Virus Nipah Jadi Sorotan Global, Mungkinkah Jadi Pandemi Seperti Covid-19? Ini Penjelasan Pakar!

DEMOCRAZY.ID – Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap virus Nipah, muncul kekhawatiran publik.

Virus Nipah adalah virus zoonosis (menular dari hewan ke manusia).

Biasanya memiki inang (induk) alami dari kelelawar buah dari keluarga Pteropodidae.

Pertama kali ditemukan pada tahun 1999 di Malaysia, saat terjadi wabah pada peternak babi.

Apakah virus ini berpotensi menjadi pandemi seperti Covid-19?

Terkait hal ini, Pakar epidemiologi Dicky Budiman memberikan penjelasan.

Menurut Dicky, meskipun Nipah sangat mematikan, potensinya menjadi pandemi global justru rendah bila dibandingkan virus saluran pernapasan.

Penularan Antar Manusia Sangat Terbatas

Kunci utama yang membedakan Nipah dari virus pandemi adalah pola penularannya. Nipah tidak menyebar secara efisien melalui udara.

“Potensi nipah menjadi pandemi itu tetap rendah dibandingkan penyakit saluran pernafasan seperti SARS-CoV-2. Karena transmisi atau penularan antar manusia ini masih sangat rendah jadi harus kontak dekat,” ungkap Dicky pada keterangannya, Senin (26/1/2026).

Penularan biasanya terjadi melalui kontak erat dengan cairan tubuh, terutama dalam perawatan pasien atau hubungan keluarga dekat.

Bukan Virus Airborne

Berbeda dengan COVID-19 atau influenza, Nipah tidak termasuk virus airborne yang mudah menyebar di ruang publik.

“Tidak menyebar lewat udara secara efisien, jadi ya potensi menjadi pandemi kecil ya,”imbuhnya.

Hal ini membuat wabah Nipah cenderung bersifat klaster lokal atau sporadis, bukan penyebaran luas lintas negara.

Kondisi di Indonesia

Hingga saat ini, Indonesia belum melaporkan adanya kasus Nipah pada manusia. Namun, Dicky menegaskan bahwa kewaspadaan tetap penting, mengingat virus ini memiliki reservoir alami di kawasan Asia Tenggara.

“Sampai saat ini kan tidak ada bukti kasus di Indonesia,”lanjutnya.

Meski demikian, keberadaan antibodi Nipah pada populasi kelelawar menunjukkan potensi risiko yang perlu diawasi secara berkelanjutan.

Pencegahan Jadi Kunci

Dicky menekankan bahwa penguatan sistem surveilans, deteksi dini, serta pengawasan di pintu masuk negara menjadi langkah penting untuk mencegah masuknya kasus.

“Awareness ya, surveillance penyakit zoonotik dan peningkatan laboratorium atau klinik ini menjadi sangat penting,”imbaunya.

Selain itu, pengendalian kontak antara manusia dan hewan, khususnya di wilayah dengan populasi kelelawar tinggi, juga menjadi bagian dari strategi pencegahan.

Kesimpulannya, virus Nipah memang berbahaya, namun tidak perlu disikapi dengan kepanikan berlebihan.

Dengan kewaspadaan sistem kesehatan dan kesadaran masyarakat, risiko wabah lokal dapat ditekan.

“Potensi pandemi sistemik lebih rendah dibandingkan virus airborne, tapi tentu perlu satu kewaspadaan,”tutupnya.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya