DEMOCRAZY.ID – Dunia tampaknya akan kembali diguncang ketegangan setelah China dan Pakistan disebut mengancam akan meluncurkan serangan nuklir terhadap Israel jika negara itu menggunakan senjata pemusnah massal terhadap Iran.
Ancaman tersebut mencuat di tengah kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Pakistan, menyusul konflik berkepanjangan di kawasan .
Aktivis politik sekaligus pendiri program The Young Turks, Cenk Uygur, dalam wawancara dengan Piers Morgan, Rabu (8/4/2026) menyampaikan peringatan serius.
“China dan Pakistan mengatakan bahwa jika Israel mengebom Iran dengan nuklir, mereka akan mengebom Israel,” ujarnya.
Pernyataan itu muncul setelah kontroversi di sebuah acara televisi Israel, ketika jurnalis Shimon Riklin mengusulkan penggunaan bom neutron terhadap Iran.
“Mengapa kita tidak menggunakan yang disebut bom atom neutron di Iran? Itu jenis bom atom yang tidak merusak bangunan, tapi membunuh orang di mana-mana secara terbatas,” kata Riklin.
Menteri Keamanan Nasional Israel yang hadir dalam diskusi tersebut, merespons singkat.
“Saya anggota kabinet, tanggung jawab saya sangat besar,” ujarnya sambil tersenyum.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan penangguhan serangan terhadap Iran selama dua minggu setelah berbicara dengan Perdana Menteri Pakistan dan pejabat militer Pakistan.
“Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Field Marshal Asim Munir, serta permintaan mereka agar saya menunda kekuatan destruktif yang akan dikirim malam ini ke Iran, saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu,” tulis Trump.
Kesepakatan tersebut diharapkan membuka ruang diplomasi guna meredakan ketegangan.
Namun, munculnya ancaman penggunaan senjata nuklir membuat situasi global dinilai berada dalam kondisi sangat genting, dengan risiko eskalasi yang dapat berdampak luas terhadap stabilitas kawasan maupun dunia.
Sumber: Akurat