indonesia tidak dalam kondisi merdeka sepenuhnya, melainkan tengah dijajah melalui cara-cara non-militer.
Ia menuding adanya agenda Persatuan Komunis Chung Kuo Internasional Pusat RRC yang dijalankan secara rapi melalui jalur politik, ekonomi, dan kekuasaan.
Sutoyo menyinggung 23 Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang ditandatangani Indonesia dan RRC pasca pembukaan KTT Belt and Road Initiative (BRI) Forum Kedua di Beijing pada 26 April 2019.
Kesepakatan tersebut, menurutnya, menjadi pintu masuk penguasaan strategis terhadap Indonesia.
“Tragis, sadis, dan ironis. Prosesnya berjalan mulus dengan memerankan Presiden Jokowi sebagai boneka dan operator RRC yang menggilas Nusantara,” katanya.
Ia menilai, penjajahan modern tidak lagi memerlukan kekuatan militer atau tangan besi.
Cukup dengan menciptakan ketergantungan elite kekuasaan, mulai dari pusat hingga lapisan terbawah.
“Cukuplah dengan ternak penguasa dari pusat sampai lapisan terbawah. Mereka diberi remah-remah jarahan sumber daya alam sebagai angpao agar tetap patuh dan jinak,” tegasnya.
Lebih jauh, Sutoyo menyebut pengaruh asing tersebut telah masuk ke seluruh sendi kehidupan berbangsa, termasuk ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan (ipoleksosbudhankam).
Ia juga menyoroti kondisi rakyat yang dinilai telah dilemahkan melalui adu domba dan pengalihan isu di media.
“Rakyat disesatkan melalui media. Setiap hari bertarung dengan isu yang berubah per detik, sehingga lupa pada ancaman utama,” ujarnya.
Terkait pemerintahan saat ini, Sutoyo mengaku sempat berharap pada Presiden Prabowo Subianto sebagai pembawa angin segar.
Namun, menurutnya, kondisi belum menunjukkan perubahan signifikan.
“Rekam jejak sebagai penerus Jokowi membuat keadaan belum berubah. Bahkan kini muncul isu baru, Prabowo disebut sebagai antek asing,” katanya.
Ia menutup pernyataannya dengan nada pesimistis, menilai dominasi asing berlangsung semakin leluasa sementara penguasa dan masyarakat tetap tak berdaya.
“Astaga, begitu leluasa Persatuan Komunis Chung Kuo Internasional Pusat RRC menguasai Nusantara, sementara penguasa dan kita semua tetap limbung, tuli, dan buta,” jelas Sutoyo.
Sumber: JakartaSatu